Hidup Adalah Penantian, Berjagalah Menyambut Tuhan

The-Waiting-LoungePW ST. AGUSTINUS, Uskup dan Pujangga Gereja 1Korintus 1:1-9; Mazmur 145:2-7; Matius 24:42-51 “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Matius 24:42) HIDUP kita adalah penantian. Kita menantikan kedatang Tuhan Yesus Kristus. Kedatangan-Nya yang kedua! Mari kita menyambut Dia dengan sukacita, penuh kesadaran dan kewaspadaan, sebab Dia datang dalam waktu […]

The-Waiting-Lounge

PW ST. AGUSTINUS,
Uskup dan Pujangga Gereja
1Korintus 1:1-9; Mazmur 145:2-7; Matius 24:42-51

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Matius 24:42)

HIDUP kita adalah penantian. Kita menantikan kedatang Tuhan Yesus Kristus. Kedatangan-Nya yang kedua! Mari kita menyambut Dia dengan sukacita, penuh kesadaran dan kewaspadaan, sebab Dia datang dalam waktu yang tak kita duga. Kita tidak tahu kapan Dia akan datang!

Tuhan Yesus telah berjanji. Dia akan kembali untuk kepentingan kita. Kapan Dia akan kembali, kita tidak tahu. Yang jelas pada saat itu, kita akan mengalami sukacita dan damai sejahtera, asal kita tetap teguh jaya mengimani Dia.

Kita tak pernah tahu kapan Dia akan datang kembali. Cara terbaik untuk menyambutNya adalah dengan tetap waspada dan berjaga-jaga seperti yang dikehendakiNya.

Yesus bersabda, kedatanganNya akan laksana pencuri di malam hari. Tak seorang pun pencuri yang memberi tahu kapan ia datang dan beraksi. Kita harus tetap dan selalu waspada menjaga dan melindungi harta kita, sepanjang waktu.

Apakah harta kita di hadapanNya yang harus kita jaga sepanjang waktu? Pertama, harta itu adalah Kerajaan Sorga yang ditandai oleh kebenaran, damai, dan sukacita yang tak lain adalah anugerahNya semata. Kedua, harta itu adalah persahabatan kita dengan Yesus sendiri, Putra Allah yang hidup, yang telah memilih kita menjadi sahabat-sahabatNya. Ketiga, harta itu tak lain adalah iman kita kepadaNya. Itulah harta sekaligus rahmat dariNya yang harus kita jaga. Ketiga hal itulah, hemat saya menjadi harta rahmat yang mesti kita jaga agar kita layak menyambut kedatanganNya.

Tuhan Yesus juga menggambarkan kedatanganNya laksana seorang Tuan yang tiba-tiba pulang ke rumah secara tak terduga setelah perjalanan yang panjang. Ia akan datang dan menghadiahi para hambaNya yang setia berjaga-jaga dan waspada menyambutNya.

Makanya, waspadalah dan berjaga-jagalah agar Ia tidak menghukum kita laksana para hamba yang jahat yang tak hanya tidak bertanggungjawab tetapi juga sering lengah dalam karya bahkan menghambur-hamburkan harta titipan Sang Tuan dalam pesta pora. Bahkan. Ia juga menganiaya para hamba lain dengan kekerasan. Mereka ini akan dipecat, dilempar ke luar rumah dan kehilangan pekerjaannya.

Kita diajak untuk belajar waspada dan berjaga-jaga menyambut kedatangan Yesus. Ia akan menghadiahi sebagai hamba yang setia dengan penghargaan, berkat dan kesejahteraan. Sebaliknya, Ia akan menghukum kita laksana para hamba yang tidak setia itu bila kita tidak waspada dan berjaga-jaga dengan melemparkan kita ke dalam penjara kegelapan!

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan satu cara kita bisa waspada dan berjaga-jaga menyambut kedatangan Yesus di tengah-tengah kita. Ia hadir di antara kita dalam Sakramen Mahakudus. Syukur kepada Tuhan yang mempercayakan kepada kita rahmat dan anugerah untuk mengasihiNya dengan setia, taat dan takwa. Kita mengasihi Dia dan sesama seperti mengasihi diri sendiri sebagaimana diajarkanNya kepada kita. Melalui Adorasi Abadi, kita belajar waspada dan berjaga-jaa menyambutNya.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah sumber kebenaran, keindahan, kebaikan, kasih dan kehidupan abadi. Engkau telah menangkap hati kami. Kami persembahkan hati kami kepadaMy. Itulah milikMu. Hanya Engkaulah hartaku, damai dan sukacitaku. Buatlah kami kian kuat mengimaniMu, teguh dalam iman, kuat dalam pengharapan dan bermurah hati dalam kasih. Semoga kami selalu mencariMu dalam segala hal. Buatlah kami tetap waspada dan berjaga-jaga menyambutMu, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply