Iman Teguh Abraham

Ayat bacaan: Roma 4:19-20
======================
“Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah”

Mungkin mudah bagi kita untuk menyebut kata iman, tetapi kenyataannya sulit bagi kita untuk bisa tetap teguh terutama ketika terus menerus berada dalam kondisi sulit. Berbagai tekanan, pergumulan dan kesulitan yang kerap kita alami membuat iman kita rentan. Belum lagi ketika kita merasa sudah berjalan sesuai rencana Tuhan tetapi belum juga memperoleh keberhasilan sesuai janji Tuhan. Itu bisa membuat iman kita seperti berada pada persimpangan jalan, dan kalau tidak hati-hati kita bisa menjadi kecewa dan mengira bahwa iman adalah sesuatu yang tidak nyata.

Masalahnya, menunggu bisa sangat melelahkan. Bayangkan ketika kaki anda terjepit dan tidak ada yang menolong, sehingga anda harus menunggu pertolongan datang sementara kaki tetap sakit dalam posisi terjepit itu. Anda tahu bahwa kelak akan ada yang menolong, tetapi rasa sakit dalam menunggu bisa membuat anda kehilangan harapan. Belum lama saya menonton di televisis mengenai pria yang berada tepat di ujung air terjun Niagara. Suhu yang sangat dingin bisa mengakibatkan hypotermia, kondisi suhu tubuh yang sangat rendah yang tentu sangat membahayakan. Ia bisa kehilangan kesadaran lalu jatuh dan mati. Tapi pria ini kuat dalam menanti meski wajahnya terlihat sangat takut. Ketika tim penolong datang dengan helikopter, masalah belumlah selesai sampai disitu. Tim penolong kesulitan untuk memberi bantuan karena posisi pria ini sulit dijangkau, terutama karena arus yang sangat deras di tepi jurang. Akhirnya tim mencoba meraih dan melemparkan tali. Ia berhasil mengikatkan tali di tubuhnya, tapi lagi-lagi ada masalah karena ia menyangkut di sebuah tebing. Itu sudah berlangsung hampir setengah jam dan sewaktu-waktu ia bisa kehilangan kesadaran. Ia pun terlempar kembali ke posisi semula dalam keadaan lemah dan terluka. Tim penolong melemparkan ban yang diikat tali, tapi tidak sampai ke posisinya. Ia harus mampu meraih ban itu, dan itu tidaklah gampang karena ia sudah sangat lemah dan hampir pingsan. Tetapi kemudian dengan kekuatan terakhirnya ia mampu menjangkau ban dan berhasil diangkat keluar dari posisi mengerikan itu. Rekaman adegan nyata ini memang menegangkan, tetapi ia selamat dan kembali pulih seperti biasa.
Seperti itulah dalam urusan menanti pertolongan Tuhan, dimana iman akan sangat menentukan apakah kita bisa meraihnya atau tidak. Dalam kitab Ibrani, seperti yang saya sampaikan kemarin, dikatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Artinya, iman bisa mendasari apa yang kita harapkan dan berfungsi menjadi bukti dari apa yang tidak atau belum kita lihat. So, in order to wait for God’s helping hand, we definitely need faith.

Dalam surat Roma Paulus memberikan contoh akan keteguhan iman dan hasil yang dicapai lewat kisah Abraham. Tuhan memberi janji kepada Abraham, janji yang menurut logika teramat sangat mustahil, tetapi kita bisa melihat bahwa iman Abraham membuat apa yang sepertinya mustahil menjadi nyata. Dikatakan: “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Roma 4:19-20). Coba renungkan ayat ini baik-baik dan bayangkan situasinya apabila anda ada di posisi Abraham. Saat itu ia sudah kakek-kakek berusia mendekati 100 tahun, dengan istri yang sudah puluhan tahun melewati masa menopausenya. Janji akan anak diberikan pada saat itu. Bagaimana reaksi anda? Abraham ternyata tidak memakai logika manusianya, melainkan mempergunakan iman sebagai sumber kekuatan untuk menerima penggenapan janji Tuhan itu. Ia tetap percaya. Imannya tetap sekuat batu karang meski tubuhnya sudah lemah. Iman yang kuat ini membuat ia percaya penuh tanpa ragu. Dengan jelas dalam ayat ini dikatakan bahwa ia bahkan diperkuat dalam iman dan ia terus memuliakan Allah.

Abraham tidak melihat kesulitan dan kemustahilan tetapi mengarahkan dirinya kepada kemampuan Tuhan. Dia tidak seperti kebanyakan dari kita yang terombang-ambing ditengah keadaan riil dan daya jangkau logika manusia di dunia dan janji Tuhan. Abraham memilih untuk mengabaikan keadaan fisik yang secara alamiah tidak lagi memungkinkan dan logika manusia, tapi memutuskan untuk mempercayai Tuhan secara total. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Roma 4:18). Dan ia berhasil memperolehnya, janji Tuhan menjadi kenyataan secara penuh.

Jika Abraham membuktikan bagaimana iman bisa berperan penting dalam menanti-nantikan Tuhan, kita pun seharusnya mau belajar akan hal yang sama. Akibat deraan permasalahan, kondisi fisik dan psikis kita mungkin bisa lemah. Tapi ingatlah bahwa manusia pada hakekatnya terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Jika tubuh (fisik) dan jiwa (psikis) kita sudah mencapai titik nadir, kita harus memastikan agar roh kita tetap kuat, memiliki Roh Allah yang menyala-nyala yang akan meneguhkan kita untuk tetap tegar menantikan Tuhan dengan iman yang teguh. Tubuh dan jiwa yang lelah bakan bisa mengalami pemulihan apabila roh kita kuat dalam iman. Itu akan memampukan kita untuk bisa terus berjalan dengan penuh percaya sampai pertolongan Tuhan sampai kepada kita. Abraham terus memuliakan Allah dengan penuh keyakinan, bahwasanya Allah punya lebih dari cukup kuasa untuk menepati apa yang telah Dia janjikan (Roma 4:21), dan Tuhan pun memperhitungkan itu sebagai kebenaran. (ay 22). Abraham has done it. He has proven it. If he can, why can’t we? Jika anda saat ini tengah lelah berada dalam himpitan masalah, kini saatnya untuk bangkit. Iman akan membuat anda kuat dalam menantikan Tuhan. Tetap muliakan Tuhan dalam menanti, sampai apa yang Dia janjikan dapat anda genapi sepenuhnya, tanpa ada sesuatu yang kurang.

Iman akan menguatkan kita dalam menunggu jawaban dan pertolongan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: