Ikut-Ikutan

Ayat bacaan: Amsal 1:10==================”Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut”Dalam berbagai berita kriminal kita sering melihat sebuah tindak kejahatan yang dilakukan secara berkelompok alias tidak sendir…

Ayat bacaan: Amsal 1:10
==================
“Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut”

Dalam berbagai berita kriminal kita sering melihat sebuah tindak kejahatan yang dilakukan secara berkelompok alias tidak sendirian. Yang umum terjadi, hanya satu atau dua dari mereka yang merencanakan tindakan sejak awal, sedang yang lain hanya ikut-ikutan. Meski yang ikut-ikutan ini mungkin nantinya mendapat hukuman lebih ringan, tetap saja mereka harus menjalani hukuman tergantung dari bagaimana hakim menilai peran serta mereka dalam tindak kejahatan tersebut. Dalam sebuah kunjungan ke lembaga permasyarakatan, ada seorang narapidana yang menangis mengungkapkan penyesalannya. Ia bercerita bahwa ia hanya ikut-ikutan karena mengharapkan imbalan untuk menghidupi keluarganya. Terbelit kondisi ekonomi yang sulit bisa membuat orang terpengaruh lantas tergoda lalu akhirnya terjebak. Ada juga yang tertangkap karena kedapatan menyimpan obat terlarang, ia pun terjerumus karena tergoda ikut perilaku buruk temannya. Teman baik saya saat masih di sekolah menengah pertama awalnya punya prestasi, tetapi karena ia berada dalam lingkungan pergaulan yang buruk, ia mulai sering cabut dengan melompat dari tembok belakang sekolah. Meski sudah diingatkan, ia ternyata tidak mau mendengar. Ia tidak tamat sekolah dan sekian tahun berikutnya saya kebetulan bertemu, ia hidup susah, luntang lantung hidup sendirian. Contoh lainnya? Saya pernah bertemu dengan seorang anak muda yang terkena penyakit mematikan karena mempergunakan suntik bergantian ketika memasukkan zat terlarang ke dalam tubuhnya. Contoh-contoh ini hanyalah sedikit dari konsekuensi buruk akibat tergoda ikut-ikutan ajakan orang yang menyesatkan.

Banyak orang yang mengira bahwa ikut-ikutan tidaklah separah pelaku utama. Mungkin sepintas bisa benar, tetapi akibat yang ditimbulkan bisa saja fatal sehingga penyesalan pun menjadi tidak lagi berguna. Kalaupun tidak separah atau sefatal itu, kalau dibiarkan lama-lama kita tidak lagi peka dan akan mudah sekali terperosok semakin jauh masuk dari satu dosa kepada dosa lainnya. Itu juga sangat berbahaya.

Jauh sebelum masa sekarang Salomo sudah mengingatkan kita akan pentingnya mencermati lingkungan pertemanan kita. “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.” (Amsal 1:10). Ayatnya singkat saja, tetapi mengandung pesan yang sangat penting untuk kita cermati. Salomo dengan hikmatnya sudah melihat kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam dosa bermula dari bujukan dari orang yang sudah terlebih dahulu dipenuhi dosa. Orang yang bisa membujuk kita tentu orang yang dekat dengan kita, setidaknya kita kenal. Orang-orang yang dikuasai dosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan kita kerap menuruti mereka lewat banyak alasan. Gengsi jika menolak, takut dianggap kuno, ketinggalan jaman, kampungan dan sebagainya bisa menjadi awal bagi kita untuk mulai menuruti bujukan mereka. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengingat pesan Salomo ini baik-baik.

Kalau kita rajin membaca Alkitab, kita tentu sudah tahu betul konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh pembiaran kita atas dosa. Bisa jadi semula kelihatannya sederhana lewat keinginan-keinginan daging yang menjanjikan kesenangan, kenikmatan dan hal-hal menggiurkan lainnya yang ditawarkan pada kita. Tetapi walaupun kelihatan sepele, ingatlah bahwa hal seperti ini bisa menjadi awal datangnya bencana dalam hidup kita. Dalam Yakobus kita bisa melihat firman Tuhan berbunyi seperti ini: “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:15). Sebuah keinginan untuk sedikit-sedikit keluar dari kehendak Tuhan bisa jadi biasa saja di mata kita. Tapi ketika keinginan kemudian akan dibuahi dan melahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita, maut pun hadir disana. Ini adalah hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang sesat. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Jangan-jangan bukannya menjadi terang dan garam tetapi malah ikut terseret arus kesesatan dunia.

Seperti apa bentuk keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut itu? Paulus pernah merincinya.“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu dikatakan tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Lihatlah jenis-jenis keinginan yang dikatakan bisa melahirkan maut itu. Bukankah itu bukan lagi hal yang asing bagi kita hari ini? Dimana-mana ada potensi penyesatan, dan apabila tidak hati-hati maka kita bisa dengan mudah masuk di dalamnya.

Ayat lainnya dalam Perjanjian Baru mengingatkan kita agar berhati-hati dalam bergaul. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada siapa kita bergaul. Benar, kita tidak boleh memusuhi siapapun, kita bahkan perlu menjangkau mereka yang berdosa agar bisa diselamatkan. Tetapi penting pula bagi kita untuk berhati-hati agar jangan malah kita yang korban karena termakan bujukan mereka.

Kembali kepada hikmat Salomo, perhatikanlah ayat selanjutnya yang mengatakan:  “..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri” (Amsal 1:18). Inilah yang dialami oleh orang-orang yang melakukan dosa. Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran, bukannya malah menyerahkan nyawa sendiri untuk berakhir sia-sia. Dunia yang kita tinggali saat ini memang penuh dengan kegelapan lengkap dengan berbagai penyesatannya. Tetapi kita jangan sampai serupa dengannya. Firman Tuhan pun mengingatkan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas besarnya kasih Allah pada diri kita untuk membinasakan semua itu. Alkitab menyatakan demikian: “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” (1 Yohanes 3:8). Semua sudah dikalahkan Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu, oleh karena itu kita seharusnya tidak lagi terjebak ke dalam tipu muslihat iblis yang akan terus berusaha menggiring kita untuk binasa lewat banyak cara.

Dosa-dosa memang bisa dikemas dengan indah dan penuh kenikmatan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita agar tidak termakan bujuk rayu mereka yang berdosa. Jangan berpikir bahwa hanya ikut-ikutan sekali-sekali itu tidak apa-apa, karena kalau yang fatal sudah terjadi, penyesalan menjadi tidak lagi berguna. Daripada ikut terbujuk rayuan dosa, jadilah agen-agen Tuhan yang berperan dalam menyelamatkan mereka.

Say no and never give any chance to sin

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply