Hati Lapang

Ayat bacaan: Kolose 3:23
=================
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

hati lapang

Ada sebuah petuah penting yang selalu diajarkan oleh ayah saya berulang-ulang sejak saya kecil bahkan sampai saat ini. Dia selalu berkata, apa pun keadaannya, jalani dan lakukan semua dengan hati lapang. Waktu kecil saya tidak begitu memahami apa yang ia katakan. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan bahwa yang ia katakan ternyata begitu tinggi nilainya. Ada kalanya dalam bekerja kita tidak selalu memperoleh hasil sesuai dengan yang kita inginkan. Rasanya tidak sebanding dengan usaha, tenaga, pikiran yang kita keluarkan. Disaat demikian kita bisa cepat menjadi lelah, putus asa, kehilangan semangat dan itu akan berakibat pada hasil pekerjaan atau performa kita yang menurun. Semua orang ingin sukses, semua orang ingin berhasil. Apa yang anda anggap penting untuk mencapai sukses? Kenyataannya ada banyak orang mengantungkan dirinya pada hal-hal material untuk mencapai sebuah kesuksesan. Mereka akan langsung menyerah karena merasa bahwa apa yang mereka miliki belumlah cukup untuk bisa menghasilkan sesuatu. Mau buka usaha butuh modal, mau melamar butuh uang dan butuh “backing” dari orang dalam dan sebagainya. Saya tahu bahwa fakta nyata di dunia memang seperti itu, dan ada kalanya kita tidak bisa menghindarinya. Namun jangan lupa bahwa di atas segalanya ada Tuhan yang bisa memakai hal yang paling kecil sekalipun untuk menjadikan sesuatu yang luar biasa. Kita tidak akan pernah bisa mengukur kemampuan Tuhan yang sanggup mengatasi segalanya. Dan sayangnya, jarang sekali hati kita di set untuk menyadari hal itu. Kita terus bergantung pada keadaan dan keterbatasan kita, segala yang kita miliki di dunia ini, dan menganggap hal itu sebagai satu-satunya yang bisa membuat kita sukses.

Alkitab tidaklah menyatakan demikian. Alkitab jelas berkata bahwa hati merupakan sumber kehidupan. Suasana hati dan apa yang dipercaya oleh hati kita merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam pekerjaan maupun kehidupan. Lewat Salomo kita bisa memperoleh sebuah hikmat yang penting: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. The springs of life flow from the heart. Artinya, hati kita akan sangat menentukan perjalanan hidup kita. Hati adalah kunci dan rahasia utama yang bisa memampukan orang untuk bangkit dari kegagalan, dan bertahan dalam kesesakan. Bukan dunia atau keadaan yang menentukan bagaimana kita hari ini, tetapi bagaimana hati kita dalam menyikapinya lah yang sangat menentukan. Maka petuah dari ayah saya pun menjadi sangat signifikan untuk diingat. Tetaplah lakukan dengan hati lapang. Itu membuat saya bisa legawa, bisa terus bersukacita meski apa yang saya peroleh mungkin belum sebanding dengan usaha dan kerja keras yang saya keluarkan,

Perhatikanlah bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang lapang, atau dengan sepenuh hati, keikhlasan dan kerelaan akan sangat berbeda hasilnya dengan pekerjaan yang dilakukan asal-asalan, seadanya tanpa melibatkan hati sama sekali. Adalah penting utnuk melibatkan hati kita dalam bekerja sehingga hasil terbaik akan bisa kita berikan. Tetapi tentu saja hati harus terlebih dahulu dijaga dengan segala kewaspadaan, diarahkan sepenuhnya kepada Tuhan bukan kepada hal-hal duniawi. Hati harus dijaga agar tetap dalam keadaan sejuk, damai, tenang dan penuh pengharapan kepada Tuhan bukan diisi dengan keinginan-keinginan untuk mengejar popularitas, harta dan sebagainya.

Bekerja dengan hati lapang akan membuat kita bisa tetap memiliki antusiasme dan gairah dalam bekerja. Hasil dari pekerjaan akan sangat berbeda ketika kita melakukannya dengan semangat dan antusias dibanding dengan berat hati. Dengan hati lapang juga akan membuat kita tidak gampang bosan dan bisa melakukan tugas-tugas kita tanpa pamrih. Minimnya apresiasi atau penghargaan dari orang lain seringkali mampu membuat kita patah semangat dan berhenti. Apalagi jika lini pekerjaan kita bukan merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh manusia. Dalam bekerja bisa demikian, dalam pelayanan apalagi. Ada banyak orang yang pada mulanya bersemangat melayani Tuhan tetapi pada akhirnya mereka kehilangan gairah dan semangat karena merasa tidak menerima apresiasi yang seimbang dengan usaha yang sudah dilakukannya. Alkitab mengajarkan kita untuk tidak mendasarkan usaha kita kepada apresiasi manusia tetapi justru seharusnya kepada Tuhan. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Bukan mengarahkan kepada manusia, tetapi arahkanlah kepada Tuhan. Meski sedikit sekali atau tidak ada manusia yang menghargai jerih payah anda, itu tidak akan menjadi masalah karena upah yang sejati sesungguhnya bukan berasal dari manusia tetapi dari Tuhan sendiri. Ayat berikutnya dalam Kolose berkata: “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (ay 24).

Apapun yang anda lakukan hari ini, lakukanlah dengan hati lapang. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sikap hati seperti itu akan memberikan dampak yang berbeda terhadap hasil dari pekerjaan kita. Anda tidak perlu kecewa, kehilangan suka cita apalagi harapan meski sedikit sekali orang yang menghargai usaha anda. Segala yang terbaik yang anda lakukan seperti untuk Tuhan, dengan hati lapang tidak akan pernah luput dari pandangan mataNya. Yakinlah bahwa semua telah Dia sediakan dan kita tidak akan kehilangan upah sedikitpun selama kita melakukannya dengan sebaik-baiknya seperti untuk Dia. Karenanya, tetaplah bersukacita dan lakukan semuanya dengan hati lapang.

Dengan atau tanpa hati akan memberi hasil akhir yang berbeda terhadap pekerjaan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: