Iman + Kesabaran dalam Menuai Janji Tuhan (1)

0
3

Ayat bacaan: Ibrani 6:12
=================
“agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.”

Pada suatu kali saya menemani istri di dapur ketika sedang membuat kue. Saya melihatnya mengocok campuran beberapa bahan baku dengan penuh kesabaran agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum saya berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan. Tapi ia menjawab bahwa meski pegal, itu akan menentukan berhasil tidaknya kue yang dimasak. Setelah beberapa waktu, saya mulai melihat hasilnya. Dan pada saat disajikan, kue terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, saya pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kita dalam menanti janji Tuhan untuk digenapi dalam hidup kita. Jika kue saya ibaratkan sebagai janji Tuhan, maka segala bahan baku dan wadah adalah iman, lalu pekerjaan tangan dalam mengocok adonan menggambarkan kesabaran. Jadi untuk menuai janji Tuhan diperlukan kerjasama yang sinergis antara iman dan kesabaran. Salah satu kurang maka keberhasilan tidak akan bisa dicapai. Gambar dalam renungan hari ini memberi ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Iman dan kesabaran merupakan syarat utama untuk menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Itu disebutkan dalam Ibrani 6:12 : “agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Penulis Ibrani mengingatkan agar kita jangan menjadi malas, tetapi supaya hidup seperti orang-orang yang menerima janji Tuhan lewat iman dan kesabaran. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham. “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.” (ay 13-15). Kesabaran Abraham menyempurnakan imannya sehingga ia pun menuai janji Tuhan. Kita tahu bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada Abraham tidaklah langsung terjadi melainkan butuh waktu tahunan untuk digenapi. Abraham punya keduanya: iman dan kesabaran sehingga pada akhirnya kita melihat ia berhasil menerima berkat luar biasa sesuai janji Tuhan kepadanya.

Iman tanpa kesabaran akan membuat kita terjebak untuk berkompromi dengan berbagai tawaran dunia, mencoba menjawab sendiri doa-doa kita lewat berbagai alternatif yang menyesatkan. Sedang kesabaran tanpa iman hanya akan membuat kita hidup tanpa makna, sabar menanti sesuatu yang tidak pernah datang atau hanya mendasari hidup dengan apa yang kita lihat, dan itu berarti kita sama seperti orang yang tidak mengenalNya. Mengetahui janji Tuhan tanpa didasari iman dan kesabaran akan membawa kita pada kesalahan-keslaahan pemahaman akan Tuhan dan membuat hidup kita terombang ambing tanpa arah pasti. Tetapi sebuah gabungan antara iman dan kesabaran yang berjalan beriringan dengan stabil (tidak timpang) akan memampukan kita untuk menuai janji-janji Tuhan secara nyata. Bukan lagi hanya wacana, bukan sesuatu yang utopia, bukan hanya kata orang, tetapi kita mengalaminya secara nyata dalam hidup kita. Jadi iman dan kesabaran itu sama pentingnya dan harus berada dalam posisi sejajar dalam urusan menerima sesuatu dari Tuhan. Apakah itu berkat, pertolongan, pemulihan dan sebagainya, iman dan kesabaran akan sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya kita memperoleh jamahan Tuhan dan menerima kucuran berkatNya.

Apa yang dimaksud dengan iman? Dalam Ibrani 11:1 dengan jelas dikatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman bukan saja dasar, tapi juga bukti. Ketidaktahuan kita akan apa yang akan terjadi di depan bisa dengan mudah membuat kita khawatir atau malah takut. Mengapa? Karena kita tidak bisa melihat atau mengetahuinya. Karena itulah kita membutuhkan kacamata iman, yang mampu bertindak sebagai dasar dan bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat itu. Iman punya kekuatan luar biasa, yang jika ukurannya hanya sebesar biji sesawi saja, itu sudah bisa memindahkan gunung bahkan dikatakan tidak akan ada lagi yang mustahil bagi kita (Matius 17:20).  Ada banyak tokoh Alkitab yang sudah membuktikan kekuatan luar biasa dari iman yang bisa kita teladani, sebaliknya banyak pula yang gagal justru karena iman mereka yang lemah dan ketidaksabaran terus menguasai mereka. Itu seharusnya mampu membuat kita menyadari betapa dahsyatnya peran iman dalam menentukan keberhasilan hidup kita, termasuk di dalamnya menentukan keberhasilan menuai janji-janji Tuhan.
(bersambung)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here