Indikator Kasih

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-7
========================
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

indikator kasih

Indikator keberhasilan merupakan sesuatu yang mutlak untuk kita perhatikan. Setiap orang tentu ingin mengetahui apakah yang dikerjakannya berhasil atau tidak. Dalam organisasi, lembaga atau perusahaan pun demikian. Tidak ada orang yang hanya melakukan sesuatu tanpa ingin mengetahui hasilnya. Karena itulah kita mengenal kata indikator atau tolok ukur. Dengan adanya indikator yang kita tetapkan, kita akan bisa melihat apa yang telah kita capai lewat usaha kita selama ini. Indikator bisa berbeda-beda tergantung apa yang menjadi tujuan kita. Apakah kita sudah mengalami peningkatan, memiliki pendapatan yang memadai, mencapai sebuah tingkat sesuai target dan sebagainya, semua ini adalah contoh dari indikator atau tolok ukur yang bisa kita jadikan acuan untuk melihat apakah kita sudah berjalan di rel yang benar atau tidak.

Kekristenan berbicara soal kasih. Saya pernah mengatakan, apabila Alkitab diperas maka kasih akan keluar sebagai sarinya. Inti dasar kekristenan adalah kasih, dan bentuk kasih yang diwajibkan untuk kita miliki jauh lebih besar ketimbang sekedar menyayangi orang-orang terdekat bagi kita. Itulah yang bisa membedakan kita dengan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Tingkatan kasih seperti apa yang harus kita miliki? Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34). Ini sebuah tingkatan yang sungguh tinggi. Kita tahu bagaimana kasih yang dimiliki Kristus. Dia bukan saja menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat-mukjizat dimana-mana, tetapi kasih yang dimiliki Kristus bahkan membuatnya rela untuk menjalani penderitaan dan kesakitan hingga mati di atas kayu salib. Lewat karya penebusanNya kita dianugerahkan keselamatan, sesuatu yang justru diberikan pada saat kita tengah berlumur dosa. Firman Tuhan mengatakan demikian: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Ketika Yesus berkata “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13), ia tidak berhenti hanya pada wacana saja melainkan sudah melakukannya sendiri, menjadikan diriNya sebagai keteladanan secara langsung. Sesuai dengan pesan Kristus, maka kita seharusnya memiliki bentuk kasih Kristus dalam hidup kita. Sebuah tingkatan kasih yang jauh lebih besar dari pengertian kasih yang kita ketahui sehari-hari. Ada banyak aspek di dalamnya yang bukan hanya sekedar menyampaikan ungkapan rasa cinta, tetapi di dalamnya juga terdapat pengorbanan, kerelaan untuk menderita dan kesanggupan untuk mengampuni. Ini hal-hal yang sungguh tidak mudah untuk dijalankan, tetapi kasih yang memiliki elemen-elemen seperti itulah yang seharusnya menguasai diri kita.

Apa saja indikator kasih, yang membuat kita dapat mengetahui apakah kita sedang berjalan dalam kasih atau tidak? Alkitab sesungguhnya telah memberikan indikator-indikator kasih secara terperinci. Kita bisa melihatnya dalam surat 1 Korintus berikut. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Inilah berbagai indikator kasih itu. Kesabaran, kemurahan hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, berlaku spoan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, mau mengampuni, tidak mendendam, tidak senang dengan kejahatan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tahan menghadapi segala sesuatu, mau percaya akan yang terbaik pada setiap orang, hidup dalam pengharapan tanpa henti dan sabar dalam menanggung segala sesuatu. Dengan adanya indikator-indikator ini kita bisa dengan mudah mengetahui apakah kita sedang berjalan dalam kasih atau tidak. Ketika kita mulai memperhitungkan kejahatan yang dilakukan orang lain, ketika kita menyimpan amarah dan dendam, ketika kita selalu merasa iri hati terhadap kesuksesan orang lain, itu artinya kita sedang tidak berjalan dalam kasih.

Selama kita berjalan bersama Tuhan dan tetap dipenuhi Roh Kudus, kasih Allah akan hidup dalam diri kita. Itulah yang akan memampukan kita untuk memenuhi indikator-indikator kasih di atas. Yohanes pun menghimbau kita sebagai anak-anakNya untuk saling mengasihi. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7). Kita tidak bisa mengaku sebagai anak Allah yang mengenal Bapanya apabila kita tidak memiliki kasih dalam diri kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 8). Dan Yohanes pun melanjutkan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (ay 11-12).

Kekristenan sejati akan tergambar dari sejauh mana kasih menguasai hidup kita. Yesus telah mengingatkan kita untuk saling mengasihi, seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. Dan selanjutnya Yesus pun berkata “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Bagaimana Kristus akan tergambar dari perilaku dan perbuatan kita dalam hidup. Sebagai contoh yang benar, maka seharusnya cara kita menerapkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari seharusnya mampu menyatakan kemuliaan Allah. Dan itu akan dilihat oleh dunia, sehingga dunia bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang Kristus lewat diri kita, murid-muridNya. Mari kita periksa sejauh mana kasih menguasai kita hari ini lewat indikator-indikator kasih di atas. Apakah kita sudah berada dalam rel yang benar? Apakah kita sedang berjalan dalam kasih hari ini?

Indikator kasih akan membuat kita mengetahui apakah kita sedang berada dalam kasih atau tidak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply