Iman Sejati Bukan Berdasarkan Tanda


BERBAGAI mukjizat telah dilakukan Yesus, namun orang Farisi masih saja meminta tanda dari surga kepadaNya sebagai bukti bahwa Ia adalah sungguh-sungguh Mesias. Yesus menolak permintaan mereka, karena semua yang dilakukanNya bukanlah ajang untuk pamer kekuasaan, melainkan merupakan ungkapan kasih Allah kepada manusia.


Kerap kita juga berperilaku seperti orang Farisi. Kita hadir di setiap acara kerohanian hanya untuk mengejar mukjizat saja. Saat Ia tidak menganugerahkan tanda atau mukjizat sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita kecewa dan menjauh daripadanya. Hal ini menunjukkan betapa kerdilnya iman yang kita miliki.


Sadari bahwa setiap peristiwa dan pengalaman hidup yang kita alami, adalah atas seizinNya. Ia yang paling memahami siapa diri kita sebenarnya. Melalui berbagai badai dan ujian kehidupan, iman kita diuji agar senantiasa tahan banting dalam menghadapi semua situasi kehidupan. Kita dibentuk sedemikian rupa agar dapat meraih rencana indah yang telah dipersiapkanNya untuk kita.


Jangan hanya berorientasi kepada tanda-tanda atau mukjizat saja. Jangan pula mengukur kasih Allah hanya berdasarkan banyaknya jumlah doa-doa yang dikabulkanNya. Mari persembahkan diri kita seutuhnya kepadaNya, percaya dan sungguh yakin akan kasihNya meskipun tidak melihat tanda atau bukti nyata. Hanya dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam iman sejati.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply