Hidup Benar di Dunia yang Rusak

Ayat bacaan: Kejadian 6:11-12
=========================
“Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.”

dunia rusak, iman Nuh

Setiap hari ada saja kasus kejahatan atau kekerasan yang terjadi di muka bumi ini. Jika membaca koran saja, kita akan geleng-geleng kepala melihat berbagai berita kriminal yang hadir setiap hari. Dengan berbagai ragamnya, pembunuhan, pencurian, pertikaian, korupsi dan sebagainya akan dengan mudah kita dapati dalam berita-berita di berbagai media. Bayangkan jika seandainya anda berada di posisi Tuhan, yang melihat ciptaan-ciptaanNya yang telah Dia ciptakan dengan penuh kasih bahkan secara istimewa menurut gambar dan rupaNya sendiri, namun bukannya memuliakanNya tapi malah terus menerus mengecewakan diriNya. Tentu menyakitkan bukan? Tidak ada satupun rencana Allah menciptakan manusia untuk tujuan-tujuan yang jahat. Peace on earth, itu yang diinginkan Tuhan, dengan rancangan-rancangan terbaikNya yang telah Dia sediakan bagi setiap kita. Tapi nyatanya, dari masa ke masa manusia terus saja melenceng dari apa yang telah Dia harapkan. Moral terus merosot, terjadi degradasi moral dimana-mana. Ketika di zaman Nuh ini terjadi, zaman sekarang pun kehidupan manusia sama saja seperti di zaman itu, ketika Tuhan memutuskan untuk memusnahkan semua manusia, kecuali Nuh dan keluarganya.

Pada zaman itu kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang manusia sudah sedemikian besar. Alkitab mencatat demikian: “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” (Kejadian 6:11-12). Perhatikan kata rusak dalam petikan ayat di atas diulang sampai 3 kali. Itu menunjukkan bahwa kerusakan di zaman Nuh benar-benar sudah parah. Dari segi moral, perilaku maupun kerohanian, semuanya rusak benar. Betapa kecewanya Tuhan melihat itu semua. Begitu kecewa sehingga Tuhan dikatakan menyesal telah menjadikan manusia. “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (ay 5-6). Namun ternyata ada pengecualian kepada seseorang. Kerusakan yang terjadi secara total itu ternyata tidak terjadi dalam diri Nuh.

Apa yang membuat Nuh berbeda? Alkitab mencatat dengan jelas bahwa “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (ay 8). Dunia boleh rusak, tapi ternyata Nuh tidak ikut-ikutan terseret arus penyesatan dan penyimpangan seperti apa yang terjadi di sekelilingnya. Nuh bisa mendapat kasih karunia di mata Tuhan karena alasan ini: “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (ay 9). Mudahkah bagi Nuh untuk bisa demikian? Pasti tidak. Seperti kita yang hidup di tengah-tengah dunia yang jahat, demikian pula Nuh saat itu hidup ditengah kemerosotan moral dan rohani yang begitu parah. Seperti kita, Nuh pun pasti mengalami saat-saat dimana ia bisa jatuh terseret ke dalam dosa. Namun nyatanya Nuh tetap bisa hidup dengan benar, tetap hidup tidak bercela, bahkan dikatakan bahwa ia hidup bergaul dengan Allah. Hal inilah yang membuat Nuh berbeda dan diganjar kasih karunia oleh Tuhan serta diselamatkan dari bencana air bah.

Nuh berani tampil beda melawan arus dunia. Nuh sadar betul untuk mengambil pilihan hidup taat kepada Tuhan, sebuah standar hidup yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Nuh tahu bahwa ia tidak harus ikut-ikutan terseret arus dunia dengan alasan apapun. Seringkali kita memilih berkompromi terhadap dosa dan mencari pembenaran karena kita terlalu takut untuk disisihkan atau dipinggirkan dari pergaulan, takut dianggap tidak gaul dan sebagainya. Seringkali kita begitu terobsesi kepada kemewahan sehingga menghalalkan segala cara agar bisa memperoleh semuanya. Tapi jika Nuh bisa, dan kita lihat bahwa ia merupakan satu-satunya kepala keluarga yang mendapat kasih karunia Tuhan pada zamannya, mengapa kita tidak? Bukan itu saja, tapi kedekatan Nuh yang bergaul dengan Tuhan secara erat membuatnya memiliki iman yang luar biasa. Jika membaca alkitab sebelum zaman Nuh, tidak ada satupun catatan yang menyatakan bahwa hujan besar pernah turun. Dan pada saat itu, Nuh disuruh membangun sebuah bahtera berukuran sangat besar pada usia lanjut. Nuh diminta untuk membangun sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesuatu yang tidak masuk akal, bertentangan dengan logika dan pasti tidak mudah karena olok-olok atau cemooh pasti setiap hari hadir dari orang-orang yang menertawakan apa yang ia lakukan. Tapi Nuh tidak peduli dengan semua itu. Itu bentuk iman Nuh, yang memilih untuk taat kepada perintah Allah meski apa yang akan terjadi belum dapat dilihat oleh Nuh sama sekali. Penulis Ibrani pun menyinggung hal ini. “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7).

Apa yang dilakukan Nuh adalah sebuah langkah iman, sebuah keputusan untuk taat sepenuhnya kepada Allah tanpa keraguan. Dan ini sejalan pula dengan apa yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Nuh berani memutuskan untuk hidup tidak serupa dengan dunia. Nuh berani menghadapi konsekuensi dibenci, disisihkan atau disingkirkan dari pergaulan di sekelilingnya. Baginya hubungan erat dengan Tuhan adalah jauh lebih penting dari segala kepentingan dunia dan itu keputusan yang membuat Tuhan berkenan unuk menyingkapkan rahasiaNya kepada Nuh. Dari masa ke masa dunia akan selalu menjadi medan yang sulit bagi kita, namun sesulit apapun jangan sampai kita memilih untuk berkompromi dengan berbagai hal yang menyakiti hati Tuhan demi kepentingan duniawi sesaat. Kita bisa belajar dari teladan Nuh dan imannya yang taat. Jadilah orang-orang yang berani tampil beda, yang berani melawan arus dunia, tidak serupa dengan dunia yang cenderung mengecewakan Tuhan. Kasih karunia Allah akan selalu siap dilimpahkan bagi setiap anak-anakNya yang taat menuruti kehendakNya.

Berani hidup tidak serupa dengan dunia akan membawa kita menerima kasih karunia Allah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: