BULAN Januari 2012, Paus Benedictus mengumumkan pembentukan ordinariat atau keuskupan khusus bagi jemaat episkopal yang ingin pindah ke Gereja Katolik (yang disebabkan oleh praktik liberal Gereja Episkopal).

Paus Benedictus mengizinkan jemaat itu tetap dapat mempraktikkan liturgi Anglikan mereka. Secara lebih khusus, izin diberikan bagi sejumlah kecil dan terbatas imam-imam episkopal yang menikah untuk menjadi imam katolik yang beristeri.

Sebagai seorang pastor katolik yang telah menikah dan menerima tahbisan tahun 1984 di bawah pengawasan khusus dari Paus Yohanes Paulus II (yang diperuntukkan bagi imam tertentu dan dinilai berdasarkan masing-masing pribadi), saya menyimak dengan cermat pengumuman Paus Benedictus XVI itu.

Saya merasa gembira dengan keputusan Gereja Katolik yang begitu baik hati oleh Paus itu dan saya menyambut gembira bahwa para imam itu beserta dengan keluarganya akan diterima ke dalam pangkuan Gereja Katolik.

Namun bukan berarti bahwa mereka tidak akan membawa masalah dan tantangan tersendiri juga.

Tantangan riil
Pengalaman saya selama 28 tahun sebagai seorang imam katolik yang menikah membuat saya memikirkan beberapa hal, baik secara duniawi mau pun secara rohani.

Pertama, Gereja perlu mencukupi kebutuhan finansial imam-imam itu beserta keluarga mereka. Selama tahun-tahun pertama karya saya sebagai imam katolik yang berkeluarga, ada saat-saat dimana saya tidak punya uang untuk membayar tagihan alat pemanas. Ketika saya ditahbiskan, ditegaskan dengan jelas bahwa saya tidak boleh mengharapkan Gereja sebagai sumber pemasukan saya yang utama, melainkan suatu karya lain di luar Gereja. Dengan demikian, kewajiban parokial adalah nomor dua.

Kedua, para imam baru itu harus menyiapkan diri bagi perjuangan spiritual yang muncul dalam ranah status sebagai imam katolik yang menikah. Adalah pengalaman yang tidak mudah untuk anak-anak kami ketika mendengar umat katolik menyapa saya dengan sebutan Pastor atau Romo. Saya juga merasa tidak enak kepada anak-anak saya, karena tidak pernah bisa menjadi “normal Dad” yang bisa mengambil rapor anak-anak di sekolah dan menemani mereka dalam kegiatan olah raga. Para isteri imam-imam itu juga harus rela membiarkan suami-suami mereka menjadi “imam” dengan segala konsekuensinya bagi isteri dan anak-anaknya.

celibacy 2

Selibat: Kalau dihayati dengan sempurna dan displipin tinggi akan menjadi ‘berkat’ bagi banyak orang. (Ilustrasi/Copticworld)

Melewati tahun-tahun itu, saya juga telah menjadi bahan sindiran beberapa anggota klerus (a few snide remarks by clergy). Telah terjadi pertentangan yang tidak mengenakkan dengan mereka yang lebih tradisional dari pada Tradisi itu sendiri. Namun, selebihnya, imamat dan pelayanan saya dalam Gereja Katolik telah menjadi sumber kegembiraan dan rahmat yang besar.

Imam-imam yang menikah tidak lepas dari pengorbanan yang adalah inti imamat itu sendiri. Pengorbanan itu bukan dari kaul selibat. Pengorbanan itu diambil dari apa yang dilepaskan sebagai suami dan ayah untuk kepentingan Gereja. Korban itu diambil bukan hanya dari kehidupan imamat, melainkan dari kehidupan awam katolik.

Bagaimana tidak demikian adanya jika simbol utama iman kita ialah kasih Tuhan yang dinyatakan di atas kayu salib?

Kendati situasi saya yang demikian – yang adalah sama dengan situasi para imam menikah lainnya yang masuk Gereja Katolik sejak tahun 1980- an – saya adalah pendukung utama selibat para imam katolik. Dasarnya bukan pada keputusan konsili atau para paus, melainkan pada Yesus Kristus sendiri.

Teladan utama
Inti dan hakikat imamat Gereja Katolik adalah pengorbanan dan selibat yang meniru Yesus membebaskan para imam itu untuk memberikan dirinya secara total kepada Gereja dan umatnya.

Meskipun banyak imam sungguh menghayati pengorbanan ini, namun jelas juga bahwa status selibat itu sering dipakai oleh banyak imam lainnya untuk hidup secara egoistis dan tertutup. Skandal seksual yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini adalah contoh jelas bagi penyimpangan selibat.

Struktur atau realitas hidup pastor paroki itu sendiri sering menghambat dicapainya kebebasan rohani yang seharusnya menjadi buah dari selibat. Mereka mengalami kekurangan relasi persahabatan di antara para imam. Mereka hidup dalam dunia maya, sekurang-kurangnya dilihat dari sudut hidup keluarga khas Amerika; mentalitas mengejar kariryang merupakan sisi gelap dari sistem birokrasi Gereja.

Semua itu menyebabkan para imam terhambat untuk menggunakan selibat sebagai sarana menjadikan dirinya orang bebas demi pelayanan kepada umat.

Pembaruan hidup imamat perlu segera dilakukan sekarang. Jawabannya bukanlah imam-imam menikah. Jawabannya ialah imam-imam yang memahami bahwa berkorban adalah inti hidup mereka – baik menikah maupun tidak.

Sumber tulisan: Richard Cipolla

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.