Hidup Bersama

komunitas hidup“Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.” (Kej 9, 9-10) DUA hari ini saya pergi bersama Komunitas Kana ke Bogor. Komunitas Kana merupakan kelompok pasutri yang bertemu secara rutin sebulan sekali untuk saling berbagi pengalaman dan saling meneguhkan dalam membangun kebersamaan hidup dalam keluarga. Bulan ini, pertemuan dibuat di luar kota Purwokerto dengan tema, “Indahnya Bertumbuh Dalam Kebersamaan.” Suami, isteri dan anak-anak hidup dalam kebersamaan dalam sebuah keluarga. Para religius dan imam hidup dalam kebersamaan dengan anggota lain di dalam biara, komunitas hidup bakti atau komunitas pastoran. Guru, siswa dan karyawan hidup dalam kebersamaan di kompleks sekolahan. Karyawan dan pimpinan hidup dalam kebersamaan di kompleks perusahaan. Tiap warga negara hidup dalam kebersamaan dengan masyarakat lain yang berasal dari berbagai macam suku dan latar belakang yang berbeda-beda. “Hidup dalam kebersamaan” merupakan kenyataan yang sejak awal dikehendaki oleh Allah. Manusia pertama hidup dalam kebersamaan dengan hewan, binatang dan ciptaan lain. Nuh hidup dalam kebersamaan dengan anak, cucu dan berbagai binatang dalam kapal yang terapung. Di padang gurun pun Yesus hidup bersama dengan binatang-binatang liar. “Hidup dalam kebersamaan” merupakan kenyataan yang sungguh indah dan membahagiakan. Semua ciptaan bisa hidup bersama. Relasi satu ciptaan dengan yang lain terjada baik. Komunikasi satu ciptaan dengan yang lain tidak ada hambatan. Ciptaan yang satu tidak merasa diancam atau ditekan oleh ciptaan lain. “Hidup dalam kebersamaan” rupanya tidak berlangsung mulus, khususnya setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa. “Hidup dalam kebersamaan” menjadi sulit, karena relasi dan komunikasi terputus, satu ciptaan mengancam yang lain, permusuhan semakin berkembang, rasa aman dan nyaman dalam kehidupan semakin hilang. Suasana seperti ini tidak hanya dialami oleh manusia pertama, tetapi juga dialami oleh anak cucu dan keturunannya. Pada jaman ini pun ada banyak orang yang tetap mengalami kesulitan untuk tumbuh dan berkembang di dalam kebersamaan, entah di dalam keluarga, komunitas religius, pastoran, tempat kerja, di tengah masyarakat. “Indahnya tumbuh dalam kebersamaan” harus dicari dan ditemukan dengan susah payah, ditengah padatnya dan macetnya jalan raya, ditengah sibuknya orang bekerja dan cari nafkah, dibawah tumpukan masalah dan kesulitan hidup, di antara jeritan, tangisan, kepedihan mereka yang sakit dan menderita. Sejauh mana kebersamaan hidup itu sungguh indah bagiku? Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

komunitas hidup

“Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.” (Kej 9, 9-10)

DUA hari ini saya pergi bersama Komunitas Kana ke Bogor. Komunitas Kana merupakan kelompok pasutri yang bertemu secara rutin sebulan sekali untuk saling berbagi pengalaman dan saling meneguhkan dalam membangun kebersamaan hidup dalam keluarga.

Bulan ini, pertemuan dibuat di luar kota Purwokerto dengan tema, “Indahnya Bertumbuh Dalam Kebersamaan.”

Suami, isteri dan anak-anak hidup dalam kebersamaan dalam sebuah keluarga. Para religius dan imam hidup dalam kebersamaan dengan anggota lain di dalam biara, komunitas hidup bakti atau komunitas pastoran. Guru, siswa dan karyawan hidup dalam kebersamaan di kompleks sekolahan. Karyawan dan pimpinan hidup dalam kebersamaan di kompleks perusahaan.

Tiap warga negara hidup dalam kebersamaan dengan masyarakat lain yang berasal dari berbagai macam suku dan latar belakang yang berbeda-beda. “Hidup dalam kebersamaan” merupakan kenyataan yang sejak awal dikehendaki oleh Allah. Manusia pertama hidup dalam kebersamaan dengan hewan, binatang dan ciptaan lain. Nuh hidup dalam kebersamaan dengan anak, cucu dan berbagai binatang dalam kapal yang terapung.

Di padang gurun pun Yesus hidup bersama dengan binatang-binatang liar. “Hidup dalam kebersamaan” merupakan kenyataan yang sungguh indah dan membahagiakan. Semua ciptaan bisa hidup bersama. Relasi satu ciptaan dengan yang lain terjada baik. Komunikasi satu ciptaan dengan yang lain tidak ada hambatan. Ciptaan yang satu tidak merasa diancam atau ditekan oleh ciptaan lain.

“Hidup dalam kebersamaan” rupanya tidak berlangsung mulus, khususnya setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa. “Hidup dalam kebersamaan” menjadi sulit, karena relasi dan komunikasi terputus, satu ciptaan mengancam yang lain, permusuhan semakin berkembang, rasa aman dan nyaman dalam kehidupan semakin hilang.

Suasana seperti ini tidak hanya dialami oleh manusia pertama, tetapi juga dialami oleh anak cucu dan keturunannya. Pada jaman ini pun ada banyak orang yang tetap mengalami kesulitan untuk tumbuh dan berkembang di dalam kebersamaan, entah di dalam keluarga, komunitas religius, pastoran, tempat kerja, di tengah masyarakat.

“Indahnya tumbuh dalam kebersamaan” harus dicari dan ditemukan dengan susah payah, ditengah padatnya dan macetnya jalan raya, ditengah sibuknya orang bekerja dan cari nafkah, dibawah tumpukan masalah dan kesulitan hidup, di antara jeritan, tangisan, kepedihan mereka yang sakit dan menderita. Sejauh mana kebersamaan hidup itu sungguh indah bagiku?

Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply