Hidup Serasa di Padang Gurun

padang gurun“Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan, ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.’” (Mrk 1, 4) SEORANG alumnus IPB pernah menemukan mikroba untuk menyuburkan kembali berbagai jenis tanah. Temuannya tersebut dinamai mikroba google, sebab mikroba ini dapat mencari dan menemukan berbagai potensi yang tersembunyi di dalam tanah. Alumnus tersebut […]

padang gurun

“Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan, ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.’” (Mrk 1, 4)

SEORANG alumnus IPB pernah menemukan mikroba untuk menyuburkan kembali berbagai jenis tanah. Temuannya tersebut dinamai mikroba google, sebab mikroba ini dapat mencari dan menemukan berbagai potensi yang tersembunyi di dalam tanah.

Alumnus tersebut mengatakan bahwa dalam 25 tahun mendatang, tanah kita akan berubah menjadi gurun pasir, kalau tidak mau menggunakan pupuk organik. Gurun pasir atau padang gurun tidak hanya ditemukan di wilayah Timur Tengah, tetapi juga bisa terjadi di wilayah kita. (Baca juga:  Kalau Mau Selamat, Taatilah Peraturan Lalu Lintas)

Gurun pasir menunjuk pada lahan yang rusak, gersang, kering dan minim air, tidak bisa menumbuhkan tanaman. Padang gurun atau gurun pasir tidak hanya menunjuk pada suatu wilayah atau lahan yang rusak, tetapi juga bisa menjadi kenyataan yang dialami oleh manusia.

Banyak orang sering mengalami situasi ‘padang gurun’ dalam kehidupan mereka, khususnya ‘kekeringan hidup rohani’. Pengalaman padang gurun terjadi karena seseorang membangun kehidupan tanpa melibatkan Allah. Atau karena orang larut dalam berbagai macam aktivitas sosial, politik, ekonomi dan keagamaan tanpa didasarkan pada akar-akar katolisitasnya.

Banyak orang terpaksa menyembunyikan iman kristianinya karena berbagai macam tekanan atau perlawanan yang dihadapi. Suasana padang gurun yang kering bisa terjadi di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja atau di tengah masyarakat.

Hidup bersama terasa hambar, tidak nyaman, komunikasi terputus, relasi begitu formal tanpa kehangatan.

Di padang gurun itulah Yohanes tampil dan berseru-seru serta mengajak banyak orang untuk bertobat; mengajak banyak orang untuk menemukan kembali suka cita dan kepercayaan; menemukan kembali nilai-nilai dasar kehidupan.

Yohanes membawa tempayan air untuk memberi minum orang-orang yang kehausan di padang gurun.

Siapakah diriku ini: orang yang kehausan dan kekeringan di padang gurun ataukah pembawa tempayan air, yang membawa kesegaran, kesejukan dan kehidupan?

Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply