How Much Enough Is Enough?

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:6
=====================
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”

cukup, bersyukur, hamba uang

How much enough is enough? Ini pertanyaan yang sederhana namun biasanya cukup sulit untuk dijawab secara jujur. Batasan orang mengenai rasa cukup bisa beragam. Manusia cenderung sulit untuk merasa puas. Berbagai kebutuhan terus bertambah setiap saat. Dulu saya bisa hidup tanpa telepon, sekarang jika telepon selular saya ketinggalan di rumah saya sudah pusing. Dulu tanpa komputer hidup oke-oke saja, sekarang jika internet mati saya kerepotan. Perkembangan jaman membuat kebutuhan manusia pun berubah bertambah banyak di segala sisi kehidupan. Melihat tetangga punya mobil, kita pun ingin punya mobil. Sudah punya mobil? Tetap saja mobil tetangga lebih bagus. Sebagian pria menganggap wanita punya kebutuhan jauh lebih banyak dibanding pria. Banyak suami mengeluh istrinya terus saja belanja. Sepatu baru, tas baru, padahal yang lama belum juga puas dipakai. Tapi jaman sekarang ini pria pun banyak yang jadi pesolek, malah tidak jarang kebutuhan aksesoris sebagian pria justru melebihi kebutuhan wanita. Maka kita kembali pada pertanyaan, kapan kita bisa merasa cukup? Apa jika kita sudah punya mobil lebih dari satu, punya handphone lebih dari satu (satu GSM dan satu CDMA atau malah lebih), bisa makan di restoran, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bisa berbelanja tanpa pusing, bisa punya tabungan melewati 8 digit, dan seterusnya, kita akan merasa cukup? Kecenderungan manusia mengarah pada jawaban: belum cukup. Bahkan ketika kita sudah memiliki segalanya, seringkali rasa belum cukup itu malah bertambah. “Semakin banyak yang saya punya, semakin banyak pula yang tidak saya punya..” kata seorang teman pada suatu kali.

Jika mengacu pada Alkitab, how much enough is enough akan mengarah pada satu jawaban sederhana. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:8). Itu kebutuhan paling mendasar manusia yang seharusnya mendatangkan kata cukup jika sudah dimiliki. Mengapa demikian? Karena dari segala kebutuhan hidup, dua itu-lah yang paling vital. Jika kita lupa akan hal ini kita tidak akan pernah bisa bersyukur. Rasa tidak puas dan masih kurang akan terus menguasai diri kita. Ayat selanjutnya berkata: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” (ay 9). Inilah yang terjadi jika kita membiarkan diri kita untuk selalu mengejar kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan utama. Karena memburu uang, kita bisa menyimpang dari iman, terjatuh dalam lubang-lubang dosa dan menjadi seorang hamba uang. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” (ay 10).

Tidak mudah memang memiliki rasa cukup dan bisa bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini. Rasa selalu kekurangan akan membuat kita mengejar uang tanpa henti dan lupa beribadah. Lupa bersyukur, lupa menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan. Kalau tidak lupa, ya tidak sempat. Jika kita mampu mensyukuri apa yang kita miliki hari ini, kitapun akan mampu beribadah dengan khusuk tanpa terganggu berbagai keinginan. Setidaknya kita masih bisa makan dan punya pakaian bukan? Maka benarlah ucapan Paulus yang berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (ay 6). Ingatlah bahwa kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, dan nanti kita tidak akan dapat membawa apa-apa ke luar. (ay 7). Dalam Ibrani kembali diingatkan hal yang sama : “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Belajarlah untuk mampu mencukupkan diri dengan segala apa yang ada pada kita saat ini, dan bersyukurlah senantiasa. Buat apa merasa gelisah dan tak pernah cukup jika Tuhan sudah berjanji untuk tidak sekalipun meninggalkan dan membiarkan kita?

Yang terpenting adalah penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Paulus menyadari itu sepenuhnya. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi pasal 4, Paulus berkata bahwa ia tahu pasti apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan. Tidak ada rahasia dalam hal kenyang dan lapar, maupun kelimpahan dan kekurangan. Ia tahu itu semua, dan ia telah belajar mencukupkan dirinya dalam segala keadaan. (Filipi 4:11-12). Paulus tahu, yang terpenting adalah penyertaan Tuhan, karena bersama Tuhan ia akan mampu menanggung apapun. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (ay 13). Kebutuhan boleh saja banyak, boleh saja bertambah dari waktu ke waktu, namun janganlah hal tersebut dijadikan tolak ukur kita untuk merasa cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan hal yang paling dasar, dan bersyukurlah senantiasa.

Jangan dasarkan hidup pada yang tidak kita miliki, tapi bersyukurlah senantiasa dengan apa yang kita miliki

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply