Here Today, Gone Tomorrow

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 9:31
=====================
“Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”

Tahun lalu seorang penyanyi tiga jaman di kota tempat saya tinggal meninggal dunia. Belum lama saya bertemu dengannya bahkan berkesempatan berbincang-bincang beberapa kali. Meski usianya sudah tua, tapi suara emasnya masih tetap terdengar begitu merdu. Ia pun masih sangat aktif bernyayi di berbagai tempat dengan gaya yang sangat mengingatkan saya pada glamornya Frank Sinatra. Saya pun terkejut ketika mendengar bahwa ia sudah tiada. Sosok seorang ayah atau kakek yang gagah dengan kemampuan bernyanyi yang sangat indah itu pun terbujur kaku. Saya menatapnya dan mengingat penampilan panggungnya yang masih mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penontonnya hanya beberapa minggu sebelumnya. Here today, gone tomorrow. Itulah yang terlintas di benak saya. Tidak peduli seberapa hebatnya kita, siapapun kita, pada suatu saat nanti semua itu akan berakhir. Mau punya jabatan setinggi langit, mau punya kekayaan melimpah bagai air bah, semua itu adalah fana. Pada suatu hari semua akan berakhir, dan tidak ada yang bisa kita lakukan dengan itu.

Ayat bacaan hari ini menuliskan akhir dari kehidupan orang paling kaya dan paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini. Kita tentu tahu bagaimana kekayaan Salomo dan betapa luasnya pengetahuannya dalam hikmat. Tapi pada saatnya, bahkan Salomo sekalipun tidak mampu mencegah akhir perjalanan hidupnya. “Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.” (2 Tawarikh 9:31). Apa yang menarik bagi saya, perikop mengenai mangkatnya Salomo ini hadir persis setelah perikop sebelumnya memaparkan masa-masa kejayaannya lengkap dengan kekayaannya. Mari kita lihat sejenak sedikit saja dari pemaparan itu. “Adapun berat emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta.” (ay 14). 666 talenta itu setara dengan 23.000 kg emas. Itu per tahun. Berapa harga 1 kg emas hari ini? Dan berapa nilainya jika dikalikan 23.000? Dan itu dikatakan belum termasuk yang dibawa oleh para saudagar dan pedagang juga raja-raja Arab dan bupati-bupati di negeri itu. Rangkaian ayat selanjutnya merinci lebih jauh lagi tentang kekayaan Salomo. Tapi di perikop selanjutnya kita kemudian menemukan ayat yang menyatakan dengan sederhana bahwa Salomo kemudian meninggal dan dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Sangatlah menarik bagi saya melihat urutan kedua perikop ini, karena saya merasa seolah penulis 2 Tawarikh ingin menyatakan bahwa betapapun hebatnya seorang manusia, ia tetaplah sosok yang fana. Sehebat dan seluar biasa apapun manusia, pada satu saat semua itu akan ditinggalkan, dan apa yang tinggal hanyalah kenangan.

Melihat sosok penyanyi yang sangat saya kagumi itu terbujur kaku, saya pun menyadari betapa singkatnya hidup ini. Life is really short. Musa berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Tujuh puluh tahun memang relatif. Tapi jelas itu sangat singkat dibanding fase selanjutnya yang  kekal yang menanti kedatangan kita. Apapun itu, apakah kehidupan kekal atau kematian kekal yang penuh siksaan mengerikan akan tergantung dari bagaimana cara kita menyikapi fase saat ini, selagi kesempatan untuk itu masih diberikan kepada kita. Karena itu saya merasa alangkah naif atau bahkan bodohnya jika kita malah sibuk menumpuk harta dengan segala cara bahkan kalau perlu dengan cara-cara curang yang keji dan mengorbankan orang lain. Betapa bodohnya jika kita gila jabatan dan siap menghalalkan segala cara demi itu. Tidak peduli sebanyak apapun kita berhasil memperolehnya, tetap saja pada suatu ketika nanti semua itu ditinggalkan dan tidak akan bisa dibawa untuk berpindah ke fase berikutnya.

Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20). Seberapa jauh kita menyadari hal ini? Apakah kita saat ini masih termasuk orang yang menilai segala sesuatu hanya dari sisi uang atau harta saja, mementingkan sisi materialisme lebih dari segalanya atau tidak? Tuhan Yesus berkata: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (ay 21). Apabila dalam dunia kita mengumpulkan harta dengan menimbun, untuk Kerajaan Surga mengumpulkan harta justru sebaliknya, yaitu dengan memberi. Jika demikian, kita bisa menanyakan diri kita sendiri, apa warna hati kita hari ini, dan kearah mana hati kita menuju?

Maka Musa pun mengatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Kita harus bisa menghitung hari dengan bijaksana karena waktu untuk melakukan itu sesungguhnya singkat. Janganlah tergoda untuk mabuk terhadap harta, jabatan atau hal-hal lain yang sering dipercaya dunia dapat mendatangkan kebahagiaan bagi semua orang. Apalagi jika untuk memperoleh itu semua kita lalu tega untuk melakukan cara-cara keji yang merugikan banyak orang. Tidak satupun dari itu yang abadi. Cepat atau lambat, sooner or later, kita akan meninggalkan itu semua. Apa yang penting untuk kita ingat adalah mengisi setiap detik kehidupan kita dengan hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan kita kelak di fase kekekalan, berbuat sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan, memuliakanNya lewat memberkati banyak orang lain lewat karya-karya kita, dan tidak menyia-nyiakan atu membuang-buang waktu untuk itu. Ketika Tuhan memberkati kita dengan kekayaan, pergunakanlah sebagian dari itu untuk membantu sesama, ketika kita diberikan berkat atas jabatan, muliakanlah Tuhan dengan itu dengan hikmat dan kebijaksanaan yang mencerminkan kita sebagai murid Kristus sejati. Let’s make Him proud with everything we do today and tomorrow!

Mementingkan hal yang fana dan mengabaikan yang kekal merupakan kesalahan fatal yang harus dihindari

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply