Hukuman Demi Kebaikan

Ayat bacaan: Ibrani 12:11
=====================
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

hukuman demi kebaikan, Tuhan menghukum orang karena kasihNya

Sebagai seorang pengajar/pendidik, ada kalanya saya harus memberikan hukuman pada mahasiswa yang tidak disiplin. Ketika mereka tidak tepat waktu mengumpulkan tugas, dengan berat hati saya terpaksa memotong nilai mereka. Ada kalanya saya menegur mereka ketika lalai, di lain waktu ada tugas-tugas tambahan yang saya berikan jika diperlukan. Sejak awal memang saya sudah mengingatkan mereka bahwa ada konsekuensi yang harus mereka terima jika mereka tidak mentaati aturan.Dari sisi mahasiswa mungkin ada yang merasa bahwa pengajar itu seenaknya memberikan hukuman dan tugas-tugas, tidak mau mengerti penderitaan mereka bergadang mengerjakan semuanya. Padahal semua itu bertujuan baik. Saya ingin melatih mental dan disiplin mereka karena menghadapi ganasnya persaingan dunia kerja tidaklah mudah, apalagi hari-hari ini ketika dunia ditimpa krisis global. Selain skil dan kemampuan, saya beranggapan disiplin dan kekuatan mental menjadi faktor yang sangat penting untuk dijadikan modal awal mereka. Maka segala hukuman itu akhirnya harus diberikan demi kebaikan mereka sendiri. Saya akan merasa bahagia jika mereka berhasil, seperti mendengar salah satu siswa yang paling disiplin tahun lalu kini mendapat pekerjaan di Singapura. Ini buah kedisiplinan, ini buah yang ia petik setelah tekun belajar sekian lama.

Dalam banyak hal, di dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa menemukan hal yang kurang lebih sama. Terkadang kita merasa seolah-olah kita dibiarkan sendirian menghadapi masalah. Ada orang yang menganggap Tuhan jahat, tidak peduli penderitaan kita. Seolah-olah Tuhan tidak mendengar seruan kita meminta pertolongan. Hal ini bukanlah barang baru, karena dalam Perjanjian Lama pun kita berulang kali mendengar keluhan yang sama dari beberapa nabi. Mari kita lihat beberapa contoh: “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?” (Habakuk 1:2). Daud pun pernah mengalami hal yang sama berkali-kali, misalnya pada ayat ini: “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2). Atau lihatlah keluhan dan tuduhan Ayub terhadap Tuhan dalam Ayub 16:1 – 17:16. Terkadang sulit bagi kita untuk menyadari betapa besar kasih Allah pada kita di saat kita sedang mengalami penderitaan. Tapi ingatlah, bahwa Tuhan terkadang mengijinkan penderitaan hadir dalam hidup kita, atau bahkan menghukum kita, bukan karena ingin menyiksa, namun bertujuan demi kebaikan kita. Tuhan ingin kita dibentuk agar lebih baik lagi, lebih kuat lagi, tidak manja, dan akan semakin menyerupai Kristus. Sebuah hukuman pada waktu diberikan tentu tidak menyenangkan, hal itu akan mendukakan kita, namun pada akhirnya, ada buah-buah kebenaran yang akan diperoleh dari itu semua. “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12:11).

Betapa pun beratnya sebuah penderitaan hidup, hal tersebut terkadang digunakan Tuhan untuk membuat kita lebih baik lagi, melatih kedisplinan kita, melatih iman kita, melatih tingkat percaya secara total kepada Tuhan. Meski Daud berkali-kali menanyakan kepedulian Tuhan, akhirnya Daud menyadari bahwa semua itu mendatangkan kebaikan baginya. “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. (Mazmur 119:71). Ayub yang mengalami penderitaan yang begitu mengerikan pun akhirnya berkata: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal….Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.(Ayub 42:2,5). Habakuk juga demikian, pada akhirnya ia berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Habakuk 3:17-19).

Tuhan bisa dan terkadang harus menggunakan penderitaan hidup sebagai sarana untuk membujuk, menegur, memperingatkan kita dan mengajar kita untuk mau berubah menjadi lebih baik lagi. Beberapa hari ke depan kita akan melihat beberapa pelajaran tentang proses pemurnian, pembentukan ulang bahkan hukuman yang tercatat dalam Alkitab, dimana semuanya adalah untuk kebaikan kita sendjiri juga. Apa yang kita alami tidaklah menyenangkan, tidak mudah sama sekali, namun itu semua demi kebaikan kita sendiri. Namun lewat hal itu lah kita akan semakin mampu belajar dan menyadari kebenaran firman Tuhan, dan akan semakin mampu melihat “masterplan” Tuhan yang luar biasa untuk hidup kita dengan kacamata iman yang kuat. Pada akhirnya, kita akan mengalami pertumbuhan hingga mampu menghasilkan buah kebenaran yang akan membawa kita pada damai sejahtera dan keselamatan kekal. “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17).

Bersyukurlah ketika menerima hukuman dari Tuhan karena itu artinya Dia begitu mengasihi kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply