Jangan Menunda Pekerjaan

Ayat bacaan: Pengkotbah 11:6
============================
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”

jangan menunda pekerjaan, tetap semangat, bekerja dengan giat

Beberapa hari ini pekerjaan rasanya begitu menumpuk. Saya merasa sangat lelah. Tadi sore saja ketika saya mengajar di kelas untuk ketiga kalinya dalam hari ini, nafas saya sudah tersengal-sengal. Mata rasanya perih, sulit konsentrasi dan fokus pada sesuatu. Yang lebih mengesalkan, sesampainya di rumah nanti pun saya masih harus mengerjakan banyak hal. Ada beberapa pekerjaan menanti dan seharusnya diselesaikan malam ini juga. Ketika di jalan pulang pun saya mengendarai mobil ekstra hati-hati, karena saya tahu konsentrasi saya sedang lemah. Di kampus saya sempat berpikir untuk langsung tidur setelah pulang ke rumah agar stamina saya bisa kembali meningkat. Saya sudah merencanakan untuk menunda pekerjaan saya di depan komputer malam ini hingga besok. Tapi di jalan, saya tiba-tiba diingatkan akan ayat yang saya jadikan ayat bacaan di atas. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkotbah 11:6). Sejenak saya sempat bertanya, apakah Tuhan tidak tahu kalau saya sedang mengalami keletihan yang luar biasa? “Tuhan, saya ingin istirahat…, please..I’m exhausted.” itu yang saya katakan, namun ayat ini kembali hadir dalam hati saya. Kemudian saya sempat berpikir, apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat ini. Apakah ayat ini bermaksud agar kita semua menjadi workaholic akut alias orang-orang gila kerja? Apakah kita diminta untuk fokus pada pekerjaan dan menomorduakan keluarga bahkan Tuhan?

Tidak. Tidak demikian. Saya mendapat pencerahan dari Roh Kudus. Apa yang dimaksud pada ayat itu adalah sebuah peringatan agar kita tidak menunda-nunda pekerjaan. Mengapa demikian? Karena kemampuan kita terbatas untuk mengetahui yang mana yang akan berhasil, atau bahkan kedua-duanya sama baik. Pekerjaan saya memang beragam. Yang mana yang akan berhasil? salah satu atau keduanya? Kita tidak akan pernah tahu kapan berkat Tuhan turun atas kita lewat pekerjaan yang kita lakukan. Alangkah ironisnya jika berkat Tuhan itu lewat begitu saja hanya karena kita menunda pekerjaan kita. Saya juga diingatkan bahwa Tuhan telah mencukupkan segala-galanya bagi saya untuk mampu bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak ada alasan untuk mengeluh, karena toh saya tidak bekerja dengan kekuatan saya sendiri. Ada Tuhan yang selalu bersama saya yang siap setiap saat untuk menopang dan meneguhkan semangat saya. Apa yang harus saya lakukan sangat jelas: komitmen dan semangat untuk terus menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Itu bagian saya. Then let God do His part.

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10) Ayat ini juga mengingatkan kita agar kita bekerja sungguh-sungguh dengan semampu-mampunya kita. Idealnya adalah menganggap apapun yang kita kerjakan seperti mengerjakannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Bagaimana dengan keletihan yang saya alami? Ada Tuhan Yesus yang sanggup meringankan kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28).

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan pekerjaan saya malam ini. Ternyata saya masih punya cukup tenaga, bahkan lebih dari cukup hingga saya masih mampu menulis renungan ini dengan penuh sukacita. Pekerjaan sebanyak apapun tidak seharusnya membuat kita menomorduakan Tuhan. Saya percaya Tuhan menghargai setiap jerih payah anak-anakNya yang tulus melayani Dia bukan karena hal-hal keduniawian tapi semata-mata karena mengasihiNya. Apa saya masih merasa letih saat ini? Begini yang saya rasakan: jika saya rebah di tempat tidur setelah ini, saya tahu saya akan tidur nyenyak dengan seuntai senyum di bibir, karena saya berhasil menyelesaikan pekerjaan, tidak jadi menundanya, dan terlebih karena Tuhan ternyata ada bersama saya dan menopang dan memberi kekuatan. Haleluya!

Tuhan tidak suka orang yang malas. Bahkan dengan tegas dalam Yeremia dikatakan: “Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai” (Yeremia 48:10). Di dalam segala hal, dalam keadaan sulit atau letih sekalipun, jangan pernah melupakan puji-pujian akan Tuhan. Karena kemudian Roh Tuhan akan berkuasa atas kita, dan memampukan kita melakukan segalanya dengan penyertaan Tuhan. “Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau.” (1 Samuel 10:6-7). Tetap lakukan apa yang menjadi tugas kita dengan penuh semangat. Jangan pandang pekerjaan menumpuk sebagai beban menyiksa, namun pandanglah itu sebagai sebuah berkat dari Tuhan. Apakah salah satu pekerjaan akan berhasil, atau kedua-duanya, itu bukan menjadi masalah kita. Biarlah Tuhan yang memutuskan. Yang saya tahu pasti, jika kita rajin membaca, merenungkan dan melakukan firmanNya, Dia akan memberkati segala pekerjaan yang kita lakukan, dan apa saja yang kita buat akan berhasil. (Mazmur 1:2-3)  Do your part by doing your best in all your works. Jangan biasakan menunda pekerjaan. Dan lihatlah bagaimana luar biasanya Tuhan memberkati pekerjaan anda.

Jangan menunda pekerjaan, tapi giatlah bekerja hingga selesai

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply