In Memoriam Romo Martin van Ooij SCJ: Saya Ingin Jadi Imam Misionaris (5)

RIP Romo Antonius Martinus van Ooij SCJ (Ist)

“AKU mau menjadi misionaris seperti Romo,” demikian yang saya katakan kepada beliau saat terakhir berjumpa.


Seperti biasa, dengan senyumnya yang khas, beliau mengapresiasiku.


“Pak Tukijo pasti bangga banget” (Pak Tukijo adalah bapakku dengan nama lengkap Agustinus Tukijo).


Dengan dukungan dari Romo Pan dan konfrater yang lain, maka  saya pun akhirnya meninggalkan Indonesia tanggal 12 Mei 2017 menuju Hong Kong.


Dua rasa sekaligus


Hidup para misionaris telah membakar “hatiku”.


Entah mengapa, saat saya berjumpa dengan seorang misionaris, saya begitu kagum dan bangga. Lalu, muncul kerinduan saya untuk mengikuti jejak mereka.


Benar, seperti yang kualami seperti sekarang ini, ada begitu banyak tantangan yang dihadapi: belajar ahasa dan budaya yang baru.



In Memoriam Romo Martin van Ooij SCJ: Dari Timbunan Tahi, Saya Diangkat (3)


Mengalami “dua rasa sekaligus”: mau melanjutkan atau berhenti?


Saat ada pada situasi itu, memandang lagi para misionaris yang sudah bertahun-tahun meninggalkan negerinya. Maka, saya pun dibuat menjadi bersemangat lagi.


Sudah berjalan 11 bulan hingga sekarang ini, saya sudah “menjadi seorang misionaris” di negeri seberang. Saya mendapat tugas pokok yakni belajar bahasa Cantonese di Hong Kong.


Saya sekarang benar-benar meneruskan “tongkat estafet” almarhum Romo Van OoijSCJ.


Sekarang, saya tidak lagi mengikuti jejaknya menjadi seorang misionaris, tetapi saya sudah mengalami sendiri bagaimana suka-dukanya menjadi seorang misionaris.


Misionaris di zaman kekinian


Menjadi seorang misionaris di zaman sekarang ini rasanya masih sangat relevan.

Dimana pun, Gereja tidak pernah bisa berkata “cukup”, baik di negeriku, maupun di negeri yang lain.Dimana pun Gereja ada, menantikan kesediaan para pelayan-pelayan itu.

Hebatnya, Gereja sudah terbiasa bisa  saling membantu satu sama lain.


Maka, tidak akan pernah sirna kekaguman dan kebanggaanku atas keteladanan dari para misionaris perintis itu.


RIP Romo Martin van Ooij SCJ. (Paroki St. Stefanus Cilandak)

Masih ada misionaris yang melewati tempat-tempat yang sulit. Juga ada, seperti saya, berada di tengah kemegahan dan keramaian kota.


Si misionaris ini, ikut berjalan, naik siuba, naik bis, dan MTR di tengah kerumunan massa itu. Suatu saat, si misionaris ini akan “menggembalakan” dari antara mereka.


Saat ini, kehadirannya “belum dikenali” dan belum bisa “berbuat banyak” …


Romo Van Ooij SCJ, dari tempatku sekarang ini, saya membayangkan betapa banyaknya umat yang melayatmu dan memberikan penghormatan yang terakhir hingga Hari Rabu nanti menuju peristirahatan terakhir di Pringsewu.


Banyak yang bersaksi bahwa dirimu adalah gembala yang baik dari yang muda sampai yang lanjut usia.



In Memoriam Romo Martinus van Ooij SCJ: Pastor Buldoser (4A)


Dirimu telah menjadi hadiah yang indah dari SCJ untuk Gereja Katolik di Indonesia dan India.


Semangat misionarismu harus ada yang meneruskan.


Saya ikut meneruskan dan akan diikuti oleh para ‘Dehonian’ (baca: para imam dan bruder SCJ, editor) muda yang lain.


Percayalah, akan datang silih berganti para misionaris penerusmu.


Tempatnya bisa berbeda, tetapi semangatnya tetap sama, yaitu menjadi “nabi-nabi’ cintakasih dan pelayan pendamaian dalam hati manusia dan masyarakat.


Vivat Cor Jesu – Per Cor Mariae.


Hong Kong, 26 Maret 2018


Pastor Petrus Santoso SCJ – Sou Hei Lohk


Romo Petrus Santoso SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ); tengah tugas belajar bahasa Cantonese di Yale-CLC (Chinese University of Hong Kong).

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply