Hati-hati terhadap Cermin Setan

romo nugroho sjMISA Jumat Pertama Paguyuban Sesawi di tahun 2015 diadakan kembali di Kolese Kanisius (5/2), Menteng, Jakarta. Kali ini misa dipersembahkan oleh Romo Nugroho SJ, Minister Kolese Hermanum/STF Driyarkara Jakarta. Dalam homilinya Romo Nugroho menyampaikan cerita tentang cermin setan. Cerita ini diberikan di ujung homili yang berfokus pada kisah kematian Yohanes Pembaptis di tangan Raja Herodes. Suara hati Herodes sebagai raja yang memiliki kekuasaan sebenarnya menghormati Yohanes Pembaptis sebagai  suara hati yang terus mengingatkannya akan nilai moral dan kebaikan. “Ada kebencian, tetapi juga ada kerinduan,” kata Romo Nugroho. Tetapi hal itu akhirnya dikalahkan oleh kesombongan dan keegoisan Herodes ketika dia dengan jumawa menawarkan hadiah apapun kepada anak Herodias saat pesta tersebut. “Mintalah apa saja,” kata Herodes. Menuruti kisikan ibunya, anak tersebut meminta kepala Yohanes Pembaptis. Maka Herodes dihadapkan pada pilihan berat antara mendengarkan suara hatinya atau mewujudkan janjinya di depan orang banyak dengan membunuh Yohanes Pembaptis yang dia tahu tak punya salah. Tantangan berat itu juga kita hadapi di dunia kita – pilihannya antara berani mengikuti suara hati atau membunuh suara hati tersebut seperti Herodes. Romo Nugroho yang dikenal dengan panggilan Romo Nugie mengajak untuk mengurangi kecenderungan pandangan negatif kita terhadap orang lain. “Mari melihat orang lain dari sisi yang positif,” tukas Romo Nugie. “Jangan sampai kita memungut cermin setan.” Cermin setan Alkisah, setan yang selalu ingin menjatuhkan manusia dan menjauhkannya dari Allah, berhasil menciptakan sebuah cermin petaka. Cermin ini membuat segala yang baik berubah menjadi jelek. Ketika selesai, dengan gembira cermin itu dibawanya. Ketika di jalan, tak sengaja setan melihat dirinya dalam cermin tersebut dan kaget luar biasa. “Kalau yang bagus jadi jelek di cermin tersebut, apalagi yang memang jelek,” tutur Romo Nugie. Karena kaget, cermin itu jatuh dan hancur berkeping-keping. Pecahannya begitu halus dan memenuhi bumi. “Hati-hati, jangan pernah memungut cermin setan tersebut,” pesan Romo Nugie sambil tersenyum di ujung homilinya. Paguyuban Sesawi (Sesama Warga Ignatian) merupakan kumpulan mantan seminaris yang pernah mendapatkan pendidikan Jesuit. Anggota Sesawi terbuka untuk semua frater, mantan pastor dan bruder Jesuit. Sejak akhir 2014 telah berdiri Yayasan Sesawi yang ingin mewujudkan program-program sosial membantu tidak hanya anggota Sesawi tetapi juga masyarakat marjinal. Kredit foto: Royani Lim/Sesawi.Net

romo nugroho sj

MISA Jumat Pertama Paguyuban Sesawi di tahun 2015 diadakan kembali di Kolese Kanisius (5/2), Menteng, Jakarta. Kali ini misa dipersembahkan oleh Romo Nugroho SJ, Minister Kolese Hermanum/STF Driyarkara Jakarta.

Dalam homilinya Romo Nugroho menyampaikan cerita tentang cermin setan. Cerita ini diberikan di ujung homili yang berfokus pada kisah kematian Yohanes Pembaptis di tangan Raja Herodes.

Suara hati
Herodes sebagai raja yang memiliki kekuasaan sebenarnya menghormati Yohanes Pembaptis sebagai  suara hati yang terus mengingatkannya akan nilai moral dan kebaikan. “Ada kebencian, tetapi juga ada kerinduan,” kata Romo Nugroho.

Tetapi hal itu akhirnya dikalahkan oleh kesombongan dan keegoisan Herodes ketika dia dengan jumawa menawarkan hadiah apapun kepada anak Herodias saat pesta tersebut. “Mintalah apa saja,” kata Herodes. Menuruti kisikan ibunya, anak tersebut meminta kepala Yohanes Pembaptis.

Maka Herodes dihadapkan pada pilihan berat antara mendengarkan suara hatinya atau mewujudkan janjinya di depan orang banyak dengan membunuh Yohanes Pembaptis yang dia tahu tak punya salah.

Tantangan berat itu juga kita hadapi di dunia kita – pilihannya antara berani mengikuti suara hati atau membunuh suara hati tersebut seperti Herodes.

Romo Nugroho yang dikenal dengan panggilan Romo Nugie mengajak untuk mengurangi kecenderungan pandangan negatif kita terhadap orang lain. “Mari melihat orang lain dari sisi yang positif,” tukas Romo Nugie. “Jangan sampai kita memungut cermin setan.”

Cermin setan
Alkisah, setan yang selalu ingin menjatuhkan manusia dan menjauhkannya dari Allah, berhasil menciptakan sebuah cermin petaka. Cermin ini membuat segala yang baik berubah menjadi jelek. Ketika selesai, dengan gembira cermin itu dibawanya. Ketika di jalan, tak sengaja setan melihat dirinya dalam cermin tersebut dan kaget luar biasa. “Kalau yang bagus jadi jelek di cermin tersebut, apalagi yang memang jelek,” tutur Romo Nugie.

Karena kaget, cermin itu jatuh dan hancur berkeping-keping. Pecahannya begitu halus dan memenuhi bumi. “Hati-hati, jangan pernah memungut cermin setan tersebut,” pesan Romo Nugie sambil tersenyum di ujung homilinya.

Paguyuban Sesawi (Sesama Warga Ignatian) merupakan kumpulan mantan seminaris yang pernah mendapatkan pendidikan Jesuit. Anggota Sesawi terbuka untuk semua frater, mantan pastor dan bruder Jesuit. Sejak akhir 2014 telah berdiri Yayasan Sesawi yang ingin mewujudkan program-program sosial membantu tidak hanya anggota Sesawi tetapi juga masyarakat marjinal.

Kredit foto: Royani Lim/Sesawi.Net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply