Hidupku di atas Bukit, Kadang Terjun ke Lembah

Grampian Hills“Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran.” (Yes 40, 4) DI wilayah Banyumas dan sekitarnya berlangsung pengeprasan bukit di beberapa tempat, seperti: pengeprasan bukit di daerah Kemranjen, Rawalo, dan di daerah Cilopadang, Majenang. Ada proses pengeprasan yang terus […]

Grampian Hills

“Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran.” (Yes 40, 4)

DI wilayah Banyumas dan sekitarnya berlangsung pengeprasan bukit di beberapa tempat, seperti: pengeprasan bukit di daerah Kemranjen, Rawalo, dan di daerah Cilopadang, Majenang. Ada proses pengeprasan yang terus berlangsung; ada pula proses yang berhenti karena desakan warga.

Banyak tanah berbukit yang dikepras untuk menimbun tempat yang lain atau untuk menggali sumber alamnya.

Sekian ribu tahun yang lalu, Yesaya juga pernah menyerukan agar bukit diratakan, lembah ditimbun. Yesaya menyerukan hal ini bukan demi alasan bisnis atau ekonomis, tetapi sebagai persiapan datangnya Juru Selamat.

Bukit adalah tanah yang tinggi dan lembah adalah bagian tanah yang rendah. Tanah juga bisa berlekuk-lekuk atau bergelombang dan jalan bisa berbelok-belok. Apa yang diserukan oleh Yesaya tentu tidak hanya menunjuk pada kenyataan alam atau kondisi jalan. Kenyataan itu sesungguhnya bisa menjadi gambaran kehidupan umat manusia.

Hidup manusia sering berada dalam situasi seperti bukit dan lembah, kadang di tempat tinggi dan sering di tempat rendah, sering naik dan turun. Orang lain mengatakan bahwa hidup itu seperti roda yang berputar: ada saatnya di atas dan saat lain di bawah.

Ada saatnya berhasil, ada pula saat gagal; ada saat gembira, ada pula saat duka; ada saatnya punya jabatan tinggi, ada pula saat lain direndahkan; ada saatnya punya peran dan fungsi begitu banyak, ada saat terpinggirkan.

Demikian pula, hidup manusia itu sering bergelombang atau berlekuk liku, artinya kehidupan yang bisa membahayakan atau membuat tidak nyaman orang lain. Misalnya sikap curiga dan permusuhan di tempat kerja.

Hidup manusia juga sering seperti jalan yang berkelok-kelok, artinya bisa membuat mual atau pusing orang lain. Banyak orang sering merasa mual dan muak kalau melihat polah para oportunis atau penggila jabatan dan kuasa.

Bagaimanakah kondisi hidupku saat ini? Apakah seperti bukit? Lembah? Bergelombang? Berkelok?

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Photo credit: Pinnacle Hal, Grampian Hills (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply