Jamur Beracun

Ayat bacaan: Yakobus 1:15-16
=============================
“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”


jamur beracun, keinginan daging, dosa

Sebuah pelajaran menarik pernah diberikan oleh seorang teman yang berasal dari Swedia ketika saya berkunjung kesana sekian tahun yang lalu. Saya ingat betul saat itu jamur tumbuh dimana-mana dan bisa dipetik secara gratis. Satu hal yang penting diketahui, tidak semua jamur bisa dimakan! Salah-salah petik dan makan bisa berakibat kematian, sebab ada banyak jenis jamur yang mengandung racun mematikan. Teman saya yang sudah bisa membedakan jamur karena sering memetiknya mengatakan bahwa semakin indah dan warna-warni jamurnya, maka jamur itu akan semakin mematikan racunnya. Saya tertegun, karena justru keindahan warna jamur itu terkadang justru yang membuat saya tertarik.

Demikian halnya dengan dosa. Dosa seringkali hadir dari sesuatu yang kelihatannya indah dan menyenangkan. Kita bisa tertarik pada jebakan dosa lewat hal-hal yang mungkin bisa memberi kepuasan/kenikmatan instan. Semua itu terlihat menyenangkan, padahal itu hanyalah semu dan pada akhirnya menjerumuskan kita pada dosa yang berujung maut. Lari pada obat-obat terlarang karena stres, korupsi karena tergiur silau harta, perselingkuhan/perzinahan dan sebagainya, semua itu mungkin terlihat menyenangkan, namun semua itu adalah dosa yang mematikan. Just like the beautiful but deadly poisonous mushroom. Seperti jamur yang mungkin terlihat indah memikat tapi mematikan.

Yakobus mengajarkan bahwa keinginan yang tidak bisa kita kendalikan akan menyeret kita ke dalam pusar kesesatan. Ketika keinginan itu berhasil memikat kita, dosa pun hadir, dan seiring berjalannya waktu, dosa itu pun akan matang dan melahirkan maut. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:15-16). Dosa biasanya membutuhkan waktu hingga kita merasakan dampaknya. Awalnya nikmat, namun berakhir maut. Keinginan-keinginan daging seperti apa saja yang bisa menjadi jebakan “beracun” ini? Paulus menuliskannya dalam suratnya untuk jemaat Galatia. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:19-21). Terhadap segala keinginan daging ini, kita harus berhati-hati agar tidak terseret ke dalam jurang kesesatan yang berujung maut.

Tuhan menganggap dosa sebagai “kejijikan yang Aku benci” (Yeremia 4:44). Dosa inilah yang menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan Allah. “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Maka begitu luar biasalah kasih Tuhan pada kita ketika Tuhan menganugerahkan Kristus untuk datang ke dunia dan menebus segala dosa kita di atas kayu salib, sehingga hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan dan kita dilayakkan untuk menerima janji-janjiNya. Tuhan sangat mengasihi kita dan sangat peduli pada keselamatan kita. Dia tidak ingin satupun dari kita harus berakhir ke dalam kegelapan yang sangat menyiksa untuk selamanya. Maka dari itu, hendaklah kita jangan bermain-main dengan dosa. Selalu hindari dosa sejak dini, waspadalah terhadap segala sesuatu keinginan yang berasal dari daging sebelum terlambat.

Seperti jamur yang kelihatannya indah namun beracun, seperti itulah dosa yang matang akibat keinginan daging

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply