Indikator

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-7
========================
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Saya pernah membaca sebuah tulisan mengenai tumbuhan indikator. Tumbuhan memiliki sifat dan karakteristik tertentu dan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam pertumbuhannya. Tanaman yang ada di sebuah komunitas atau wilayah tertentu bisa dipergunakan sebagai indikator di lingkungan tersebut, baik untuk melihat ciri atau sifat tanah setempat agar kita dapat menentukan jenis tanaman seperti apa yang bisa diusahakan disana, kandungan jenis logam apa yang ada di area tersebut atau bahkan tanaman bisa pula dipakai sebagai indikator dalam pencemaran lingkungan. Ini semua bisa dipergunakan sebagai bioindikator karena tanaman sudah sangat erat berhubungan dengan habitatnya, apalagi yang sudah lama tumbuh disana. Dalam bekerja kita juga seringkali butuh indikator untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kita selama ini. Indikator merupakan sebuah petunjuk atau acuan yang bisa kita jadikan tolok ukur untuk melihat apakah kita sudah berada pada jalur proses yang benar atau tidak.

Inti dari Kekristenan berbicara soal kasih. Seorang pendeta pernah berkata, apabila Alkitab bisa diperas maka kasih-lah yang akan keluar sebagai sarinya. Lebih dari sekedar menyayangi orang-orang terdekat bagi kita, kasih dalam kekristenan haruslah sanggup menjangkau area yang lebih luas lagi hingga sampai kepada orang-orang yang tidak kita kenal atau bahkan musuh kita. Itu akan mampu menjadi indikator yang membedakan kita dengan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Lantas tingkatan kasih seperti apa yang harus kita miliki? Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Kalau kita diminta untuk mengasihi seperti halnya Yesus mengasihi kita, itu artinya kita harus bisa mencapai sebuah tingkatan yang sungguh sangat tinggi. Kita tahu bagaimana bentuk kasih yang dimiliki Kristus. Dia bukan saja menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat-mukjizat dimana-mana, tetapi kasih yang dimiliki Kristus bahkan membuatnya rela untuk menjalani penderitaan dan kesakitan hingga mati di atas kayu salib. KasihNya mampu menyentuh semua orang, terutama orang-orang berdosa yang dimusuhi atau dikucilkan masyarakat.

Lewat karya penebusanNya kita dianugerahkan keselamatan, sesuatu yang justru diberikan pada saat kita tengah berlumur dosa. Firman Tuhan mengatakan demikian: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Ketika Yesus berkata “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13), ia tidak berhenti hanya pada wacana saja melainkan sudah melakukannya sendiri, menjadikan diriNya sebagai keteladanan secara langsung. Ini artinya kita diminta untuk mencapai sebuah tingkatan kasih yang jauh lebih besar dari pengertian kasih yang kita ketahui sehari-hari. Ada banyak aspek di dalamnya yang bukan hanya sekedar menyampaikan ungkapan rasa cinta, tetapi di dalamnya juga terdapat pengorbanan, kerelaan untuk menderita dan kesanggupan untuk mengampuni. Ini hal-hal yang sungguh tidak mudah untuk dijalankan, tetapi kasih yang memiliki elemen-elemen seperti itulah yang seharusnya menguasai diri kita dan akan menjawab standar kasih menurut Kerajaan Allah tersebut.

Apakah Alkitab memberi indikator kasih agar kita bisa mengetahui sejauh mana kita berjalan dalam kasih hari ini? Tentu saja. Alkitab sesungguhnya telah memberikan indikator-indikator kasih secara sangat terperinci. Kita bisa melihatnya dalam surat 1 Korintus seperti yang disebutkan dengan detail oleh Paulus. Ayatnya berbunyi sebagai berikut:
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). 

Inilah indikator-indikator kasih itu. Kesabaran, kemurahan hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, berlaku sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, mau mengampuni, tidak mendendam, tidak senang dengan kejahatan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tahan menghadapi segala sesuatu, mau percaya akan yang terbaik dari setiap orang, hidup dalam pengharapan tanpa henti dan sabar dalam menanggung segala sesuatu. Dengan adanya indikator-indikator ini kita bisa dengan mudah mengetahui apakah kita sedang atau sudah berjalan dalam kasih atau tidak. Jika kita mulai menyimpan amarah dan dendam, ketika kita selalu merasa iri hati terhadap kesuksesan orang lain, menyombongkan diri, lekas menghakimi, pilih kasih dan sebagainya, itu artinya kita belum memenuhi indikator-indikator kasih yang merupakan sebuah kewajiban bagi orang percaya.

Berat? Sulit? Mungkin ya. Tapi selama kita berjalan bersama Tuhan dan tetap dipenuhi Roh Kudus, kasih Allah akan hidup dalam diri kita. Itulah yang akan memampukan kita untuk memenuhi indikator-indikator kasih di atas. Yohanes pun menghimbau kita sebagai anak-anakNya untuk saling mengasihi. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7). Kita tidak bisa mengaku sebagai anak Allah yang mengenal Bapanya apabila kita tidak memiliki kasih dalam diri kita. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 8). Dan Yohanes pun melanjutkan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (ay 11-12).

Kekristenan sejati akan tergambar dari sejauh mana kasih menguasai hidup kita. Yesus telah mengingatkan kita untuk saling mengasihi, seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. Dan selanjutnya Yesus pun berkata “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yohanes 13:35). Sejauh mana kita menyatakan kasih Kristus kepada dunia akan menjadi indikator apakah kita murid Kristus yang benar atau tidak. Bagaimana dan siapa Kristus akan ter-representasikan dari perilaku dan perbuatan kita dalam hidup. Sebagai contoh yang benar, maka seharusnya cara kita menerapkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari seharusnya mampu menyatakan kemuliaan Allah. Dan itu akan dilihat oleh dunia, sehingga dunia bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang Kristus lewat diri kita. Mari kita periksa sejauh mana kasih menguasai kita hari ini lewat indikator-indikator kasih di atas. Apakah kita sudah berada dalam rel yang benar? Apakah kita sudah berjalan dalam kasih Kristus saat ini?

Indikator kasih akan membuat kita mengetahui apakah kita sedang berada dalam kasih atau tidak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: