Ibu Guru Ini Teraniaya di Hari Guru Nasional (1)

Hari Guru Nasional pada 25 November 2012 baru saja berlalu menjadi momen untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru di negeri ini.

Hari Guru Nasional diperingati bersamaan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang merupakan organisasi terkemuka kaum pahlawan tanpa tanda jasa.

Sungguh ironi, ditengah perayaan nasional untuk kalangan pencerdas anak bangsa ini, Nurbaiti, guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 81, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau, ini justru mendapatkan “hadiah” berupa tindak penganiayan dari seorang wali murid.

Peristiwa itu bermula ketika guru berusia kurang dari 49 tahun ini memulai aktivitas belajar mengajarnya di SDN 81, Marpoyan Damai, pada Senin (26/11).

“Ketika itu, saya sempat memarahi anak dari bapak yang menampar saya. Namanya Rizky, Kelas V-A. Di ruang kelas anak itu selalu ribut dan mengganggu teman-temannya yang sedang belajar,” katanya.
   
Setelah itu, Nurbaiti kemudian meminta sang murid tersebut untuk pulang. “Kalau tidak mau belajar, silakan pulang. Anak itu kemudian bergegas mengambil tasnya dan keluar ruangan,” katanya.
   
Tidak lama kemudian, demikian Nurbaiti, sang ayah, yang belakangan diketahui menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Hutan pada Dinas Kehutanan (Dishut) Riau bernama Sayid Nurjaya mendatanginya.
   
Pelaku kata dia, datang menemui korban dan langsung menamparnya sebanyak dua kali kebagian wajah bahkan dengan sangat keras.
   
“Dia (pelaku) menampar saya tanpa ada pembicaraan sebelumnya. Alasannya katanya saya menampar anaknya. Padahal tidak,” katanya.
  
Nurbiati mengaku, pelaku bahkan sempat “memamerkan” sepucuk senjata api dihadapannya sambil menyuarakan pernyataan ancaman akan membunuh dirinya beserta sang suami.
   
“Saya bunuh, suami kamu juga saya bunuh,” kata Nurbaiti menirukan perkataan pelaku ketika insiden penganiayaan berlangsung.
   
Pelaku penganiaya guru, Sayid, pada saat bersamaan (ketika wartawan mewawancarai korban) juga kembali mendatangi Nurbaiti.
   
Ketika itu, Sayid membawa beberapa orang pria tak dikenal yang mengaku sebagai anggota beberapa organisasi masyarakat di Pekanbaru.
   
Sayid mengaku kesal terhadap Nurbaiti yang dilaporkan anaknya telah menampar dan menyuruh anaknya itu untuk pulang.
   
“Belum pernah saya nampar anak saya sejak lahir hingga sekarang. Saya sudah siap berhenti jika memang pada kasus ini saya yang bersalah,” katanya.
   
Bayangkan saja, demikian Sayid, anak yang baru berusia delapan tahun ditampar dengan orang dewasa yang tidak lain adalah guru sekolahnya.
   
“Makanya, saya tampar lagi muka orang yang menampar anak saya itu,” katanya. bersambung

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: