Hidup dalam Segala Kelimpahan (1)

Ayat bacaan: Yohanes 10:10
=====================
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

“Ah, saya masih muda, masih ingin senang-senang dulu, cari yang enak-enak.” Pikiran seperti ini dianut oleh banyak anak muda saat ini. Mereka beranggapan bahwa mengikuti Tuhan berarti harus ‘say goodbye‘ dengan segala sesuatu yang nikmat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, pendeknya semua yang enak menjadi terlarang. Sementara dunia terus menawarkan berbagai hal yang tampaknya menyenangkan. Mereka lupa bahwa apa yang terlihat menyenangkan itu pada suatu ketika bisa berubah menjadi awal dari kehancuran. Mabuk, hubungan bebas, obat-obatan, hura-hura, bukankah semua itu sepertinya nikmat? Korupsi mendatangkan banyak uang dalam waktu sekejap. Siapa yang tidak mau punya uang berlimpah sehingga apa saja bisa dibeli dan semua bisa dimanipulasi? Semua tampaknya menyenangkan. Tetapi sekali kena batunya, akibatnya bisa fatal. Masih untung kalau cuma harus jadi tahanan, bagaimana kalau akibat obat-obatan lantas overdosis dan celaka? Atau akibat hubungan bebas lalu terkena penyakit mematikan? Jebakan iblis tidak main-main. Tipuannya mantap, celakanya pun mantap.

Yesus sudah mengingatkan seperti ini “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” (Markus 8:36). Ini adalah hal yang serius. Sayangnya si jahat pintar mengemas perangkapnya sehingga banyak orang seperti tikus yang masuk dalam perangkap karena tergoda keju kemudian harus berakhir nyawanya. Di sisi lain, apakah benar mengikuti Tuhan berarti kita tidak bakal lagi merasakan kesenangan atau kebahagiaan dan teken kontrak untuk menderita? Apa sebenarnya yang dijanjikan Tuhan? Apakah memang benar semua itu kalah dibandingkan kenikmatan yang ditawarkan dunia?

Tuhan tidak menginginkan kita hidup susah, menderita, serba kekurangan, tetapi malah sebaliknya menjanjikan kita bukan saja kecukupan tapi juga kelimpahan. Itu jelas tertulis dalam ayat berikut. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Pencuri datang bukan cuma sebatas mencuri. Ayat ini jelas berkata bahwa mencuri saja belum cukup, tapi akan meningkat menjadi membunuh dan membinasakan. Dan yang sering terjadi, korban bukan hanya pelaku, tapi juga bisa melebar hingga kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Dari satu kesenangan kemudian menjadi malapetaka yang menghancurkan keluarga. Bukankah itu menyeramkan?

Sementara lihatlah apa yang dibawa Yesus dengan kedatanganNya. “Aku datang, supaya mereka (anda dan saya, kita), mempunyai hidup. Bukan hidup pas-pasan atau biasa saja, melainkan hidup dalam segala kelimpahan. Kelimpahan, itu artinya lebih dari cukup. Dalam bahasa Inggris dikatakan: “I came that they may have and enjoy life, and have it in abundance (to the full; till it overflows).” Wow, luar biasa bukan? Apa saja yang melimpah? Apabila kita melihat janji-janji Tuhan yang jumlahnya kalau dihitung tidak kurang dari 7000 buah, kelimpahan mencakup hikmat, sukacita, berkat, keberhasilan, kehidupan berkemenangan dan sebagainya. Coba bandingkan antara kesenangan atau kenikmatan sesaat yang berujung binasa dengan mengalami hidup yang overflow hingga kekekalan, tentu setelah kita tahu, kita tidak lagi mau salah pilih bukan?

Tetapi ingatlah bahwa ayat ini bukan berbicara secara sempit mengenai berkat materi yang berlimpah semata, meski mudah bagi Tuhan untuk melimpahi kita dengan berkat itu. Lebih dari berkat materi, hidup  yang berkelimpahan berbicara secara luas mengenai sebuah hidup yang menyenangkan hati Tuhan dan memberkati sesama, sebuah kehidupan yang dipenuhi damai sukacita dan kerinduan untuk berbagi, kehidupan yang penuh dengan kebaikan Tuhan yang mengarah kepada keselamatan kekal bersama Tuhan. Itu tidak akan pernah bisa diukur hanya dengan besar harta yang dimiliki.

Tuhan sanggup melimpahi kita dengan berkatNya yang melimpah dalam segala hal, namun ingatlah bahwa semua itu bukan untuk memperkaya diri, memberi rasa aman, membeli rasa bahagia dan sebagainya, melainkan untuk kita pergunakan memberkati sesama, memperluas KerajaanNya di muka bumi ini dan memuliakan Tuhan. Jika hati kita selaras dengan hati Tuhan dalam memandang berkat yang dicurahkan, pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan seperti apa yang tertulis dalam Alkitab: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Semakin banyak kita diberi artinya kesempatan kita untuk memberkati orang lain lebih lagi pun terbuka lebar. Ini prinsip Kerajaan Allah dalam menyikapi berkat, dimana kita bisa semakin memuliakan Sang Pemberi, Sang Pemilik dari segala-galanya.

Dalam hal takut kekurangan dan terus gelisah untuk menimbun sebenarnya menunjukkan ketidakkenalan kita kepada Allah. Menggantungkan kehidupan dengan prinsip-prinsip yang dipercaya dunia untuk mendatangkan kebahagiaan akan terus membuat kita semakin jauh dan semakin tidak mengenal Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan kita agar tidak khawatir dan terus berpikir untuk menimbun terus menerus demi kepentingan diri sendiri. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (Matius 6:31-32).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: