Herman Yoseph Susmanto Memaknai Meninggalnya Isterinya “Kematian Yang Menakjubkan”(3)

Herman Yoseph Susmanto, penulis buku “Kematian Yang Menakjubkan” memberi pengantar singkat tentang proses dan konten buku pertamanya itu sebelum dirilis publik di Kampus Unika Atma Jaya, Jakarta, Minggu malam (11/3/18). By Diana Lawanto/GOTAUS

DI awal kisah cerita, Herman Yoseph Susmanto sebenarnya tidak pernah punya niatan menulis buku Kematian Yang Menakjubkan dengan ketebalan buku sebanyak 411 halaman plus beberapa halaman tambahan.


Semula, ia hanya ingin membuat catatan-catatan pendek, sederhana, dan ‘biasa-biasa’ saja tentang kenangan hidup bersama isterinya alm. Yustina Monica Amirah. Catatan itu dibuat karena dalam banyak hal, almahum isterinya itu telah berjasa ‘mewarnai’ hidup dan semangatnya selama mengarungi bahtera perkawinan dengan dikaruniai tiga orang anak.


“Awalnya, saya hanya ingin mau mewarisi tulisan tentang ibunya untuk anak-anak,” ungkap Susmanto ketika buku pertamanya yang berjudul Kematian Yang Menakjubkan itu diperkenalkan kepada publik di Kampus Unika Atma Jaya, Minggu (11/3/18) malam.


Ternyata, ketika ia mulai menulis dan kemudian membagikan draf tulisan berupa catatan-catatan pendek itu kepada sejumlah teman dekatnya, maka orientasinya pun lalu berubah.


Obrolan ringan berisi dukungan para pembaca ‘dari kalangan sendiri’ itu menjadi pelecut semangat untuk menulis lebih produktif lagi; menambah khazanah tulisan itu dengan kisah-kisah pribadi dalam konteks pertalian kasih dengan almarhum isterinya.


“Akhirnya, yang terjadi adalah saya tidak bisa berhenti menulis hingga akhirnya berwujud buku Kematian Yang Menakjubkan ini,” pungkasnya.



Merayakan Tiga Hal Penting dalam Buku “Kematian Yang Menakjubkan” Karya Herman Yoseph Susmanto (2)


Catatan pribadi atas proses kreatif menulis buku itu disampaikan Herman Yoseph Susmanto di hadapan ratusan tamu undangan.


Mereka datang dari kalangan keluarga besar Manisrenggo di Klaten-Jateng, aneka lapisan mantan karyawan Bank Sentral Bank Indonesia, umat Katolik Paroki St. Fransiskus Assisi Tebet, kalangan akademisi Atma Jaya, Yayasan Bhumiksara, lingkaran KAJ dan Keuskupan Atambua, para penggiat Bimbingan Hidup Sehat (BHS) dari Kupang dan Jakarta, lalu tak ketinggalan juga Sesawi.Net.


Jangan bicara kematian


Meski mengalami sakit serius kanker serviks, namun Yustina Monica Amirah selalu tampil ceria dan tidak pernah mengeluh sakitnya itu kepada suami dan anak-anaknya. (Dokumentasi Keluarga)

Dukungan sekaligus imbauan dari kalangan sendiri itu juga menyinggung soal judul buku yang dianggap ‘menakutkan’ yakni kematian.


Tentang hal itu, Herman Yoseph Susmanto mengatakan, ada beberapa saran untuk tidak menggunakan kata ‘kematian’.  Namun kata ‘kematian’ itu akhirnya tetap dipertahankan dan digunakan, karena memang begitu adanya.


“Kematian isteri yang saya tuangkan di Bab I dengan judul Memaknai Kematian itu sejatinya menjadi pelecut terbitnya buku ini,” kata Herman Yoseph Susmanto di hadapan audiens hadirin di acara rilis bukunya.


Awalnya, judul Bab I itu adalah Pendahuluan. Namun, sesudah membaca keseluruhan buku tersebut dan menemukan ‘benang merah’ paparan sejarah olah rohani ini, maka Sesawi.Net sebagai editor kedua dan korektor final lalu mengusulkan judul penggantinya.


Agar lebih nges dan kena pada fokus titik refleksi iman kristiani atas ‘peristiwa’ kematian, maka Bab I itu akhirnya mengadopsi judul baru yakni Memaknai Kematian.


Pasutri dalam ikatan Perkawinan Katolik yang tidak terpisahkan kecuali oleh kematian: Herman Yoseph dan isterinya almarhumah Yustina Monica Amirah. (Dok. Keluarga)

Konten buku


Tentang isi Kematian Yang Menakjubkan, Herman Yoseph Susmanto yang mengaku baru pertama kali menulis buku ini mengatakan, tema besar buku itu adalah tentang kisah ‘pertobatannya’ sebagai anak manusia yang tumbuh berkembang menjadi manusia kristiani dengan kedewasaan iman.


“Pada dasarnya, isi seluruh buku itu adalah ‘Kisah Pertobatan’; utamanya ya saya sendiri,” kata Herman Yoseph Susmanto tanpa sungkan.


Menjelang dirilisnya buku itu, sejumlah tampilan kolase foto diperlihatkan kepada publik. Di situ, Herman Yoseph Susmanto menyitir ungkapan kalimat di bawah ini yang menurutnya sangat ‘menohok’ kediriannya dan kemudian menjadikan pijakan dasar untuk bertumbuh-kembang dalam iman kristiani yang semakin dewasa.


Sampul buku “Kematian Yang Menakjubkan” karya Herman Yoseph Susmanto, 411 halaman plus tambahan, terbitan Sesawi.Net, cetakan pertama Februari 2018. (Mathias Hariyadi)

Kalimat itu berbunyi sebagai berikut:

“Kalau kita mau mempersembahkan sesuatu yang paling berkenan bagi Allah, maka persembahkanlah sesuatu yang Dia tidak punya.”“Satu-satunya hal yang Allah tidak punya adalah dosa.”

“Melalui buku ini, saya ingin mempersembahkan dosa dengan perasaan jujur, rendah hati, agar Allah semakin berkenan dengan hidup saya,” kata Herman Yoseph Susmanto.


Para undangan di barisan depan (ki-ka): Harry Tjan Silalahi bersama isterinya (sebelah kiri), Mgr. Ignatius Suharyo, Mgr. Dominikus Saku, dan Herman Yoseph Susmanto – penulis buku “Kematian Yang Menakjubkan”.

Pengalaman keberdosaan


Pertobatan itu mendapatkan legitimasi historisnya, demikian pengakuan Herman Yoseph Susmanto, ketika ia pernah berjumpalitan dalam pengalaman keberdosaan. Terutama, tulisnya dalam sebuah catatan pendek kepada Sesawi.Net, pengalaman dosa yang telah ‘membutakan’ matahatinya.


Almarhum isterinya Yustina Monica Amirah berperan sangat besar ibarat ‘kompas’ yang memberi motivasi, kekuatan moril dan batin, ketika karier dan integritas Herman Yoseph Susmanto diterjang badai firnah dan tuduhan tak berdasar.

Dan itu adalah pengalaman akan keberdosaan itu mewujud dalam sikap dan tingkahlaku keseharian seperti berikut ini:

Keangkuhan itu muncul karena selalu  ‘merasa’ diri telah berhasil dalam karir dan jabatan fungsional dalam dunia pekerjaan perbankan-moneter yang sifatnya high profile.Selalu merasa diri mampu, padahal sejatinya kosong.Merasa diri bisa mengatur dirinya sendiri, padahal nyatanya butuh ‘bimbingan’ dan teladan nyata tentang hidup yang arif itu datang dari isterinya.Berhasil menggapai capaian materi, namun lalu lupa mengurusi hal yang lebih fundamental yakni “urusan dengan Tuhan” perihal hidup keabadian bersama Sang Pencipta.

Dengan demikian, kata Herman Yoseph Susmanto, buku Kematian Yang Menakjubkan itu juga bicara tentang kisah-kisah hidup pribadinya ketika menapaki perjalanan sulit di tengah semak dan duri kehidupan.


Bertobat tak perlu malu


Kemudian, Herman Yoseph Susmanto juga mulai bicara tentang kisah perjalanan pertobatannya.


Penulis buku Herman Yoseph Susmanto memberi pengantar singkat tentang konten bukunya “Kematian Yang Menakjubkan”.

Kepada Sesawi.Net, ia mulai dengan hal ini: Jangan pernah malu untuk bertobat.


“Dengan sadar dan tidak malu, kami ungkap niat dan perjalanan hidup kami selanjutnya untuk dimampukan bisa semakin lebih rendah hati, lebih jujur, lebih berani menahan lapar dan  tidak rakus, lebih menghadirkan kegembiraan, lebih berani tampil sederhana dan apa adanya,” tulisnya kepada Sesawi.Net dua hari sebelum bukunya Kematian Yang Menakjubkan resmi dirilis ke publik.


Hasil pertobatan adalah kelegaan


Mengakhiri pengantar pribadi tentang bukunya yang dirilis, Minggu (11/3/18) malam, Herman Yoseph Susmanto ingin memberi makna atas perjalanan pertobatan itu.


Tiada lain, katanya, adalah datangnya perasaan lega.


Itulah hasil nyata atas olah rohani berupa pertobatan yakni hatinya kini merasakan kelegaan dan plong rasanya.


Herman Yoseph Susmanto bersama anak, menantu dan cucunya sebelum berlangsung Perayaan Ekaristi memperingati 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah di Kapel St. Albertus Magnus Unika Atma Jaya, Jakarta, Minggu 11 Maret 2018.

Kongkretnya seperti ini. Demikian kata Herman Yoseph Susmanto kepada Sesawi.Net.


“Kami lebih bisa merasakan kebebasan, tidak merasa tertekan atau khawatir, muncul kegembiraan dan itu mengalir dalam keluarga, lahir suasana kerukunan dalam pergaulan, pengampunan dan penerimaan ketika terjadi perbedaan, menjadi lebih berani berbagi dan menjadi lebih murah hati.” (Berlanjut)


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: