Insan Muda, Setia “Kawan”: Cara Murid SMA Xaverius 4 Palembang Mengolah Rasa

Dinamika kelompok bersama Sr. Mikhaela FCh.

BANYAK cara dapat dilakukan untuk menggali dan menguatkan pengalaman rohani dalam Masa Prapaskah ini. Pantang dan puasa merupakan wujud nyata dari olah rohani yang dijalankan oleh warga Gereja setiap tahunnya.


Namun di luar itu, kegiatan doa dan renungan juga tidak kalah pentingnya untuk dilakukan dalam rangka memberi makna pada setiap Masa Prapaskah.


Sebagai bagian Gereja semesta, SMA Xaverius 4 Palembang pun hendak mengisi dan memaknai Prapaskah tahun ini dengan beberapa kegiatan bagi para siswa-siswi Katolik dan didampingi oleh beberapa guru.


Bertempat di kompleks Gereja Paroki St. Petrus, Kenten, 17 Maret 2018, kegiatan yang digelar berupa ibadat Jalan Salib, rekoleksi, dan perayaan ekaristi.


Diakon Ongko sebagai pendamping rekoleksi siswa-siswi SMA Xaverius 4 Palembang, 17 Maret 2018.

Lebih setia kawan


Rekoleksi ini dipandu oleh Diakon Ongko dan mengambil tema “Insan Muda,  Setia “Kawan”.


Dengan tema tersebut, diakon yang bertugas di Seminari Menengah St. Paulus ini mencermati karakter khas insan muda dalam pergaulan setiap hari, yaitu sifat setia kawan.


Remaja identik dengan kekompakan demi kesetiakawanan.


Setia kawan inilah yang digunakan sebagai pintu masuk untuk menggali dan menguatkan pengalaman rohani melalui tema APP tahun ini “Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan Ciptaan.”


Drs. N. Suseno, Kepala Sekoolah SMA Xaverius 4 membuka rangkaian kegiatan rekoleksi sekolah di Paroki St. Petrus, Kenten.

Keberadaan kaum muda tidak boleh diabaikan dalam mengambil sikap terhadap keprihatinan dunia saat ini.


Kaum muda adalah generasi pemilik dan penerus karya cinta kasih Allah. Keutuhan ciptaan harus senantiasa dijadikan landasan bagi kelangsungan generasi mendatang.Secara konkret, peserta rekoleksi diajak untuk melihat sesama dan lingkungan sebagai “kawan” yang harus diberi perhatian lebih untuk saat ini.


Solidaritas kepada sesama sebagai Citra Allah harus dinyatakan dengan kemampuan dan tindakan melihat kebaikan-kebaikan yang ada. Manusia itu mencerminkan kebaikan dan cinta kasih Allah sendiri. Maka, apa yang kita perbuat bagi sesama sesungguhnya kita perbuat juga bagi Allah.


Thomas, salah seorang peserta ketika diminta menyampaikan kebaikan yang dimiliki teman dan dirinya sendiri

Manusia hidup tidak dapat lepas dari lingkungan. Keprihatinan saat ini yaitu semakin menurunnya kualitas lingkungan tempat tinggal kita. Aneka bencana lingkungan yang terjadi beberapa waktu yang lalu di berbagai tempat, serta perubahan cuaca yang ekstrem menjadi pertanda ada ketidakberesan yang harus diperhatikan.


Dalam hal ini, manusia dipanggil untuk terlibat dalam mengatasi persoalan itu. 


Bijak dan cermat menggunakan air


Satu hal yang dapat dijadikan landasan sebagai wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan adalah dengan lebih bijak dalam pemanfaatan dan penggunaan air. Air merupakan elemen dasar dari kehidupan manusia. 75 % tubuh manusia itu terdiri dari air.


22 Maret adalah Hari Air Sedunia.


Momen ini  dipakai sebagai sarana untuk menyadarkan betapa pentingnya air, sekaligus mengingatkan akan adanya bahaya yang sedang mengancam kehidupan manusia karena semakin menurunnya ketersediaan air untuk kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.


Tanpa disadari ternyata ada banyak pola hidup manusia yang tidak ramah terhadap air dan bersumber dari satu sikap dasar, yaitu pemborosan.


Setiap hari sesungguhnya banyak air terbuang sia-sia karena tidak dimanfaat dan digunakan secara efektif, misalnya sering terjadi kran air terbuka sehingga air tertumpah dalam waktu yang cukup lama, penggunaan berbagai bahan kimia (untuk keperluan rumah tangga dan industri) yang menimbulkan pencemaran air.


Melihat kondisi tersebut, kaum muda harus punya inisiatif, karena air itu juga “kawan” yang sedang menderita.  Untuk itu, peserta rekoleksi diberi tugas untuk menemukan tindakan konkret yang dapat dilakukan setiap hari agar lebih bijak dalam memanfaatkan dan menggunakan air.


Perayaan Ekaristi bersama Romo . Hari Subekti SCJ.

Dalam memanfaatkan teknologi komunkasi, maka pada kegiatan rekoleksi ini, peserta diminta untuk mengingatkan kepada sebanyak mungkin orang untuk lebih peduli dan setia kawan terhadap air.


Mereka ditugaskan untuk membagi aneka informasi tentang air dan pemanfaatan serta penggunaan melalui aplikasi WA kepada minimal 3 orang. Dengan tindakan ini, setidaknya banyak orang ikut diingatkan dan disadarkan untuk menyelamatkan air.


Aloysius Kristiawan

Guru Pendidikan Agama Katolik di SMAK Xaverius 4 Palembang.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: