Hati Bapa (1)

Ayat bacaan: Lukas 15:20
=======================
“..Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”

Ada banyak orang yang mengira bahwa ukuran dosanya sudah terlalu berat sehingga pintu surga sudah tertutup selamanya buat mereka meski mereka masih punya kesempatan untuk bertobat. Ada seseorang yang saya kenal memang punya masa lalu yang sangat kelam. Kalau pakai kacamata manusia, sudah terlalu banyak perbuatan buruk yang ia lakukan sehingga ia mendapat penghakiman di dunia. Bahkan menurutnya, ia ditolak untuk berjemaat di gereja di tempat ia tinggal karena sudah mendapat cap buruk tersebut. “Mereka tidak percaya saya bertobat dan menolak memberi saya kesempatan…” katanya lirih. Dan ia mengira bahwa seperti itu pula Tuhan terhadapnya. Ia menangis dan merasa dijauhi semua orang, justru setelah ia mau mulai membenahi hidupnya. Gereja membuang jemaat karena merasa mereka terlalu kotor? Saya berpikir, jangan-jangan seandainya Yesus turun lagi di dunia dan datang ke gereja itu, Yesus pun bisa diusir karena standar yang mereka pakai sudah tidak lagi mempergunakan standar gereja yang seharusnya.

Kita yang berlumur dosa seringkali merasa diri kita compang camping, jijik dan kotor, bagaikan gelandangan yang merasa tidak layak masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Pernahkan anda melihat gelandangan yang diusir keluar agar para tamu yang makan tidak terganggu di dalam? Atau sebuah butik mewah yang segera mengusir pengamen atau pengemis karena dianggap tidak layak menginjakkan kaki di tempat mereka? Bahkan saya pernah mendengar tempat mewah yang menolak tamu dan mempermalukannya karena dikira tidak sanggup berbelanja disana. Tendensi kebanyakan manusia adalah cenderung menghakimi sesamanya. Betapa mudahnya melihat dosa pada diri orang lain sementara untuk menyadari dosa sendiri sulitnya bukan main.

Bahkan Yesus pun pernah menegur sikap seperti ini. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3). Di sisi lain, kita sering merasa terlalu buruk dan tidak layak sama sekali untuk menerima anugerah kasih Tuhan yang luar biasa besarnya itu. Tapi apakah reaksi Allah sama seperti reaksi sebagian orang-orang tersebut?  Kembali kepada cerita tentang seseorang di awal tulisan, apa yang saya bagikan kepadanya akan saya tulis hari ini sebagai bahan renungan. Seperti apa sebenarnya hati Allah yang kita panggil Bapa itu? Apakah Dia punya standar seperti gereja yang mengusir atau sebenarnya bukan seperti itu sama sekali?

Tuhan tidak pernah memilih untuk menjauhi kita, mengabaikan kita dan menolak kita yang datang dengan hancur hati. Justru sebaliknya, Tuhan bergegas untuk mendekati kita, bahkan berlari untuk merangkul dan mencium kita. Dari mana saya bisa yakin seperti itu? Karena hal tersebut jelas tertulis di dalam Alkitab, disampaikan oleh Yesus sendiri, yaitu lewat kisah anak yang hilang (Lukas 15:11-32).

Kisah ini tidak asing lagi bagi kita. Tapi ada baiknya saya berikan lagi saja gambaran ringkasnya. Kita sudah tahu bagaimana sikap si anak durhaka itu yang sungguh keterlaluan. Ia meminta hak warisannya selagi ayahnya masih hidup lalu hidup berfoya-foya. Ia memilih meninggalkan ayahnya dan mengejar segala kenikmatan yang ditawarkan dunia. Apa yang terjadi kemudian adalah kehancuran dalam waktu singkat. Ia menyesal dan memutuskan kembali kepada bapanya walaupun mungkin harus menghadapi resiko diusir atau tidak diakui lagi sebagai anak. Itu ringkasan awal dari perumpamaan yang sangat terkenal ini.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply