Hidup Kudus di tengah Masyarakat

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:12
=====================
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”

Siapa kita di mata orang-orang yang tinggal di lingkungan terdekat kita? Mudah-mudahan kita dikenal sebagai orang yang ramah, murah hati dan bertabiat menyenangkan. Suatu hari saya hendak mencari rumah seseorang dan mulai bertanya ke sekitar lokasi seperti gambaran alamat yang saya terima. Ternyata rumahnya masih beberapa gang lagi, tetapi meski masih lumayan jaraknya, banyak orang yang rupanya mengenal dia. Dari raut muka orang-orang itu yang tersenyum cerah saat menunjukkan arah menuju rumahnya, saya menduga bahwa orang yang hendak saya kunjungi ini dikenal baik dan disenangi orang disana. Seandainya ia tipe orang yang tidak disukai, tentu raut muka orang-orang yang saya tanyai tidak akan seramah itu. Atau kalau dia sifatnya tertutup dan tidak gaul, maka orang-orang itu tentu tidak tahu ketika ditanya.

Dari contoh kecil ini saja kita bisa melihat bahwa bersikap santun dan baik di lingkungan tempat tinggal itu sangat penting. Penting agar kita bisa tinggal dengan nyaman ditengah mereka, penting agar kehadiran kita bisa menjadi sebuah kabar gembira yang menunjukkan pribadi Kristus yang adalah kasih buat mereka. Sayangnya di tengah kehidupan manusia yang semakin individualis, hal ini semakin lama semakin terlupakan. Terutama bagi yang tinggal di perkotaan, rata-rata mereka tidak lagi mengenal siapa yang tinggal disekitarnya, bahkan yang berbatasan langsung sebagai tetangga terdekat. “Ah, kalau saya sok akrab nanti mereka pikir saya ada maunya…”, itu bisa jadi ada di benak orang sebagai alasan menjauh dari tetangga, atau ada pula yang buru-buru menghakimi seenaknya tanpa mengenal terlebih dahulu dengan baik. Itu masih lumayan dibandingkan sebagian lainnya yang justru menjadi batu sandungan bagi lingkungannya. Suka berbuat onar, dikenal berperilaku buruk dan sebagainya. Betapa ironis apabila sikap seperti ini yang dipertontonkan oleh mereka yang mengaku beriman pada Kristus. Kalau itu yang terjadi, jangan heran kalau orang akan tetap memandang sinis dan antipati terhadap pengikut Kristus dan bahkan terhadap Kristus sendiri.

Kemarin kita sudah melihat bahwa Yesus pun menganggap kebersatuan itu penting agar seperti halnya kesatuan antara Yesus dengan Bapa, demikian pula kita seharusnya bersikap agar dunia tahu dan percaya bahwa Tuhanlah yang memang mengutusNya turun ke bumi untuk menebus dosa kita (Yohanes 17:20-21). Kalau itu dianggap penting di mata Yesus, bagaimana dengan kita sendiri? Sosok seperti apa yang kita tunjukkan? Sudahkah kita mencerminkan gaya hidup Kristiani yang benar? Sudahkah kita hidup dengan menyatakan kasih kepada tetangga dan orang-orang di sekitar kita? Puji Tuhan jika sudah, karena alangkah ironisnya ketika Yesus meminta kita untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia, jangankan melakukannya, banyak yang malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Berbeda kepercayaan, berbeda status sosial, berbeda suku, bangsa, budaya atau bahkan bahasa sekalipun, tidaklah pernah bisa dijadikan alasan untuk menjauhi orang-orang yang ada disekitar kita. Apakah pagar rumah kita saat ini sangat tinggi, sehingga kita tidak pernah kenal siapa yang tinggal di sebelah rumah kita? Atau apakah disaat tetangga kita kelaparan, kita malah membuang-buang makanan, berpesta di rumah tanpa sedikitpun mempedulikan mereka? Apakah kita lebih tertarik untuk mengadopsi bentuk kehidupan dunia yang suka memperbesar perbedaan dan menjadikan itu sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan buruk ketimbang menghidupi cara hidup yang baik dengan menjadikan kesamaan sebagai dasar untuk sebuah persatuan? Apakah kita masih suka sedikit-sedikit tersinggung dan langsung memusuhi, hanya menuntut hak sendiri tanpa mempedulikan hak orang lain? Atau apakah kita suka untuk ikut menggunjingkan orang lain dan membesar-besarkan kekurangan orang lain? Apakah keluarga kita sudah menjadi teladan di lingkungan sekitar atau malah hobi bertengkar dengan suara yang terdengar sampai radius beberapa rumah dan bersikap tidak pantas terhadap tetangga-tetangga kita? Sikap kita, gaya, cara hidup kita ada yang memperhatikan. Bukan hanya manusia, tapi terlebih Tuhan.

Kita harus sadar bahwa kehidupan sosial di tengah masyarakat sangatlah penting untuk diperhatikan. Selain doa Yesus diatas, ayat lainnya lewat Petrus berkata seperti ini: “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12). Kita diingatkan untuk terus hidup suci dan taat ditengah-tengah masyarakat, terlebih ditengah-tengah orang yang belum percaya. Bukan pura-pura tetapi dengan sungguh-sungguh. Kita dituntut untuk menjadi terang dan garam dunia (Matius 5:13-16). Pesan ini bukan berarti kita bisa duduk santai tidak berbuat apa-apa atau yang lebih parah lagi menjadi batu sandungan bagi orang lain, karena jika demikian kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam bagi dunia.

Terang itu nyata bedanya dibandingkan gelap, garam pun memberi perbedaan nyata dalam masakan. Artinya kita dituntut untuk melakukan tindakan nyata secara langsung di tempat kita tinggal. Ada banyak orang yang mengira bahwa melayani Tuhan hanyalah di gereja saja sehingga mereka dengan mudah bisa berkelit tidak punya kemampuan atau tidak terpanggil untuk melayani. Padahal yang jauh lebih penting adalah memperhatikan betul bagaimana kita hidup di tengah masyarakat yang penuh kemajemukan. Apakah cara hidup kita sudah sesuai dengan firman Tuhan, sudah mencerminkan Kristus yang penuh kasih, atau malah bertolak belakang? Serajin apapun kita menjalankan tata cara beribadah, sekuat apapun kita melafalkan Firman Tuhan, semua hanya akan sia-sia dan hanya akan jadi cemoohan apabila ternyata pola hidup kita bertolak belakang. Bersikap seolah-olah alim, tapi hidupnya ternyata berbeda dengan apa yang dipertontonkan di depan orang banyak. Sepertinya bijaksana ketika berbicara tapi hidup penuh penipuan dan suka merugikan orang lain. Sikap seperti ini dikecam langsung oleh Yesus dalam Matius 5:1-36. Intinya, mereka ini tidak melakukan apa yang mereka ajarkan (ay 3). Ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20) bahkan mati. (ay 26).

Kita harus sadar bahwa kehidupan kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang manis bagi saudara-saudara kita yang belum percaya. Mereka bisa mengenal siapa Yesus Kristus dan bagaimana kuasa Yesus sanggup bekerja secara luar biasa lewat bagaimana kita hidup. Menjadi garam dan terang dunia, itulah yang seharusnya kita lakukan, dan itu sanggup membawa hasil jauh lebih baik dibandingkan hanya di mulut saja. Aplikasi nyata di tengah kehidupan sosial sesuatu yang mutlak kita lakukan. Mengasihi tetangga dan orang-orang disekitar kita, membantu mereka dalam kesulitan, peduli kepada mereka, bersikap ramah dan penuh kesabaran, menunjukkan sikap bersahabat, mendahulukan kepentingan orang lain, siapapun mereka, apapun latar belakang mereka, tanpa terkecuali, bahkan meski mereka menunjukkan sikap-sikap yang buruk terhadap kita. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi duta-duta Kristus yang baik, sehingga kita bisa mengenalkan pribadi Kristus yang benar beserta kebenaran yang Dia bawa dari Bapa Surgawi kepada mereka yang belum percaya.

Pagar rumah kita boleh saja tinggi, namun janganlah ketinggian pagar itu menjadi pembatas kita dengan orang-orang yang bersebelahan dengan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: