HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18

“Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal”

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu”, itulah peribahasa untuk menggambarkan bagaimana panjang, lebar, dalam dan luasnya hati orang yang sedang saling mengasihi satu sama lain. Orang yang sungguh saling mengasihi berarti sehati dan sebudi, dan kiranya kata-kata tak akan mampu menjelaskan pengalaman indah, mesra dan nikmat dalam saling mengasihi, karena kasih memang bebas alias tak terbatas, tak mungkin terfahami oleh otak atau pikiran kita yang terbatas ini. Kasih sejati adalah Allah dan Allah adalah kasih; sebagai ciptaan Allah kita semua tak akan mampu memahami secara akal sehat siapa itu Allah, namun dalam pengalaman iman, harapan dan kasih kita dapat menikmatiNya, menghayati dan menikmati kasih Allah yang melimpah ruah. Hari ini adalah Hari Raya Tritunggal MahaKudus, hari untuk mengenangkan iman kita akan  Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Penjelasan perihal Tritunggal kita terima dari Yesus, dan apa yang disabdakan atau disampaikan mungkin sulit atau tak mungkin kita fahami dengan akal sehat, dan hanya dapat difahami dalam iman, harapan dan kasih; maka marilah dalam iman, harapan dan kasih kita renungkan sabdaNya pada hari ini, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Yohanes.

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan AnakNya yang tunggal, supaya orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:6)

Sebut saja namanya ‘Anton’, yang tergerak atau berminat untuk menjadi imam alias setelah menyelesaikan SMP ia ingin masuk ke Seminari Menengah. Namun karena ia adalah anak tunggal, maka dengan keras kedua orangtuanya melarang; ia adalah satu-satunya anak yang terkasih, maka kalau menjadi imam dengan demikian putuslah keturunan orangtuanya. Mempersembahkan anak tunggal kepada Allah untuk menjadi imam, yang diharapkan membaktikan diri seutuhnya demi keselamatan jiwa sesamanya, sungguh berat, dan memang butuh pengorbanan.  Kiranya jika Anton sungguh menjadi imam pasti cukup banyak orang yang kenal dia maupun orangtuanya akan merasa tak mampu memahami lubuk hati terdalam Anton.

Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah ‘Kasih’ kiranya juga sulit difahami oleh banyak orang dengan akal sehat saja, namun bagi mereka yang percaya kepadaNya pasti akan faham dan menikmatinya. Allah adalah maha segalanya, maka hanya iman kepercayaan sepenuhnya kepadaNya akan memahami. Memang orang yang tidak percaya tak akan mampu memahami, bahkan sering mengejek atau mencemoohkan orang-orang Kristen dan Katolik, antara lain dengan kata-kata “Katanya percaya kepada Tuhan Allah yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan di dalam Pancasila, tetapi gimana itu ada Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus? Berarti Allah orang-orang Kristen dan Katolik ada tiga”. Mendengar kata-kata macam itu jawab saja:”Allah adalah maha segalanya, maka Ia mau apa saja terserah, dan kita tak akan mampu memahami”. Saya sendiri ketika masih belajar di Sekolah Rakyat(SR), yang sekarang disebut Sekolah Dasar (SD), sering dalam perjalanan ke sekolah juga mendapat ejekan dari murid-murid sekolah Muhamadiyah/Islam, yang secara kebetulan sering berpapasan karena sekolah kami berdekatan. Ejekan yang pernah saya terima, maaf dalam Bahasa Jawa, adalah “Konjuk is asmo Dalem Hyang Romo, Hyang Putra, Hyang Suci, yang-yangan, yangmu dhewe”. Karena saya sendirian saja, maka ya diam saja, seraya berdoa dalam hati dengan harapan mereka tidak menyakiti secara phisik. Diejek dengan kata-kata tak ada yang berkurang sedikitpun pada diriku, justru ejekan tersebut merupakan penggemblengan imanku.

Maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan umat Kristen dan Katolik atau yang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus untuk menjadi saksi iman dengan hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling mengasihi, sebagai tanda atau bukti bahwa kita beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Hari Minggu yang lalu kita baru saja mengenangkan anugerah Roh Kudus dalam Hari Raya Pentekosta, maka baiklah tidak kita sia-siakan anugerah tersebut, artinya marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan atau bisikan Roh Kudus, yang tidak lain adalah Roh Allah  Bapa dan Putra/Anak. Dengan kata lain beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “ kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Maka ketika kita menghadapi ejekan atau cemoohan perihal iman kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus, marilah kita sikapi atau tanggapi dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas. Dengan menghayati anugerah-anugerah Roh Kudus tersebut, percayalah bahwa dengan demikian kita akan menikmati hidup kekal selamanya di sorga setelah meninggal dunia nanti.

Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera, maka Allah, sumber damai dan sejahtera, akan menyertai kamu. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus” (2Kor 13:11-12)

“Sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus” itulah ajakan bagi kita semua dari Paulus. Kiranya para suami-istreri atau bapak-ibu memiliki pengalaman mendalam dalam hal ini, sebagai pasangan hidup yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Maka kami berharap para bapak-ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menahayati ‘sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus’ ini. Ciuman yang kudus merupakan tanda atau bukti saling mengasihi, saling mempersembahkan diri seutuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Saling mencium juga berarti merupakan tanda hidup dalam damai sejahtera. Hidup dalam damai sejahtera berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, sumber damai dan sejahtera.

Setiap kali bertemu dengan orang lain kita juga saling memberi salam, misalnya “selamat datang, selamat pagi, selamat berjumpa, berkat Tuhan (berkah Dalem), asalamualikum, dst..”. Memang ada kemungkinan pemberian salam tersebut hanya sopan santun atau formalitas belaka atau sungguh keluar dari lubuk hati yang terdalam sebagai tanda saling mengasihi. Tentu saja kami berharap saling memberi salam tersebut merupakan luapan hati yang saling mengasihi, sehingga sungguh saling meneruskan damai sejahtera yang dianugerahkan Allah kepada kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam saling memberi salam sering  juga disertai dengan ciuman atau pelukan yang mesra dan nikmat, sehingga masing-masing merasa digairahkan hidupnya.

Hidup dalam damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan mengasihi pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa ada gejala saling menyandra dan menjatuhkan antar kelompok atau organisasi maupun pribadi di negeri tercinta ini.  Kami berharap kepada para tokoh hidup bersama di negeri kita tercinta ini sungguh dapat menjadi teladan dalam hidup damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan saling mengasihi, sebagai bukti pengahayatan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, dasar negara Republik Indonesia tercinta.

“Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya, terpujilah namaMu yang mulia dan kudus, yang patur dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam BaitMu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya” (Dan 3:52-53)

 Ign  19 Juni 2011        

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply