Homili Mgr F.X Hadisumarta O.Carm – MINGGU BIASA XXXII/A/2011 Keb 6:13-17 Tes 4:13-18 Mat 25:1-13

PENGANTAR

Hari ini Yesus mengajar kita dengan perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh. Kerajaan Allah, yaitu tata kehidupan umat manusia yang diwartakan dan didirikan oleh Yesus berkali-kali digambarkan sebagai pesta pernikahan. Pesta pernikahan adalah gambaran sukacita dan kebahagiaan. Suatu kehidupan kristiani, jasmani maupun rohani sejati, yang harus disiapkan dengan baik, tekun, sungguh-sungguh. Gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh atau teledor, keduanya itu merupakan gambaran perbedaan sikap sadar terhadap kehidupan kristiani sejati.

HOMILI

Perumpamaan tentang sepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh/teledor itu hanya terdapat dalam Injil Matius. Tafsiran pertama perumpamaan ini menunjukkan situasi yang dihadapi Yesus. Secara singkat: ada orang-orang yang mendengarkan ajaran Yesus dan mau menerimanya, dan ada pula yang menolaknya. Kesimpulannya: "Siap sedialah selalu, sebab engkau tidak tahu kapan Ia akan datang". Tafsiran kedua yang lebih mendalam: perempumaan itu menggambarkan Gereja dan pribadi warga-warganya. Kristus Almasih sudah datang, tetapi meskipun sudah dibaptis menjadi warga Gereja, menjadi orang kristen, namun belum melihat, mengalami dan merasakan adanya kegembiraan dan kebahagiaan Kerajaan Allah bagaikan pesta pernikahan, sebab bersikap acuh tak acuh sebagai orang beriman. Padahal siapsiaga dan tekun mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah adalah suatu syarat mutlak untuk menyambut kedatangan Kristus.

Apa sebenarnya kesiapsiagaan yang harus dimiliki dan dilakukan untuk sungguh merasa gembira dan bahagia dalam Kerajaan Allah, atau sebagai komunitas orang-orang pengikut Yesus? Tak lain tak bukan ialah berbuat baik terhadap orang lain/sesama. Perbuatan baik apa? Dalam Injil Matius ditegaskan di banyak teks apa yang harus kita lakukan untuk berbuat baik, yaitu: menghindari perbuatan jahat (15:19), mengasihi musuh (5:44), saling mengasihi (25:12), mengampuni orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita (18:21-35), memiliki iman yang teguh (21-21), setia kepada Yesus (10:32) dan mengasihi Allah sepenuhnya (22:37). – Memiliki dan melakukan semua itu, itulah kesiapsiagaan sebagai syarat mutlak untuk bertemu dengan Allah dan merasa sungguh bahagia!

Kita sungguh membutuhkan minyak untuk hidup kita . Gadis-gadis bodoh/teledor bersikap acuh tak acuh, tidak ambil using, tak peduli, tak menyiapkan pelaksanaan tugas mereka. Dalam khotbah-Nya di bukit Yesus berkata: "Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat 5:16) . Nah, minyak yang dimaksudkan dalam perumpamaan itu adalah berbuat baik terhadap sesama. Orang-orang yang bijaksana ialah mereka, yang selalu menaruh perhatian dan ikut prihatin akan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, baik dalam keluarga masing-masing, dalam tetangga atau lingkungan, bahkan kepada orang-orang yang tidak dikenalnya.

Kita kerapkali memiliki lampu/pelita, namun kita tidak punya minyak untuk menyalakannya! Beata Teresa dan Kalkuta berkata:

“Apakah minyak untuk pelita kita dalam hidup kita?
Minyak pelita kita ialah hal-hal kecil sehari-hari:
Kesetiaan, tepat waktu, kata-kata lembut, prihatin
terhadap orang lain, tahu berdiam diri bila perlu,
tahu memilih waktu, tahu kapan berbicara, kapan bertindak.
Inilah tetesan-tetesan air kasih, yang mampu membuat
hdup kita bersinar terang sebagai orang beriman”.

Itulah yang dilakukan Beata Teresa dari Kalkuta. Sumber minyak itu baginya adalah Allah dalam diri Yesus, yang siap siaga terhadap kehendak Allah.

Apakah sumber minyak kita? Sama! Sumber minyak yang kita butuhkan supaya pelita kita dapat menyala dengan terang ialah Allah sendiri. Karena itu hubungan kita dengan Allah harus selalu ada dan dipelihara. Kita harus selali siap dan siaga mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Dan Allah justru berbicara melalui keadaan dan kebutuhan orang-orang sesama kita. Perbuatan-perbuatan baik kita kepada sesama, itulah pelita terang yang menunjukkan kita kedatangan Kristus sebagai Mempelai Gereja dalam hati kita, bagaikan dalam pesta pernikahan!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm http://www.imankatolik.or.id/homili_mgr_hadisumarta_ocarm.html

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply