Hipnoterapi Membantu Pembimbing Retret

Sebagai hipnoterapis, tidak sekali dua kali saya menerima klien yang sebelumnya pernah mengikuti semacam  retret dan sesi penyembuhan luka batin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok agama (bukan hanya Katolik).

Mereka merasa bahwa mengikuti acara atau sesi semacam itu hingga beberapa hari atau beberapa sesi pertemuan sangat membantu, karena mereka dibawa ke pengenalan diri dan kesadaran yang lebih tinggi.

Walaupun begitu klien-klien itu juga mengakui  ada sesuatu yang tertinggal, sehingga terasa tidak tuntas, tidak benar-benar plong. Malah ada yang menyebutkan kesedihan yang berusaha ditekan dan dilupakan itu menjadi semakin terasa, ibarat  luka yang dikorek-korek kembali tetapi tidak diobati hingga sembuh.  Itu sebabnya mereka kemudian mencari hipnoterapis. Tentu, ada berbagai kemungkinan mengapa hal itu terjadi; bisa karena faktor klien bisa pula faktor konselor atau pembimbing, atau faktor metode.

Beberapa dokter yang belajar hipnoterapi mengakui dapat menolong pasien secara lebih efektif dan efisien. Mereka mengobati simptom penyakit secara medis, namun pada kasus tertentu cukup memberi placebo + teknik hipnoterapi atau obat + teknik hipnoterapi.  Dengan demikian masalah fisikogenik + psikogenik dapat diselesaikan sekaligus. Otoritas tinggi sebagai dokter membuat  sabda pendita ratu mudah terjadi.

Teman-teman yang memiliki otoritas tinggi di mata umat dan masyarakat seperti kepala sekolah, guru, psikolog, banthe, pendeta, biarawati /biarawan pun demikian. Pengetahuan mengenai teori pikiran dan teknik-teknik hipnoterapi sangat  membantu dalam menolong sesama.

Para pembimbing retret dan konselor penyembuhan luka batin dapat memperoleh manfaat yang sama positifnya dari penguasaan ilmu hipnoterapi. Mereka dapat menembus pikiran bawah sadar secara lebih mudah dan tepat, dimana akar masalah tersimpan dalam dan tersembunyi.

Sebagai catatan, Gereja Katolik dapat menerima praktik hipnoterapi. Tahun 1847 gereja telah mengeluarkan pernyataan tidak melarang penggunaan hipnoterapi, selama tidak dimanfaatkan secara bertentangan dengan ajaran moral gereja.  Paus Pius XII tahun 1956 dan 1957 juga mempublikasikan pernyataan bahwa hipnoterapi merupakan praktik ilmiah, sehingga boleh digunakan untuk membantu umat sepanjang tidak bertentangan moral gereja.

Dengan teknik hipnoterapi bahkan relasi umat dengan diri sendiri, Tuhan dan sesama dapat diperbaiki.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: