Iri Hati (1) : Jangan Sepelekan Perasaan Iri

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

iri hati, keinginan daging

Malam ini saya teringat sebuah pengalaman lumayan seru yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu istri saya masih menempati sebuah kamar kos, dan ketika ia pulang, ternyata ia mendapati seekor ular di depan kamarnya. Saya pun datang kesana, dan teman-teman sekosnya ikut heboh. Tidak ada yang berani memastikan apakah ular itu berbisa atau tidak, sehingga semuanya terlihat bingung bagaimana mengatasinya. Untunglah ada seorang teman yang berani, ia mengambil tongkat dan secara perlahan memindahkan ular ke dalam karung. Untunglah ular itu masih di depan kamar. Bagaimana jika sempat masuk dan bersembunyi di sudut-sudut ruangan? Tentu tidak ada yang menginginkan ada ular dari spesies yang tidak jelas berbisa atau tidak, hadir di dalam rumahnya. Orang akan merasa takut jika ada benda atau mahluk hidup yang punya potensi membahayakan masuk ke dalam rumahnya, artinya masuk ke dalam kehidupannya. Namun banyak yang lupa bahwa ada pula dosa yang mungkin tidak terlihat nyata sebagai sebuah dosa, tapi bisa diam-diam menyelinap ke dalam hidup dan kemudian bisa menyerang dan akibatnya mematikan. Yang saya maksud adalah dosa iri hati.

Iri hati adalah sebuah perasaan tidak puas yang timbul akibat keuntungan atau kesuksesan orang lain. Iri hati membuat orang merasa tidak nyaman ketika ada orang lain yang lebih darinya. Hal ini rasanya sepele, mungkin kita alami sehari-hari, mungkin tanpa sadar kita rasakan, seolah-olah hanyalah sebuah ungkapan kekesalan sesaat yang alamiah, manusiawi dan tidak berbahaya. Kita cenderung memaklumi perasaan iri hati sebagai sesuatu yang wajar, Tapi berhati-hatilah. Iri hati adalah racun dari iblis yang mampu mengubah kasih menjadi kebencian, menghilangkan kasih dan akibatnya melumpuhkan iman dalam kehidupan kita.

Ayat bacaan hari ini berkata “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Artinya iri hati akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Perbuatan jahat apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang terbuka ini? Banyak sekali, mulai dari “sekedar” cemburu, depresi hingga pembunuhan. Pembunuhan adalah akibat fatal yang diawali dari iri hati yang pertama kali dicatat. Kita lihat apa yang terjadi ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya “kalah”. Hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. Apa kata Tuhan melihat Kain? Mari kita lihat ayat 7. Ini kata Tuhan: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tuhan tidak berkata, “Kain, itu adalah hal yang wajar, santai saja..” Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: “Kain, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Kain menyerah pada roh jahat, dan berawal dari iri hati, ia membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah, akibat dan konsekuensi yang timbul berawal dari iri hati yang dicatat alkitab.

Iri hati jelas adalah masalah yang serius, yang harus kita singkirkan sepenuhnya, secepatnya , tanpa kompromi. Mari kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap “lebih serius” seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sadarilah betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena jaman ini akan dibawa pada kesudahannya. Paulus mengatakan: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:12-13). Yes, it’s time to wake up. Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa kegelapan pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita lewat hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14). Mari kita perlakukan sikap iri hati yang hendak masuk ke dalam diri kita dengan tindakan yang sama seperti memperlakukan seekor ular kobra yang hendak masuk ke rumah kita.

Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply