Iman Nuh

Ayat bacaan: Ibrani 11:7
===================
“Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.”

iman nuh, iman sebesar biji sesawi

Iman adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun seringkali sulit untuk dijelaskan, apalagi dipraktekkan. Implikasi dan aplikasi iman sungguh sangat luas, begitu luas sehingga Yesus berkata bahwa jika sekiranya saja kita memiliki iman sebesar biji sesawi sekalipun, maka gunung sekalipun akan pindah, dan dengan iman tidak akan ada hal yang mustahil lagi bagi kita. (Matius 17:20). Kita melihat bahwa iman yang seukuran biji sesawi saja (diameternya kurang dari satu milimeter) akan bisa membawa dampak yang begitu luar biasa. Sebuah gambar di samping mungkin bisa menggambarkan kira-kira sebesar apa biji sesawi itu jika dibandingkan dengan jari telunjuk manusia. Kita seringkali berkata bahwa kita beriman pada Kristus, hal itu akan gampang diucapkan ketika hidup sedang berada pada titik puncak kenyamanan, namun akan menjadi begitu sulit untuk direalisasikan ketika berbagai masalah sedang menjungkirbalikkan kita ke titik terendah. Semua orang boleh mengaku sudah memiliki iman, namun segalanya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi dan tindakan kita dalam menghadapi situasi sulit, sebuah ketidakpastian, hal yang secara logis mustahil atau bahkan hal yang belum bisa kita lihat secara nyata. Reaksi dan tindakan kita akan menunjukkan secara nyata sejauh dan sebesar apa iman kita, sejauh mana kita percaya, sejauh mana kita patuh.

Penulis Ibrani mencoba menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan iman. Mari kita lihat firman Tuhan berikut: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dalam bahasa Inggris, dikatakan demikian: “NOW FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality” Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak/belum kita lihat, dan mempunyai kepastian sebagai sesuatu yang nyata, meski tidak terlihat sekalipun. Kemudian penjelasan selanjutnya: “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” (Ay 2-3). Berbagai kesaksian luar biasa yang dialami begitu banyak nabi dalam Perjanjian Lama semuanya oleh karena iman mereka. Dan iman lah yang membuat kita bisa mengerti bahwa alam semesta yang bisa kita lihat saat ini, semua terjadi karena firman Tuhan, yang tidak dapat kita lihat. Mari kita lihat salah satu contoh tentang hal ini, dari kisah Nuh.

Nuh mendapat tugas “aneh” dari Tuhan pada suatu hari. Dia diminta untuk membangun sebuah bahtera super besar, yang harus mampu memuat seluruh keluarganya beserta sepasang dari segala jenis hewan. Nuh bukanlah seorang tukang kapal. Dan sepertinya pada masa itu hujan belum pernah turun, sehingga kita bisa membayangkan, bagaimana jika kita menjadi Nuh pada saat itu. Perintah untuk membangun kapal besar, di usia senjanya, padahal sebelumnya mungkin dia belum pernah melihat apa yang digambarkan sebagai sebuah bahtera. Apa yang dilakukan oleh Nuh? Nuh taat melakukan perintah Tuhan tanpa membantah sedikitpun. Saya membayangkan, mungkin selama masa ia membangun, begitu banyak orang yang menertawakannya, mengapa ia membangun sesuatu yang luar biasa besar di atas daratan. Nuh pada saat itu mendapat hikmat Allah, dimana Allah sendirilah yang secara langsung memberitahukan detail-detail untuk membangun sebuah kapal. “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.” (Kejadian 6:15-17). Ukurannya tidak main-main, sekitar 133 meter panjangnya, 22 meter lebarnya dan 13 meter tingginya. Saat itu rasanya belum pernah ada yang namanya hujan lebat yang begitu lama yang akan membuat seluruh bumi tenggelam. Nuh belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, sehingga saya yakin logikanya tidak akan mampu menggambarkan hal tersebut. Namun Nuh taat, dan mengerjakan seluruhnya sesuai perintah Tuhan. Nuh percaya bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Dia memilih untuk patuh. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22). Setelah selesai, Tuhan pun berkata: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” (7:1). Lalu hujan pun turun selama 40 hari dan 40 malam menenggelamkan segalanya. Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Nuh beserta keluarganya diselamatkan. Karena Nuh orang yang selalu baik? Bukan demikian yang dicatat Alkitab. Allah menyelamatkan Nuh bukan karena Nuh orang baik, melainkan karena Nuh adalah orang benar.

Karena iman, Nuh melakukan segala sesuatu yang belum pernah atau bisa dia lihat dengan ketaatan penuh, iman yang dimiliki Nuh membuat ia dinyatakan benar di hadapan Tuhan, dan karenanya diselamatkan. Inilah yang dijelaskan Penulis Ibrani mengenai Nuh. “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7). Dengan kata lain, Ketaatan Nuh berasal dari imannya, dan karena imannya itulah ia diperhitungkan Tuhan sebagai orang yang benar.

Sudahkah kita memiliki iman seperti Nuh? Sanggupkah kita terus memegang teguh janji Tuhan, meski mungkin saat ini kita belum melihat jawaban apapun atas permasalahan kita? Masihkah kita tetap percaya dan terus bersyukur meski gelombang kesulitan masih terus bergejolak? Miliki iman yang teguh, tetaplah percaya bahkan ketika anda belum melihat apa-apa. Percayalah bahwa iman sanggup membuat segala sesuatu yang mustahil sekalipun menjadi nyata, bahkan dengan ukuran biji sesawi sekalipun.

Dengan iman Nuh dibenarkan dan diselamatkan beserta keluarganya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply