I Shall Not Lack

Ayat bacaan: Mazmur 23:1
===================
“THE LORD is my Shepherd, I shall not lack.”

takkan kekurangan

Tanpa diketahui menderita sakit, tiba-tiba istri seorang gembala cabang di gereja saya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Semua berlangsung begitu cepat, diawali keluhan pening tetapi beberapa jam kemudian beliau sudah tiada. Bisa dibayangkan kepergian mendadak pasti mengguncangkan suami dan anak-anak yang ditinggalkan. Sepintas mungkin kita bisa berpikir betapa tidak adilnya Tuhan mengambil kebahagiaan dari hidup hambaNya. Tetapi apakah itu yang dirasakan oleh bapak Pendeta? Tidak. Dia sudah kembali aktif melayani dalam waktu yang tidak terlalu lama. Beliau pasti kehilangan, itu pasti. Tetapi beliau pun menyadari bahwa semua itu merupakan hak Tuhan, dan beliau tahu harus merelakan kepergian istrinya tanpa harus menyalahkan Tuhan. Bagaimana ia sanggup? Sebuah ayat yang tidak pernah gagal menjadi kekuatan bagi saya pribadi pun ia hadirkan, dan itu saya jadikan ayat bacaan hari ini: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” “The Lord is my Sheperd, I shall not lack.” (Mazmur 23:1).

Ayat ini merupakan ayat yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Kita kenal dengan ayat yang berasal dari Mazmur Daud ini, tetapi seberapa jauh kita menghidupinya dalam keseharian kita? Seberapa jauh kita mampu mengimaninya ketika kita mengalami kepedihan atau penderitaan? Daud menyatakannya dengan singkat namun padat dan jelas. Ia mengatakan meski apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah kekurangan. Apakah karena kekuatannya, kehebatannya, kemampuannya dan ketahanannya? Sama sekali tidak. Daud tahu bahwa kekuatannya sebagai manusia sangat terbatas. Pada situasi-situasi tertentu kemampuan manusia yang sehebat apapun tidak akan mampu lagi berbuat apa-apa. Daud tahu adalah percuma untuk menggantungkan hidup kepada kemampuannya sendiri, meski ia adalah raja Israel sekalipun dengan kekuasaan yang besar. Daud bisa berkata bahwa ia tak akan kekurangan karena menyadari keberadaan Tuhan sebagai Gembala yang baik atas hidupnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Bacalah ayat-ayat selanjutnya dalam Mazmur pasal 23 ini dan anda akan merasakan kebesaran Tuhan dengan peranNya sebagai Gembala yang baik dalam hidup anda. “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (ay 2-3). Terasa begitu nyaman dan melegakan bukan? Ayat-ayat ini hadir dari Daud yang mengalami begitu banyak masalah dalam hidupnya. Berkali-kali ia menghadapi ancaman, dikejar-kejar dan tersisih dari bangsanya sendiri, berkali-kali ia menghadapi situasi yang mengancam nyawanya, tetapi ia bisa meletakkan dan mempercayakan seluruh hidupnya ke dalam pemeliharaan Tuhan. Daud mengatakan semua ini bukanlah disaat ia tengah bersenang-senang, namun imannya cukup untuk memberi rasa tenang karena percaya kepada Tuhan sebagai Gembala yang baik bagi dirinya. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (ay 4). Baik dalam masa tenang maupun sukar, Daud menyadari bahwa Tuhan akan selalu ada bersamanya, sehingga ia  bisa berkata: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (ay 6). Mengagumkan bukan? Mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan hal ini di saat kita tengah berada dalam kondisi yang baik, tetapi seberapa jauh kita masih bisa mengimaninya ketika masalah tengah bertubi-tubi menghampiri kita?

Yesus sendiri berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Ayat sebelumnya berkata: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (ay 10). Seperti itulah sosok Gembala yang selalu menaungi kita. Masalah bisa saja datang melanda hidup kita, tetapi Tuhan menjanjikan kita untuk tetap memiliki hidup. Bukan sekedar hidup tetapi dalam segala kelimpahan. Kelimpahan? Tidak kekurangan? Ya, tepat. Meskipun masalah hadir dalam hidup kita, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaanNya yang sanggup memberi kekuatan, memberi kelegaan, memberi perlindungan, memberi harapan, dan itu semua Dia sediakan bukan secukupnya melainkan secara berkelimpahan. Bapak Pendeta itu merasakan bagaimana Tuhan sanggup memberinya kekuatan pada masa-masa sulit, dan ia menyadari bahwa tidak ada alasan baginya untuk kecewa kepada Tuhan dan meninggalkanNya. Tidak. Dia tetap setia melayani Tuhan, meski belahan jiwanya telah dipanggil terlebih dahulu untuk masuk ke dalam KerajaanNya yang penuh damai sukacita, tanpa ratap tangis penderitaan lagi seperti yang kerap kita alami di dunia ini.

Ketika kita mengalami situasi penuh penderitaan, mampukah kita untuk terus percaya bahwa kita tidak akan pernah kekurangan kekuatan? Percayakah kita bahwa penyertaan Tuhan akan selalu memberi peneguhan dan kelegaan dalam memikul beban berat? Ketika jiwa kita serasa dicabik-cabik oleh penderitaan, yakinkah kita bahwa kita tidak akan pernah kekurangan sukacita? Ketika ada peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kendali kita, mampukah kita mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas atau kita masih sibuk menggantungkan diri kita kepada kekuatan diri sendiri atau manusia lain yang terbatas? Dalam situasi sesulit apapun, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia tidak akan pernah kalah oleh apapun. Tidak ada satupun masalah yang tidak mampu Dia atasi. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam ketika kita benar-benar membutuhkan jamahanNya. Dengan menyadari itu, kita pun bisa berkata seperti Daud, Tuhan adalah gembalku, takkan kekurangan Aku.

Tuhan akan selalu bersama kita dan menepati janjiNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply