Introspeksi dan Evaluasi

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”

evaluasi, introspeksi, berdoa, memperhatikan cara hidup

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti rapat sebuah komunitas jazz di kota saya. Rapat itu mengenai evaluasi bagaimana perjalanan dan penampilan mereka di sebuah event jazz besar di negeri ini. Apa yang sudah dicapai, apa yang dirasa masih kurang, dan apa harapan ke depan. Itu intinya. Betapa pentingnya sebuah proses evaluasi dalam sebuah lembaga, apakah itu komunitas, perusahaan atau organisasi. Langkah-langkah perbaikan bisa disusun agar bisa lebih baik lagi ke depannya, dan strong point atau kekuatan yang sudah ada selama ini bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Evaluasi seperti ini juga sangatlah baik dilakukan oleh kita masing-masing. Adalah sangat baik jika kita rajin mengevaluasi apa yang sudah kita capai dalam hidup kita, mengetahui apa yang masih menjadi titik lemah kita, agar kita bisa memperbaikinya. Sebuah introspeksi, itu biasanya sebutan buat kita yang menganalisa atau mengevaluasi pencapaian kita selama ini.

Introspeksi menjadi bagian hidup saya selama beberapa tahun belakangan ini. Terutama setelah saya menikah, terlebih setelah situs musik saya menanjak naik dan aktif dalam pelayanan, baik di Gereja maupun di renungan harian yang setiap hari saya tulis. Saya merasa penting untuk terus introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, seorang pengajar dan pemilik sebuah situs yang mengalami peningkatan signifikan selama bulan-bulan terakhir ini. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi pengajar yang baik, peka terhadap siswa, menjadi seorang teman yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin mengelola situs dengan baik dan serius, karena segala kesuksesan disana adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. Saya ingin melayani lebih baik lagi, bisa memberkati lebih lagi lewat pelayanan saya. Do my best in every aspects of life, itu intinya, dimana segala sesuatu yang saya perbuat, mudah-mudahan bisa terus memuliakan Tuhan di atasnya. Saya sadar betul bahwa saya masih jauh dari sempurna. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah introspeksi, mengevaluasi diri, melihat apa yang sudah saya capai, dimana kelemahan saya dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Untuk jemaat Efesus, Paulus berpesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (ay 16). Jika hari-hari waktu itu adalah jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”(Matius 26:41).

Semua pencapaian kita bisa sia-sia seketika jika kita akhirnya jatuh ke dalam dosa kedagingan. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Galatia 3:3-4). Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.

Tetaplah bertumbuh dan memperbaiki diri hingga kedatangan Yesus kedua kalinya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply