Integritas, Ketulusan dan Kerendahan Hati

KAUM Farisi dan ahli Taurat dikenal sebagai pemuka agama yang sangat memahami hukum Taurat. Namun sayangnya mereka sendiri tidak mengamalkannya di dalam keseharian hidup mereka. Peraturan yang mereka buat hanya membebani orang banyak. Dan kesalehan lahiriah yang mereka tampilkan, ditujukan untuk memperoleh pujian, penghormatan dan perlakuan istimewa dari orang sekitarnya.

Yesus mengecam cara hidup mereka yang penuh dengan kemunafikan dan kita diminta untuk tidak menirunya. Kita dituntut untuk menghidupi dan mewujudkan iman kita ke dalam tindakan nyata, bukan hanya sebatas perkataan saja. Untuk itu kita harus memiliki integritas dan komitmen yang tinggi, agar dapat terus menerus setia dalam menyelaraskan pikiran, perkataan dan tindakan kita dengan kehendakNya.

Sebagaimana Yesus sendiri datang ke dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani, maka sebagai murid-muridNya hendaknya kita mengikuti jejakNya. Sadari bahwa Tuhan tidak menilai seberapa hebat dan sukses pelayanan kita, Ia melihat kemurnian hati kita. Kita dapat mengecoh sesama dengan tindakan kita yang begitu mempesona, tapi kita tidak pernah dapat membohongi Tuhan. Oleh sebab itu, mari renungkan, apakah selama ini kita melayani dengan berlandaskan motivasi yang baik dan benar, yakni melayani dengan tulus, rendah hati dan penuh kasih? Bila belum, mari bertobat dan perbaiki sikap kita.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: