Indonesia di Mata Para Mahasiswa Magang Australia

DSC_9094

DUA hari diguyur hujan deras hingga membuat sebagian kawasan Ibukota Jakarta kebanjiran tak membuat acara Farewell Party yang dibesut oleh The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies Participants (ACICIS) menjadi lengang. Justru sebaliknya, puluhan orang datang menyambangi ballroom Hotel Hermitage di kawasan Menteng, Jakarta Pusat untuk acara cocktail party dengan sejumlah mahasiswa-mahasiswi Australia yang baru saja merampungkan program internship mereka di beberapa kota di Indonesia.

Di tengah hawa sedikit sejuk setelah seharian dihempas hujan deras, suguhan red wine dan white wine ditemani aneka cookies menjadi menu penghangat badan bagi para tetamu yang memenuhi undangan Cultural Consellor Kedubes Australia di Jakarta: Ms. Alison Purnell. Acara yang berlangsung hari Selasa (10/2/2015) malam kemarin dibuka dengan pidato sambutan dari Ambassador-designate of Australia H.E. Paul Grigson.

DSC_9006
Ambassador-designate of Australia H.E. Paul Grigson (Courtesy of ACICIS)

Berikutnya, sambutan datang dari Counsellor of Cultural Ms. Alison Purnell dan akhirnya Ms. Elana Williams selaku Resident Director ACICIS Jakarta. Ketiga pejabat Australia itu intinya mengatakan bahwa kedatangan mahasiswa-mahasiswi Australia dari sejumlah universitas di Benua Kangguru ke Indonesia ini dalam rangka belajar, sembari ingin mengenal lebih jauh Indonesia dan masyarakatnya yang begitu pluralis.

photo 2
Three Australian students shared about their hands-on experience on internship in Indonesia before leaving home to Australia. A farewell party to host these Australian interns was held by the ACICIS in Menteng, Central Jakarta, on 10 February 2015. (Doc. ACICIS)

Kesan positif tentang Indonesia
Tiga orang mahasiswa tampil ke mimbar menyampaikan sambutan dengan isi pokok tentang pengalamannya bersosialisasi dengan budaya dan tata nilai social di Indonesia. Satu mahasiswa berkisah tentang bagaimana dia terkesan dengan keramahtamahan orang-orang Indonesia di Yogyakarta ketika belajar bahasa Indonesia di UGM.

Lalu, satu mahasiswa lain menyambut gembira bisa berkiprah bekerja di lingkungan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta. Terakhir, seorang mahasiswa dari University of Technology di Sydney (UTS) mengaku mendapat kesempatan istimewa bisa mempraktikkan ilmu jurnalistiknya di harian The Jakarta Post selama empat pekan terakhir ini. “Beda cara pandang dan perspektif dalam menulis berita, itulah poin penting yang bisa saya pelajari di Indonesia,” kata mahasiswa UTS di Sydney ini.

DSC_9000
Cultural Counseloor of the Australia Embassy in Jakarta Ms. Alison Purnel. (Doc. ACICIS)

Sebelum acara farewell party kemarin dan pada kesempatan berbeda, tiga mahasiswi Australia lain yakni Candice Chesterfield, Nicole Ng dan Seenying Lau juga mengungkapkan hal sama. Indonesia –kata mereka—adalah negara dan bangsa yang layak mereka kenal dengan lebih baik dan intensif. Mengenal Indonesia berarti mengandaikan perlunya datang dan berinteraksi sosial dengan masyarakat Indonesia.

Menurut ketiga mahasiswa magang di Kantor United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) ini, selain secara territorial dekat dengan Australia, Indonesia dicirikan oleh kekhasannya yang unik yakni masyarakatnya yang pluralis dari sudut etnisitas, bahasa, budaya dan tata nilai sosial. “Dan itulah yang membuat saya ingin datang ke Indonesia dalam waktu dekat ini,” kata Candice, mahasiswa dari Sunshine Coast University di Queensland, Australia, menjawab Sesawi.Net awal pekan lalu. (Baca juga: Lessons Learnt and Hopes Blossom

DSC_9072
Dua mahasiswi Australia bekerja magang di United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) Jakarta –Seenying Lau dan Candice Chesterfield– ikut datang menghadiri farewell party yang dibesut Cultural Section of Australian Embassy dan ACICIS  di Jakarta, Selasa (10/2/2015). (Doc. ACICIS)

Belum lagi, kata Candice, senangnya merajut pengalamannya bisa bertemu muka dan berdialog langsung dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil perihal uban safety dan open space –bidang yang amat disukai Candice dan juga menjadi obsesi Ridwan Kamil dalam upayanya membangun kembali kota Paris van Java ini.

Seenying Lau merasakan gairah yang sama ketika juga bertemu Ridwan Kamil di Bandung awal Februari 2015 bersama dengan Candice. Pun pula Nicole Ng yang mengaku jatuh cinta dengan Lombok, usai berhasil menginjakkan kakinya di Gunung Rinjai dan maak…burr. “It was really freezing time there,” kata gadis yang lahir di Hong Kong dan pernah tinggal di Guadalajara (Meksiko) dan Swiss sebelum akhirnya berlabuh hidup di Sydney, Australia. (Baca juga: Cara Tiga Dara Australia Menghargai Keberagaman Indonesia

DSC_9018
ACICIS’s Resident Director Ms. Elena Williams saat memberi sambutan pada acara farewell party untuk para mahasiswa peserta program ACICIS di Indonesia di Jakarta, Selasa tanggal 10 Februari 2015. (Dok. ACICIS)

Tahun 2015 ini, kata Resident Director Elena Williams, ACICIS resmi merayakan eksistensinya yang ke-20 tahun. Sebuah tonggak sejarah yang meretas benih-benih iklim persabahatan Indonesia-Australia melalui program exchange student di antara kedua negara.

DSC_9053
Penulis bersama para mentor yang membantu para mahasiswa Australia belajar mengenal Indonesia dan masyarakatnya. (Doc. ACICIS)
photo 5
Dubes Australia untuk Indonesia H.E. Paul Grigson bersama ACICIS’ Resident Director Ms. Elena Williams dengan para ‘mentor’ penyedia fasilitasi program magang bagi para mahasiswa Australia di Indonesia. (Doc. ACICIS)

Kredit foto: The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies participants (ACICIS)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: