Iman Kosong yang Mati

 Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=========================
“Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal.”

iman kosong mati

Pada suatu kali teman saya bercerita bahwa istrinya baru saja marah ketika ia melebihkan bayaran kepada bapak tua yang bekerja memperbaiki jalan di depan rumahnya. Ia geleng-geleng kepala karena istrinya marah melihatnya memberi lebih dari upah pekerja harian yang wajar. “Bapak itu sudah tua, saya kasihan melihatnya, apakah salah jika saya memberi upah lebih atas dasar kasih karena ia bekerja di bawah terik panas dua hari penuh?” katanya. Istrinya adalah orang percaya yang rajin berdoa, rajin ke gereja bahkan sering membaca Alkitab. Tetapi ketika berhadapan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, ternyata ia belumlah mencerminkan seorang pengikut Kristus yang sejati. Ada banyak orang yang berperilaku sama seperti ini. Di satu sisi mereka rajin berdoa, menunjukkan keimanan mereka yang tinggi dengan melakukan ibadah-ibadah secara rajin dan teratur, tetapi di sisi lain mereka kerap menghitung untung rugi tanpa memiliki rasa iba atau belas kasihan terhadap orang lain. Hal seperti ini bukanlah gambaran ideal dari para pengikut Kristus, karena Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap eksklusif, hanya mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri saja, atau juga hanya mementingkan keuntungan pribadi. Jika kita hanya berpikir mengenai keselamatan sendiri tanpa memiliki kasih terhadap sesama, itu sesungguhnya salah besar. Tidak ada tempat bagi egoisme dan ketidakpedulian terhadap orang lain dalam Kekristenan. Di dunia memang kita terbiasa diajarkan untuk bertindak seperti itu, tetapi tidak bagi Kerajaan Allah.

Beriman kepada Kristus dan rajin berdoa, membaca dan merenungkan Alkitab, itu tentu saja baik. Sangat baik malah. Tetapi itu semua tidak akan ada gunanya apabila iman itu tidak disertai dengan perbuatan nyata, diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari secara aktual. Alkitab berkata bahwa iman tanpa disertai perbuatan sesungguhnya tidaklah ada artinya, alias sia-sia. Yakobus menyatakan dengan tegas bahwa…Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20). Sebelumnya Yakobus juga mengatakan seperti ini: “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (ay 15-17). Atau lihat pula ayat berikut: “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Iman tanpa disertai perbuatan adalah iman yang kosong bahkan iman yang mati, bagaikan tubuh tanpa roh.

Firman Tuhan mengingatkan kita hakekatnya kita diberkati. “Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal.” (2 Korintus 9:8 BIS). Berbuat baik dan beramal, itulah yang menjadi keharusan bagi anak-anak Allah, dan untuk tujuan itulah sebenarnya Tuhan memberkati kita melimpah ruah. Alasan bahwa kita masih belum melimpah ruah kemudian sering dipakai orang untuk melalaikan tugasnya sebagai orang percaya. Tapi apakah benar kita sama sekali tidak bisa memberi sedikitpun atau harus berhitung untung rugi sesempit-sempitnya terhadap orang lain? Tentu saja tidak, karena kerelaan memberi bukanlah masalah kita punya banyak atau tidak tetapi tergantung dari hati. Firman Tuhan yang tertanam dalam hati kita seharusnya menumbuhkan iman dengan subur, dan kemudian dari hati yang sehat seperti itu kita pun akan penuh dalam kasih lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata untuk membagi berkat bagi sesama tanpa memandang siapa mereka. Seperti itulah seharusnya sikap hidup kita. Lihatlah bagaimana Paulus berpesan kepada Timotius. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:16-17). Allah sendiri telah melengkapi kita untuk melakukan segala perbuatan baik. Semua itu bukan untuk disimpan sendiri tetapi sudah seharusnya kita pakai untuk membagi berkat kepada sesama.

Lihatlah firman Tuhan berikut ini: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24). Kita tidak akan lebih baik jika hanya menimbun saja. Tuhan akan selalu melihat ketulusan hati kita, apakah kita punya rasa belas kasih dan mau memberi atau hanya berhitung untung rugi dan tidak peduli terhadap orang lain. Seperti yang sudah saya sebutkan kemarin, aspek memberi dalam kebaikan itu begitu penting di mata Kristus sehingga ia berkata “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Kita bahkan tidak diperbolehkan untuk menunda-nunda atau menahan kebaikan selama kita mampu (Amsal 3:27) dan juga tidak boleh mempersulit orang terlebih dahulu sebelum kita memberi sesuatu kepada mereka (ay 28). Dari semua ini kita bisa melihat bahwa iman yang hanya ditelan sendiri tidak akan pernah bernilai apapun di mata Tuhan. Bagi Tuhan itu hanyalah iman kosong yang mati, yang tidak punya nilai apapun jika tidak dibarengi dengan perbuatan-perbuatan nyata yang keluar dari hati yang tulus atas dasar kasih.

Jangan puas dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang taat dan percaya. Kita tidak ubahnya seperti orang munafik yang berpikir bahwa mereka bisa selamat hanya dengan berdoa panjang-panjang dan tidak perlu peka terhadap penderitaan sesama. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih. Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena memberi atas dasar kasih. Tuhan akan selalu memperhitungkan semuaNya itu dan Dia akan selalu siap memberkati anda lebih lagi. Tuhan sendiri yang akan memelihara anda sesuai janjiNya, dan untuk itu anda tidak perlu kuatir akan kekurangan. Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tidak hanya lewat berdoa setiap waktu tetapi juga harus secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita, dan diaplikasikan dalam tindakan-tindakan nyata.

Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong dan mati, bagaikan tubuh tanpa roh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: