I’m Nothing Without God

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:10
========================
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

nothing without God, semua berasal dari Tuhan, bukan kekuatan kita

Urusan melayani tidaklah gampang. Apalagi bagi orang yang bukan melayani full time seperti saya. Ada pekerjaan sehari-hari yang harus dijalankan, ada urusan-urusan rumah tangga yang perlu ditanggulangi, terkadang rasanya waktu 24 jam masih kurang untuk bisa melakukan semuanya dengan baik. Jika stamina menurun, jatuh sakit pun menjadi salah satu masalah yang harus diwaspadai. Kemarin untuk pertama kalinya saya melakukan pelayanan pelepasan, dan ternyata hal itu sungguh melelahkan. Bukan hanya yang dilepaskan yang terkulai lemah dan muntah, tapi saya yang melakukannya pun merasa letih. Saya merasa bersyukur bahwa Tuhan mau pakai saya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan demi kerajaanNya di dunia ini, disamping itu saya juga bersyukur dikaruniai istri yang mendukung segala yang saya kerjakan dan hidup berbahagia bersamanya, juga pekerjaan-pekerjaan sehari-hari yang diberkati Tuhan luar biasa. Padahal saya hanyalah tamatan SMA, yang menurut hukum alam di Indonesia tidak akan bisa mendapat porsi yang baik seperti halnya sarjana, S2, S3 dan sebagainya. Tapi lihatlah Tuhan yang bisa memakai dan memberkati siapa saja, termasuk saya yang secara logika manusia ini tidak ada apa-apanya. Semua itu patut disyukuri, dan saya sendiri tidak ada habis-habisnya mensyukuri segala yang Tuhan beri. Ketika hidup, pekerjaan, rumah tangga, termasuk pelayanan mengalami peningkatan dan mulai mencapai keberhasilan demi keberhasilan, saya menganggap sangat penting untuk tidak terlena dan menjadi lupa bahwa semua itu adalah hasil karya Tuhan, dan bukan karena kehebatan diri saya sendiri. Ya, saya bekerja dengan sungguh-sungguh dan serius seperti bekerja untuk Tuhan, tapi saya tahu, tanpa kasih karuniaNya, tidak akan ada yang dapat saya kerjakan, dan tidak akan ada pencapaian-pencapaian luar biasa yang penuh berkat. Adakah sesuatu yang bisa saya banggakan terhadap diri saya sendiri tanpa penyertaan dan campur tangan Tuhan? Tidak ada sama sekali. I’m nothing without God.

Paulus mengakui hal ini. Dalam keadaan apapun, jika kita mampu bertahan hidup, jika kita mengalami peningkatan pencapaian dalam berbagai aspek kehidupan dan pelayanan, meskipun dunia melihat kerja keras kitalah yang membuahkan hasil, namun semua itu sia-sia adanya tanpa kasih karunia Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10). Dalam kesempatan lain Paulus berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7). Bukankah semangat, kekuatan, kemampuan, kepintaran dan talenta-talenta lainnya juga berasal dari Tuhan? Dan, bukannya semua itu bisa mengarah pada kesia-siaan jika tidak ada kasih karunia Tuhan menyertai setiap yang kita lakukan? Saya pernah mengalami masa-masa dimana saya berada di luar Tuhan dan mengandalkan kekuatan saya sendiri dan orang lain, dan saya sudah mengalami sendiri bagaimana semuanya berakhir sia-sia. Paulus begitu tulus mengakui bahwa semua keberhasilan yang ia alami, semua pekerjaan dan pelayanannya dari kota ke kota bukanlah karena kehebatan dirinya. Bukan karena kepintaran, kekuatan dan kesanggupannya semata, namun semua itu adalah hasil karunia Allah yang menyertainya. Semua berasal dari Tuhan, maka kemuliaan adalah milik Tuhan juga.

Yesus mengingatkan demikian: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5). Di dalam Kristus, kita akan berbuah banyak, dan hanya karena penyertaanNya lah kita mampu berbuat sesuatu dan mencapai keberhasilan dan peningkatan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Maka ingatlah bahwa tidak ada alasan apapun bagi kita untuk memegahkan diri, merasa hebat dan menjadi sombong ketika kita mengalami keberhasilan dalam apa saja yang kita lakukan. Dalam Mazmur kita membaca hal yang sama, bahwa orang yang suka melakukan firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam mendapat janji Tuhan agar apapun yang diperbuatnya menjadi berhasil. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3). Jika kita mundur ke kitab Kejadian, kita pun melihat bagaimana Yusuf bisa tetap keluar dari masalah, meskipun berbagai masalah luar biasa menjerumuskan dia ke dalam penderitaan berkali-kali. Semua itu bukan karena kehebatannya, melainkan karena Tuhan menyertai dia. “..karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” (Kejadian 39:23b). Roh Tuhan yang memampukan semuanya dalam kehidupan kita. Dalam Zakharia kita membaca “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6).

Ada banyak orang terjatuh ketika mereka mulai mencicipi keberhasilan. Bahkan ada banyak diantaranya anak-anak Tuhan dan para hamba Tuhan yang juga terjatuh karena menyombongkan keberhasilannya. Jangan sampai kita mencuri hak Tuhan beserta kemuliaanNya dengan menganggap bahwa semua itu adalah hasil usaha keras kita semata, dengan menjadi sombong membanggakan kehebatan, kepintaran dan kekuatan kita. Semakin tinggi kita naik, hendaklah kita semakin rendah hati. Ingatlah bahwa Roh Kudus hanya bisa bekerja dengan leluasa dalam sebentuk hati yang tetap penuh dengan kerendahan dan terus berserah sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Paulus menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan, ia tidak akan pernah bisa berbuat apa-apa. Mari kita teladani hal ini. Tetaplah bersyukur, lakukan yang terbaik, dan jangan pernah lupa untuk memuliakan Tuhan atas segala yang kita peroleh hari ini.

Kasih karunia Tuhan memampukan kita mencapai keberhasilan, tanpa itu kita bukanlah apa-apa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply