Ayat bacaan: Ulangan 32:11
===================
“Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya”

induk rajawali

Tepat di depan rumah saya ada seorang bapak sedang mengajari anaknya naik sepeda roda dua. Ia dengan sabar dan telaten menuntun anaknya perlahan. Sesekali ia mencoba melepas pegangan dan membiarkan anaknya mengayuh, dan begitu si anak kelihatan oleng ia dengan cekatan menopang anaknya. Saya menyaksikan sang ayah yang sedang mengajar anaknya naik sepeda tersebut ketika saya hendak menuliskan renungan, dan saya pun tersenyum. Tidaklah mudah untuk belajar naik sepeda roda dua, terutama ketika masih kecil dimana kaki belum cukup panjang untuk menjejak ketika sepedanya oleng. Itu butuh keseimbangan dan memerlukan proses dalam latihan. Jatuh ketika belajar seimbang biasa terjadi, dan itu bisa jadi sakit rasanya. Tapi saya membayangkan sebentar lagi anak ini akan senang karena ia bisa bermain lebih jauh bersama teman-temannya karena sudah bisa naik sepeda.

Cara sang ayah melatih anaknya ini mengingatkan saya kepada cara Tuhan melatih kita, anak-anakNya. Lihatlah ayat berikut ini: “Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya.” (Ulangan 32:11). Ayat ini berbicara mengenai cara Tuhan mendidik umatNya bagaikan induk rajawali yang ingin melatih anak-anaknya agar bisa terbang. Burung rajawali mengasuh anaknya dengan cara yang unik. Hingga usia tertentu induk akan terus keluar mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Anak-anaknya bisa dengan nyaman tinggal di sarang tanpa perlu bersusah payah. Tapi pada saatnya ketika mereka dirasa sudah cukup dewasa, sang induk akan segera mengajar anak-anaknya untuk belajar terbang dan mencari makan sendiri. Tidak jarang sang induk harus mengguncang sarang agar anak-anaknya mulai bergerak keluar. Sarang dibongkar hingga yang tinggal hanyalah lapisan kasar penuh duri, lalu si anak akan diterjunkan ke bawah. Mau tidak mau anak-anak rajawali inipun akan mulai mengembangkan sayap dan melatih otot-otot mereka agar dapat terbang. Pada mulanya tentu sulit. Anak-anaknya mungkin takut, dan ketika dilepas mereka bisa meluncur cepat menghujam ke bawah. Disaat seperti itu sang induk akan segera menyambar dan membawa anaknya naik kembali. Begitu seterusnya berulang-ulang sampai anak-anaknya bisa terbang sendiri.

Seperti rajawali melatih anak-anaknya terbang, seperti itulah Tuhan melatih anak-anakNya. Akan tiba saatnya dimana Tuhan merasa perlu untuk membongkar segala “sarang” yang membuat kita terlena dalam kenyamanan. Mengapa harus dibongkar? Karena kenyamanan bisa membuat kita menjadi orang-orang yang malas dan semakin jauh dari Tuhan. Kita lupa berdoa, kita mulai terfokus pada harta, kita menjadi manja, malas ke gereja, atau juga malas melayani Tuhan. Buat apa? Toh semua baik-baik saja.. itu mungkin pikir kita. Di saat seperti itulah, karena kasihNya kepada kita begitu besar, Tuhan harus membongkar semua sarang dimana kita biasanya berlindung dan melatih kita untuk terbang tinggi seperti burung rajawali. Prosesnya tidak mudah, dan itu tidaklah nyaman. Kita harus rela keluar dari zona kenyamanan kita dan merelakan diri kita pula untuk dilatih. Tapi itu semua adalah untuk kebaikan kita sendiri juga. Itu bisa menghindarkan kita dari terbuai dalam kenyamanan di balik “sarang” yang bisa berujung pada kematian rohani. Abraham pernah mengalaminya, Musa pun demikian. Abraham harus keluar menuju sebuah tempat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya, melepaskan semua kenyamanan yang sudah ia peroleh selama hidupnya, dan Musa harus rela meninggalkan kehidupan di istana yang mewah untuk kemudian menuntun bangsa Israel yang bandelnya minta ampun dengan menempuh jalan di padang gurun selama 40 tahun. Tapi itulah sebuah proses, yang pada suatu ketika akan berujung pada sesuatu yang indah yang disediakan Tuhan bagi kita.

Seperti induk rajawali yang memaksa anak-anaknya untuk keluar dari sarang dan melatih agar anak-anaknya memiliki otot yang kuat untuk terbang tanpa rasa takut, seperti itulah Tuhan kepada kita. Jika perlu, Dia akan mengguncang kenyamanan kita dan melatih agar otot-otot rohani kita lebih kuat dari sebelumnya. Kita bisa merasa seperti terjun bebas hendak menghujam tanah, tapi pada saatnya Tuhan akan segera menyelamatkan kita sebelum kita membentur tanah keras itu. Itulah hal yang juga dikatakan Paulus kepada jemaat Korintus. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Ada rencana yang indah yang telah Dia sediakan kepada kita, lengkap dengan sebentuk hari depan yang penuh harapan, tapi sebelum kita sampai kesana, kita harus terlebih dahulu rela diguncang dan dilatih apabila perlu. Ini adalah sebuah proses yang tidak enak untuk dilakukan, tetapi akan membawa manfaat besar dalam perjalanan hidup kita, baik ketika masih di dunia maupun kelak untuk sebuah keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah. Si anak kecil yang berlatih sepeda suatu saat akan sangat berterimakasih kepada ayahnya, anak-anak burung rajawali akan berterimakasih punya induk yang tahu apa yang terbaik bagi mereka. Proses yang tengah kita alami mungkin tidak nyaman, tetapi pada suatu saat nanti kita akan bersyukur punya Allah yang begitu peduli kepada kita.

Bersyukurlah ketika sarang kenyamanan kita diguncang dan otot-otot rohani kita dilatih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.