In Memoriam Br. G. Suter SJ: Ucapan Terima Kasih untuk Bruder

bruder sutter sj by hidup katolik

Mogelsberg, 22 Februari 2015

SAYA mau memperkenalkan diri. Nama saya Silvanus Sri Bahagya. Saya biasa dipanggil Baba. Maaf kalau pengucapan atau bahasa Jerman saya kurang bagus.

Saya di sini mewakili masyarakat Indonesia untuk mengucapkan terima kasih banyak atas pengabdian Br. Sutter SJ selama hidupnya di Indonesia. Br. Sutter banyak membantu kami masyarakat Indonesia dengan karya-karya nyatanya. (Baca juga: RIP Bruder G. Sutter SJ di RS Carolus Jakarta)

Memang saya tidak mengenal Br. Sutter secara personal, tapi satu atau dua kali saya pernah bertemu beliau di Seminari Wacana Bhakti/Kolese Gonzaga di Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Seperti layaknya berkunjung ke rumah atau komunitas Jesuit, di Seminari KAJ Wacana Bhakti/Kolese Gonzaga ini, saya diperkenalkan dengan para Jesuit, termasuk dengan alm. Br. Sutter. (Baca juga: In Memoriam Bruder G. Sutter SJ: Sang ‘Jagal’ dari Swiss)

Super ramah

Saya mengamati bahwa Bruder orang yang baik dan ramah, meski tidak banyak bicara. Inilah awal perkenalan saya dengan Br. Sutter. Mungkin kalau nasib saya lain, saya bisa berkenalan lebih dekat dengan Br. Sutter di Nabire. Mengapa demikian? Karena dulu waktu saya kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Universitas Katolik yang dikelola Para Jesuit), saya pernah mengajukan diri untuk menjadi volunteer di Nabire. Karena program volunteer di Nabire untuk satu tahun, sedangkan program studi saya hanya mengizinkan 6 bulan, akhirnya saya tidak bisa ke Nabire.

Keinginan saya ke Nabire sebenarnya masih ada waktu itu; saya berencana setelah selesai kuliah bisa ke Nabire. Tapi akhirnya tidak jadi juga. Sampai-sampai ada seorang Pater Jesuit, namanya Pater Bas Soedibyo SJ datang mencari saya dan bertanya ke para frater Jesuit di Kolese Ignatius (Kolsani) Yogyakarta: “Mana Silvanus, saya cari dia. Katanya mau menjadi Volunteer di Nabire.“

Ya…nasib mengatakan lain, saya bertemu dengan seorang perempuan Swiss dan akhirnya kami menikah. (Baca juga: Bruder G.W. Sutter, SJ)

Ketika Rm. Toni memberitahu saya bahwa akan ada misa requiem untuk Br. Sutter dan meminta saya untuk membawakan lagu Indonesia; saya sempat bingung juga karena saya belum banyak kenalan orang Indonesia di Swiss. Untunglah saya bertemu dengan Kak Regina dan teman-teman Indonesia lain yang bersedia untuk koor di Misa requiem ini. Kami merasa bahwa inilah saatnya yang tepat untuk kami masyarakat Indonesia mengucapkan banyak terima kasih kepada Br. Sutter dan keluarganya.

br sutter sj by SWB
Alm. Bruder G. Sutter SJ (Dok. Seminari KAJ Wacana Bhakti)

Karya nyata Br. Sutter di Indonesia, pertama kali ada di Salatiga.

Br. Sutter bekerja di Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) untuk mendampingi orang muda di sekitar Salatiga dan luar Jawa agar mencintai profesi petani, memiliki kemandirian dan mampu menggerakkan pertanian di daerah asalnya. Karya nyata yang lain adalah sebagai ekonom dan mendampingi orang muda yang sedang mempersiapkan diri menjadi seorang calon imam di Seminari Menengah Mertoyodan, Seminari Menengah Wacana Bhakti Gonzaga, Jakarta dan ekonom di Rumah Jesuit di Nabire.

Sebagai seorang ekonom, Br. Sutter dikenal sebagai seorang yang hapal tentang nama dan no registrasi para seminaris; bahkan jumlah saldonya.

Saya mengutip tulisan dari satu orang Bruder Jesuit, namanya Br. Sunari SJ di Majalah Hidup (Senin, 1 September 2014):

“Meski dikenal pendiam, Br. Sutter sebenarnya punya selera humor. Suatu saat, seorang seminaris datang ke ruang kerjanya untuk mengambil uang saku dalam jumlah tertentu. Rupanya uang yang ia titipkan tak cukup atau malah sudah habis. “Uang titipanmu sudah tidak ada kok mau mengambil? Itu namanya hutang”. Kata Br. Sutter. Sembari tersipu, seminaris itu segera mengkoreksi permintaannya, “Maaf Bruder, tidak jadi mengambil uang, tapi hutang.” (http://m.hidupkatolik.com/index.php/2014/09/01/br-gebhardus-sutter-sj-kesetiaan-itu-pilihan)

Saya juga ingin mengutip pengalaman hidup Romo Johan „Ferry“ Ferdinand Wijshijer Pr –imam diosesan KAJ yang dikaryakan di Papua– waktu bertemu Br. Sutter di Nabire.
(https://mmdkaj.wordpress.com/author/enakidabi/)

“Saya terkejut bertemu Br.Sutter dengan pakaian kotor muncul dari kebun dan masih ingat menyebutkan nama lengkap saya Johan Ferdinand Wijshijer. Ucapan selamat datang tampak dari wajahnya yang ceria.“

Tak terduga kita bertemu lagi di Papua,” demikian komentarnya sambil melanjutkan pekerjaannya di kebun seolah-olah kehadiran saya adalah hal biasa.

Ngobrol-ngobrol dengan Romo Bas mencoba menemukan alasan saya ke Papua. Romo Bas mengatakan, “Kalau kamu sudah menemukan kepribadian seorang pastor, kamu bisa melayani dimana pun betapa pun sulitnya, lihat Bruder Sutter yang tak peduli dengan penampilan kumuh asal terus bisa bekerja melayani demi kemuliaan Allah.”

Beliau menekankan pentingnya menemukan kepribadian seorang pastor agar saya kurang peduli pada penampilan diri sendiri supaya semakin peduli pada orang lain.

Foto kredit: Alm. Bruder G. Sutter SJ bersama seorang seminaris. (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: