Hidup sebagai Budak dalam Kemerdekaan

Ayat bacaan: Keluaran 1:11========================”Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.”Adakah orang yang m…

Ayat bacaan: Keluaran 1:11
========================
“Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.”

Adakah orang yang mau hidup dibawah tekanan perbudakan? Rasanya tidak ada. Semua orang menginginkan sebuah kemerdekaan seutuhnya dimana mereka bisa bebas dalam mengekspresikan diri tanpa paksaan, ancaman dan bentuk-bentuk represif lainnya. Lihatlah bagaimana pekik merdeka yang disertai wajah-wajah bahagia seperti yang terlihat pada film-film perjuangan kita dari masa ke masa. Salah seorang mantan pejuang kemerdekaan yang sudah sangat tua pernah bercerita pada saya bahwa pada saat Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, rasa plong, lega dan bahagia memang menyeruak di hati para pejuang di masa itu. Betapa tidak, mereka merasa tidak lagi perlu memanggul senjata mempertaruhkan nyawa, bisa tenang mengalami alam kemerdekaan bersama keluarga dan sebagainya. Kenyataannya bangsa kita masih harus mengalami masa-masa sulit di awal kemerdekaan tersebut dengan datangnya kembali tentara Belanda membawa sekutu-sekutunya dimana perang kembali pecah secara sporadis di beberapa daerah. Orang akan berperang melawan penjajahan. Orang akan memberontak dari perbudakan, kapanpun, dimanapun, itu akan selalu sama terjadi.

Bangsa Israel pun sempat mengalami masa-masa seperti itu. Seperti bangsa kita yang mengalami kerja paksa, mereka pun pernah mengalaminya ketika berada di bawah kekuasaan Mesir. “Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.” (Keluaran 1:11). Mereka diharuskan melakukan kerja rodi, alias kerja paksa yang diwajibkan oleh bangsa penjajah tanpa memperoleh upah apapun. Seperti apa beratnya an bagaimana mereka diperlakukan? “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” (ay 13-14). Belakangan mereka pun kembali mengalami pembuangan di Babel dan kembali harus mengalami kerja paksa ini. Jelas menjadi budak terjajah seperti itu sangatlah menyakitkan. Pahit, getir, penuh penderitaan.

Tidak ada satupun orang yang mau mengalami itu. Tapi sadarkah kita kalau bisa jadi, tanpa sadar kita masih terbelenggu di alam kemerdekaan? Kita berpikir bahwa kita sudah merdeka, tetapi sebenarnya kita masih berada dibawah perbudakan. Dengan menerima Kristus kita bukan saja diselamatkan tetapi juga dimerdekakan dari berbagai kuk perhambaan (Galatia 5:1). Kita pun sudah menerima anugerah hidup baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Itu benar adanya. tetapi kalau kita tidak sadar, jangan-jangan  kita masih terbelenggu oleh dosa-dosa atau kebiasaan buruk kita di masa lalu atau masih berada dibawah pengaruh si jahat yang terus menggoda kita melakukan berbagai pelanggaran. Bila ini yang terjadi maka status merdeka kita pun hanya tinggal status, karena kenyataannya kita masih terjajah dan terbelenggu oleh berbagai hal buruk, masih diperbudak oleh iblis dan terus menjadi hamba dosa. Ikatan ini bisa begitu kuat sehingga seperti bangsa Israel kita pun masih berpikir untuk lebih memilih menjadi bangsa terjajah ketimbang keluar dan menuai janji Tuhan. Lihat bagaimana bangsa Israel bersungut-sungut. “Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:12). Kita mungkin tertawa melihat kebodohan mereka, tapi bisa jadi kita pun masih bertindak seperti itu. Gelimang dosa dan kebiasaan buruk terkadang terasa begitu nikmat, sehingga kita lebih memilih untuk membiarkan diri kita binasa ketimbang berbalik untuk mengikuti jalan Tuhan dengan penuh ketaatan. Sebagian dari kita terus melakukan kerja rodi tanpa henti, mengorbankan segalanya demi memenuhi kebahagiaan menurut ukuran-ukuran dunia. Betapa berbahayanya dan ironis apabila kita yang seharusnya sudah merdeka masih memilih hidup di bawah standar perbudakan.

Lewat Kristus sesungguhnya kita sudah diberikan kemerdekaan, bukan kemerdekaan yang ala kadarnya tapi sebuah kemerdekaan yang sebenar-benarnya.”Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36). Benar-benar merdeka, bayangkanlah itu. Itu bukanlah sekedar omongan belaka, tetapi merupakan sebuah anugerah luar biasa yang sudah diberikan kepada kita. Masalahnya adalah, apakah kita benar-benar mau menghargai kemerdekaan sebenar-benarnya itu secara sungguh-sungguh atau kita masih memilih hidup di bawah perbudakan, menjadi hamba dosa, menjadi tawanan iblis?

Maka Paulus turut mengingatkan hal ini. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18). Hal ini dia ingatkan kepada jemaat Roma agar mereka sadar akan kelemahan mereka. “Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” (ay 19). “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran…Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” (ay 20, 22). Dan ia menambahkan sesuatu yang sangat jelas: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (ay 23). Ya, dalam Yesus Kristus. Itulah satu-satunya jalan untuk bisa terbebas sepenuhnya dari jerat iblis dengan berbagai jebakan dosanya.

Lantas apa yang harus kita lakukan agar kita tetap bisa hidup dalam kemerdekaan? “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:9-10). Itulah cara yang harus kita lakukan agar kita benar-benar bisa mengalami sebuah kemerdekaan secara utuh dan sepenuhnya. Tidak ada alasan bagi kita untuk terus hidup terjajah, karena bentuk kemerdekaan seutuhnya sudah diberikan pada kita lewat Kristus. Sudah selayaknya kita mensyukuri anugerah Tuhan yang luar biasa besar itu dengan hidup menjaga kekudusan dalam Yesus. Ingatlah bahwa kita adalah orang-orang merdeka. Oleh karenanya hiduplah sebagai orang merdeka dan tidak lagi tunduk kebiasaan-kebiasaan buruk yang mengarahkan kita ke dalam jurang kebinasaan sebagai orang-orang dibawah kendali si jahat.

Dalam Yesus kita menjadi orang-orang yang benar-benar merdeka, jangan mau lagi diperbudak oleh dosa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply