Hipnoterapi Bukan Penguasaan Pikiran

Para penonton televisi yang pernah atau sering menyaksikan acara hiburan dari Rommy Raffael dan Uya Kuya, tak sedikit yang mengira bahwa hipnoterapi sama dengan penguasaan pikiran. Seolah-olah terapis sedemikian berkuasanya atas pikiran klien, sehingga klien akan tunduk
patuh terhadap apa pun yang diperintahkan oleh terapis.

Anggapan semacam itu tentu saja kurang tepat. Hipnoterapis melakukan tugasnya  berdasarkan “kontrak”  dengan klien, berupa persetujuan dan kesepakatan dengan pikiran bawah sadar klien. Bila klien tidak sepakat dan setuju untuk diterapi, maka hipnoterapis tidak dapat melakukan
tugasnya.

Hipnoterapi bukan seperti healer atau dokter, yang bisa memaksakan kepada pasien dengan cara apa pun yang penting obat atau jamu itu dapat dikonsumsi atau dipakai. Tidak ada obat, jamu, alat pijat, minuman, minyak, bebauan, musik atau semacamnya yang diberikan kepada
klien maupun di ruang terapi.

Terapis dalam praktek hipnosis dapat diibaratkan co-driver yang duduk di sebelah driver.  Dia tahu bagaimana cara mencapai tujuan dan tugasnyalah membantu klien mencapainya; namun terapis tidak pegang kemudi. Driver yang memegang stir adalah klien sendiri.

Ibarat komputer, klien yang memegang mause sedangkan terapis hanya duduk di sampingnya sambil memberi saran untuk mengklik folder dan file tertentu. Jika pemegang mause menolak, maka terapis tidak bisa apa-apa. Jadi, hipnoterapi bukan penguasaan pikiran; sebab pikiran maupun
perasaan dan tubuh klien yang menguasai adalah klien sendiri.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: