Hujan Lagi, Hujan Lagi

Ayat bacaan: Filipi 4:8
==================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

hujan lebat, bersungut-sungut, mengeluh, memuji Tuhan

Kemarin hujan lebat mengguyur kota. Saya ketika itu baru saja selesai mengajar, dan akibatnya terjebak di kampus untuk menunggu hujan setidaknya sedikit reda. Sembari menunggu, saya pun iseng-iseng membuka jejaring Facebook. Ketika itulah ada seorang pegawai kampus yang mengumpat “sial, hujan begini, gimana bisa pulang!?” Tepat setelah itu, di depan mata saya terbentang status seorang teman saya di Facebook yang berbunyi: “Puji Tuhan hujan turun, cuaca bisa menjadi lebih sejuk.” Kondisi yang sama, komentar yang berbeda. Dua cara pandang yang berbeda bisa muncul dari satu hal yang sama. Si pegawai tidak bisa pulang, itu bisa menjadi masalah memang. Saya terjebak di kampus, artinya saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya dengan cepat, akibatnya saya harus bekerja lebih lama nanti. Apakah teman saya yang memuji Tuhan itu kebetulan sedang santai di rumah sehingga ia bisa bersyukur? Melihat dari jam ketika hujan lebat itu terjadi, sepertinya ia sedang berada di kantor. Jadi ia pun bisa mendapat kesulitan akibat hujan itu.

Adalah sangat sulit bagi manusia untuk bersyukur ketika ada kendala atau kesulitan yang terjadi dalam hidup. Bersungut-sungut, mengeluh bahkan mengumpat begitu mudahnya keluar dari mulut kita. Ketika ada masalah, alangkah sulitnya melihat sesuatu yang baik yang bisa dihasilkan dari kondisi itu. Sepertinya sudah menjadi sifat dasar manusia pada umumnya untuk tidak sabaran. Masalah bersungut-sungut sudah terjadi sejak dahulu kala. Kita ingat bagaimana bangsa Israel terus menerus bersungut-sungut, mengeluh bahkan berkata sinis kepada Musa setiap kali mereka menemukan kendala. Padahal serentetan mukjizat sudah berulang kali mereka alami. Sangat mudah untuk mengeluh, tapi sangat sulit untuk bersyukur. Manusia sepertinya begitu cepat untuk terusik ketika zona nyamannya terganggu. Berdoa itu satu hal, tapi mengutuk adalah hal yang berbeda. Yakobus menyoroti hal itu. Betapa sulitnya kita untuk mengendalikan lidah kita. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5). Bahkan dikatakan demikian: “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” (ay 8). Lewat komentar negatif tidak akan ada hal berguna yang bisa kita dapatkan. Malah emosi kita bisa meningkat dan akan mengarahkan kita kepada macam-macam dosa atau membuat kita jatuh sakit. Selain itu komentar negatif pun akan melemahkan kita cepat atau lambat. Di sisi lain, sikap senantiasa bersyukur akan selalu membawa sukacita dan damai sejahtera dalam diri kita. Ini akan jauh lebih produktif dibanding jika kita selalu mengisi hidup kita dengan keluh kesah dan omel-omelan yang tidak kunjung henti.

Untuk bisa mencegah lidah mengeluarkan hal-hal yang tidak produktif, kita harus mampu menjaga hati kita. Mengapa hati? “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34b). Dalam Injil Lukas disebutkan lebih jelas “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45). Selain hati, pikiran kita pun harus mampu kita kendalikan agar jangan selalu mengarah pada pikiran-pikiran yang negatif. Berbagai bentuk pikiran-pikiran yang jahat itu haruslah mampu kita kalahkan. Jangan tenggelam dalam pemikiran yang salah, menghakimi terlalu cepat, terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Sangat penting bagi kita untuk melatih pikiran kita agar dapat melihat sisi positif dari sebuah masalah yang hadir agar kita tidak terjebak pada sikap penuh keluhan yang tidak produktif itu. Kita harus mampu menawan segala pikiran kita dan menaklukkannya kepada Kristus. (2 Korintus 10:5b).

Apa yang menjadi kebiasaan anda hari ini. Apakah memuji Tuhan dalam segala hal, tetap bersyukur walaupun tengah menghadapi kesulitan, atau malah terbiasa mengeluh bersungut-sungut meski sedang tidak ditimpa masalah? Hidup tidak akan selamanya mudah. Selalu saja ada riak-riak kecil atau mungkin gelombang pasang yang bisa menerpa kita. Tapi itu bukan berarti bahwa tidak ada satupun hal baik yang ada di balik permasalahan yang bisa kita pakai untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Cara pandang yang berasal dari hati yang terjaga baik dan pikiran yang selalu ditaklukkan kepada Kristus tentu berbeda dengan cara pandang yang berasal dari hati yang tidak tertata baik dan pikiran yang dibiarkan mengembara bebas. Tuhan tidak pernah menutup mata dari persoalan kita. Pada saat yang tepat sesuai waktu Tuhan, Dia akan mengangkat kita keluar dari persoalan. Maka dari itu Tuhan menghendaki kita untuk terus memenuhi diri kita dengan ucapan syukur. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Paulus memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk melatih diri kita agar bisa terus bersyukur. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Belajarlah untuk bisa menarik hal positif dari persoalan yang terjadi dalam hidup. Jangan terbiasa mengeluh, mengumpat atau bersungut-sungut, karena selain tidak berguna, hal itu bisa membawa lebih banyak masalah lagi. Bersyukurlah senantiasa, dan berjalanlah tetap bersama Tuhan dengan pengharapan yang tidak henti-henti. Hujan boleh turun lebat, namun itu bukan alasan untuk berhenti memuji Tuhan.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply