Insiden Hosti di Gereja Bintaran Yogyakarta: Pelaku Sudah Biasa Main ke Kompleks Gereja (4)

< ![endif]-->

Pengantar Redaksi: 

Romo EG Willem Pau Pr, putra asli Magelang dan alumnus Seminari Mertoyudan Magelang tahun masuk 1976, memberi beberapa catatan penting untuk memahami “insiden hosti” di Gereja Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Catatan ini kami anggap penting supaya bisa mendudukan perkara pada porsinya dan tidak perlu ‘lebay’ meretas informasi tentang insiden itu ke ranah lainnya yang kurang relevan.

Romo EG Willem Pau Pr sekarang ini adalah Pastur Kepala Paroki Gereja Santo Yusuf Bintaran Yogyakarta. Sedangkan Romo Bagya Pr adalah ‘pastur tamu’ dan kebetulan memberikan asistensi parokial dengan pelayanan ekaristi di Gereja Paroki Bintaran pada kesempatan misa hari Sabtu (9/11) petang. Sekalipun tercatat sebagai pastur pembantu di Paroki Bintaran, namun Romo Bagya Pr punya tugas khusus untuk pengelolaan pastoral di Paroki Administratif Pringgolayan yang dulunya merupakan salah satu stasi Paroki Bintaran Yogyakarta.

 —————————-

Pertama, yang secara psikis sedang mengalami gangguan kejiwaan alias ‘gila’ memang tidak selalu harus tampil gila. Sudah bertahun-tahun lamanya, meski Sapta –sang pelaku nggaplok Romo Bagya Pr—ini  tidak katolik, namun dia sudah sangat biasa nimbrung di acara-acara yang diselenggarakan di Kompleks Gereja Bintaran. “Ketika dia masuk ke dalam ruangan Gereja pun,  petugas keamanan juga jadi lengah dan kita-kita semua tidak  mengira kalau Sapta akan berbuat ‘ulah’ seperti itu,”.

Kedua, menurut keluarganya, tiga bulan lalu Sapta baru saja keluar dari sebuah rumah sakit jiwa setelah dua kali berhasil mendapatkan paket pengobatan.  Jadi, ya sudah agak sembuh gitu. Tapi, sekitar dua bulan yang lalu, ketika ada gejala kambuh, keluarganya berinisiatif mau  membawa ke RSJ. Namun, proses ini tidak berhasil karena kendala biaya. Jadi, ‘kegilaan’ Sapta dengan berani nggablog romo saat misa dan khususnya membagikan komuni itu terjadi karena efek ‘tidak sadar’ akibat tidak minum obat selama beberapa pekan terakhir ini.

Ketiga, yang bersangkutan bukan warga wilayah Bintaran.

Keempat, Gereja Paroki Bintaran Yogyakarta itu menganut pelayanan  terbuka untuk warga dari mana saja. Makanya, ketika terdengar keluarga Sapta mengalami kesulitan biaya berobat, ya otomatis tidak terdaftar di Paroki Bintaran, sekalipun Gereja Bintaran memberi pelayanan kesehatan bagi yang katolik maupun non katolik. Barulah, ketika terjadi insiden nggablog Romo Bagya hingga hostinya jatuh berhamburan di lantai, Paroki Bintaran baru tahu keluarga mengalami kesulitan membiayai pengobatannya.

Polisi sudah ikut membantu dan mengantar Sapta untuk mendapatkan pengobatan lagi.

Kosa kata bahasa Jawa

Semula ditulis dengan judul berita ‘meninju’.

Ini tidak tepat, karena yang sejatinya terjadi adalah bukan perbuatan “meninju” (pakai tangan mengepal); juga bukan “nempeleng” dan apalagu juga bukan juga “ngantemi” (memukul berulang-ulang).

Tapi nggablog dengan mengayunkan sabetan kepalan tangan terbuka ke arah punggung Romo Bagya Pr yang tengah membagikan komuni.

Mungkin kosa kata bahasa Jawa yang sangat pas yakni nggablog itu tadi bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata ‘nggaplok’.

Biasanya, nggablog atau nggaplok punggung teman itu hanya dilakukan kalau di antara kedua orang itu sudah saling kenal dan akrab. Nah, persoalanya yak arena lokasi penggaplokan itu terjadi pada saat misa dan komuni lagi.

Ketika ayunan sabeta tangan yang lagi nggaplok punggung ini terlalu keras, makanya Romo Bagya lalu tersungkur jatuh dan hosti pun berhamburan. Sebenarnya banyak umat yang tidak tahu insiden ini, meski dalam sekejap beberapa umat dan petugas tata tertib segera bertindak cepat merespon situasi ini.

Yang langsung emosional ya ada. Namun semua bisa kita manage dengan baik dan terkendali bagus.

Tidak ada korelasi apa pun antara gambar di kaos T-Shirt yang dipakai Sapta dengan ‘ulah’nya itu. Saya juga tidak ragu mengatakan, tidak ada motif untuk misalnya melakukan pelecehan agama.

Sepulang dari visum di RS Panti Rapih, Romo Bagya langsung naik motor pulang ke Pasturan. Beliau tidak tinggal di Pasturan Gereja Bintaran.

Romo BYL Subagya Pr ini resminya menjadi pastur pembantu di Gereja Paroki Santo Yusup Bintaran, namun mendapat tugas khusus  melayani kebutuhan pastoral di Paroki Administratif Pringgolayan dan tinggal menetap di Pasturan Pringgolayan.

Paroki Administratif Pringgolayan dulunya merupakan salah satu Stasi di Paroki Bintaran. Jadinya, merupakan ‘pecahan’ dari Paroki Santo Yusup Bintaran.

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: