In Memoriam Romo JB Hari Kustanto SJ: Sederhana dan Tidak Flamboyan

romo hari kustanto sj

PARA saudara,
Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman pribadi saya bertemu dengan almarhum Rm Hari Kustanto.

Tahun 1988 Fr. Hari Kustanto menempuh pendidikan Teologi dan tinggal di Kolsani. Saat itulah saya bertemu dan mengenalnya. Fr. Hari menjadi salah satu pendamping SOLIDARITAS, sebuah kelompok mahasiswa yang mendampingi para petani di Gunung Gambar dan Singkil, Gunung Kidul; dan keluarga tukang becak di perkampungan Terban Yogyakarta. Saya adalah salah satu pendiri dan aktifis SOLIDARITAS sehingga kami menjadi akrab dan sering bertemu, entah dalam rapat-rapat mingguan, maupun dalam kerja di lapangan.

Bagi para mahasiswa saat itu, Fr. Hari adalah sosok frater yang pandai dan enak menjadi kawan berdiskusi tentang segala hal. Beliau bukan tipe frater flamboyan yang hanya dikelilingi para mahasiswi Syantikara, melainkan tipe frater intelektual yang sederhana, dimana kami datang memenuhi dahaga ilmu pengetahuan.

Kami banyak tercerahkan saat berdiskusi dengan beliau atau saat kami sedang membuat analisa sosial. Setiap kali kami berdebat dengan sengit tentang situasi kemiskinan, Fr Hari akan menawarkan kesimpulan yang mencerahkan (status FB salah satu anggota Solidaritas pagi ini adalah: “Selamat jalan sang penyimpul”). Dengan Fr. Hari kami sama sekali tidak berjarak: ngrokok bareng, ngopi bareng, mengunjungi para petani dan keluarga tukang becak. Meskipun demikian, beliau sangat memberi perhatian terhadap kemajuan studi kami yang seringkali terabaikan karena terlalu asyik dengan aktifitas sosial dan acara diskusi.

Beliau sangat senang saat saya akhirnya bisa menyelesaikan S1 saya tahun 1989. Saya sendiri tidak pernah bercerita bahwa saya ingin menjadi seorang Jesuit. Saya selalu ngobrol tentang hal-hal sosial dan politik dengan Fr. Hari dan jarang sharing tentang hal pribadi. Hanya di saat saya sudah definitif diterima di novisiat, Fr. Hari lah yang menanyakan kepada saya apakah saya sudah mempunyai jubah untuk dibawa ke novisiat.

Saya tentu saja tidak tahu menahu tentang jubah. Beliau kemudian menghantar saya ke seorang tukang jahit (Pak Slamet?) tetangga beliau di Patangpuluhan, yang biasa membuat jubah. Di novisiat setiap kali saya mengenakan jubah yang sangat pas dan nyaman itu, saya teringat Fr. Hari.

Saya tidak lagi banyak bertemu dengan Fr. Hari semenjak saya masuk ke novisiat tahun 1990 karena beliau kemudian melanjutkan studi di USA. Kalau tidak salah saat saya masih frater saya bertemu sekali saat beliau pulang ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Kalimantan.

Beliau menunjukkan foto-foto di mana hutan Kalimantan beratus-ratus hektar sudah dibabat habis dan membuat tanah kering yang sama sekali tidak dapat dimanfaatkan. Tahun 2001 saya nyaris bertemu dengan Rm Hari di Amerika. Saat itu saya mengikuti kursus 1 bulan penanganan pengungsi di Fordham University New York.
Saya diajak Rm Thomas Hidya Tjaya yang masih belajar teologi untuk ikut dalam misa orang-orang Indonesia di New Jersey. Seharusnya Romo Hari lah yang akan memimpin misa. Sayang subway yang membawa Rm Hari mogok, dan tentu saja karena terjebak ada di bawah tanah, Rm Hari tidak bisa keluar untuk mencari moda transportasi lain. Saya kemudian menggantikan Rm Hari memimpin misa untuk orang Indonesia itu. Malamnya kami berbicara lama lewat telepon.

Bertemu dengan Romo Hari menjadi lebih kerap setelah saya pulang dari Thailand tahun 2005. Satu kali kami para mantan anggota SOLIDARITAS mengadakan reuni dengan misa dan membuat pertemuan di ruang meeting unit Johar Baru bersama Rm Hari. Setiap kali bertemu Romo Hari kami selalu bernostalgia tentang SOLIDARITAS.

Oktober tahun yang lalu, saat bertemu dengan Romo Hari melayat adiknya, Rm Hari Kustono, di Kentungan, saya melihat betapa lemahnya Rm Hari Kustanto. Tatapan matanya kosong, dan badannya terlihat ringkih.

Beliau bercerita sedang menjalankan terapi otaknya. Dua minggu kemudian Rm Hari mulai dirawat di RSPR untuk menjalani terapi obat tumor dari Malaysia. Teman-teman Solidaritas yang masih ada di Yogya setia mengunjungi Romo Hari di RSPR.

Selama empat bulan lebih ini, keadaan Romo Hari naik turun. Pernah beliau harus masuk ke ICU setelah mendapatkan terapi obat khusus dan kebetulan terjatuh. Kondisinya kritis. Tetapi pernah juga beliau selama sekian lama diperbolehkan ke luar dari rumah sakit karena tampaknya terapi obat khusus itu berhasil menghilangkan sel-sel tumornya.

Keluarga Rm Hari Kus saat itu meminta kepada Serikat supaya diperbolehkan merawat Romo Hari di rumah mereka. Pater Provinsial menyetujuinya. Romo Hari tampak gembira boleh tidur di rumah keluarganya. Sayangnya kondisi ini tidak berjalan lama. Akhir Januari, kondisi Rm Hari memburuk sehingga diputuskan untuk kembali membawa Rm Hari ke RSPR.

Beberapa pekan terakhir Romo Hari sudah tidak lagi dapat berkomunikasi secara wajar karena tumor semakin mendesak otak kanan nya. Setiap kali saya datang berkunjung, hanya sedikit reaksi tubuh dapat terlihat, tetapi Romo Hari sudah tidak mampu lagi bercakap-cakap. Hari Selasa kemarin saya dipanggil Rumah Sakit untuk bertemu dengan dokter syaraf. Dokter mantap untuk melakukan operasi mengeluarkan tumor yang mendesak otak Romo, agar kondisi Romo Hari tidak menjadi lebih buruk. Kondisi Rm Hari memungkinkan untuk menjalankan operasi.

Ada 2 alat bantu operasi yang harus didatangkan dari supplier karena RSPR tidak memiliki alat tersebut. Begitu alat tersebut tiba, maka dokter akan mengoperasi kepala Romo Hari. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Sebelum alat bantu tersebut tiba, Tuhan memperkenankan Romo Hari kembali ke rumah Bapa di surga agar Rm Hari tidak perlu menderita lagi.

Selama empat bulan, berpuluh kali saya datang ke kamar RSPR di mana Romo Hari dirawat. Karena seringnya, sampai-sampai saya jadi mengenal seluruh keluarga besar Rm Hari. Pertemuan intensif dengan Rm Hari ternyata terjadi dua kali dalam periode yang berbeda: periode menjelang saya selesai studi dan kemudian masuk Serikat, dan periode akhir hidupnya. Saya ada di Jakarta semenjak hari Kamis sore kemarin untuk dua pertemuan. Barangkali beliau tidak lagi mau merepotkan saya sehingga beliau memilih kembali ke rumah Bapa saat saya tidak ada di Yogya.

Selamat jalan Rm Hari. Saya bangga pernah mengenal Romo semenjak Romo menjadi frater di Kolsani. Terima kasih atas persahabatan di antara kita. Doakan saya yang sekarang di tempat di mana kita pertama kali bertemu dulu.

salam,
Andre

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. hari kustanto
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: