Haruskah Melakukan Hal yang Antimainstream?

November 21, 2017Haruskah Melakukan Hal yang Antimainstream? Tano Shirani Catholic Spirituality 0

Gadis kecil. Lugu. Polos. Tiga tahun usianya. Dibawa oleh ayah dan ibunya. Kepada imam di Bait Allah, gadis itu dipersembahkan. Selanjutnya ia bertumbuh dalam rumah Allah. Mengisi hari-harinya dengan menjahit tirai-tirai Bait Allah. Berdoa dan berakar makin kokoh dalam iman. Demikian satu kisah yang pernah ada dan kemudian diingat terus dalam tradisi. Kelak gadis kecil itu dikenal sebagai Bunda Maria.

Melakukan yang Tak Lazim: Antimainstream!

Tunggu sebentar! Bukankah dengan itu Yoakim dan Anna, orang tua Maria, lari dari tanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkan anak mereka? Bukankah itu berarti mengorbankan anak kecil yang masih lugu demi rasa kesalehan orang tua mereka yang ingin berbuat sesuatu yang heroik bagi Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan mereka melakukan itu? Tidakkah Tuhan perduli akan pertumbuhan yang sehat bagi anak itu?


Banyak hal bisa dipertanyakan. Yang jelas, terbuktilah bahwa hal itu adalah sesuatu yang berkenan di hati Tuhan. Kita perlu menempatkan itu dalam konteks budaya dan iman pada masa itu. Mempersembahkan anak agar secara khusus dikuduskan bagi Allah adalah praktik yang lazim dilakukan, dan Allah berkenan akan persembahan yang total semacam itu.


Lalu, bagi kita hari ini, apa artinya? Memang, ada kalanya Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu yang nggak lazim, antimainstream, yang mungkin nggak akan bisa dipahami oleh orang lain, yang bahkan akan membuat kita dinilai sebagai orang bodoh. Namun demikian, belum tentu setiap hasrat untuk melakukan yang antimainstream adalah kehendak Tuhan. Bisa jadi, memang itu adalah tindakan bodoh yang nggak berkenan di hadapan Tuhan.

Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

Tentu masing-masing orang perlu membawa halnya dalam doa dan mendengarkan berbagai masukan dari orang-orang yang tulus. Beberapa patokan bisa dipakai. Pertama, bertanyalah secara jujur apakah dengan melakukan hal yang antimainstream yang kamu duga sebagai kehendak Tuhan itu kamu nggak melarikan diri dari tanggung jawab yang utama yang menjadi bagian dari komitmen hidup yang telah kamu ambil. Kalau kamu seorang anak yang sedang merawat ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan, gagasan untuk menjadi misionaris di desa terpencil di Afrika bisa jadi memang nggak berasal dari Tuhan.


Kedua, bertanyalah secara jujur apakah pengorbanan orang-orang lain akan jauh lebih besar daripada pengorbanan yang kamu persembahkan sebagai akibat dari keputusanmu? Dengan kata lain, cobalah teliti, apakah demi kepuasan rohanimu ada orang lain yang hidupnya selanjutnya menjadi sangat sengsara? Kalau kamu tergerak untuk menjual seluruh hartamu dan pergi melayani orang miskin di pedalaman Papua, sementara seluruh keluarga bergantung padamu, tentu itu bukan kehendak Tuhan. Bukanlah cara bertindak Tuhan untuk memuaskan rasa rohani satu orang di atas penderitaan banyak orang.


Ketiga, cobalah bayangkan sungguh-sungguh, apa yang akan menjadi penyesalanmu di masa depan? Apakah itu penyesalan karena telah bertindak gegabah dan berkeras hati sehingga mengorbankan banyak orang? Atau, itu adalah penyesalan karena kamu nggak pernah punya keberanian untuk mencoba apa yang memang antimainstream dan nggak dipahami? Sering dikatakan, penyesalan karena nggak pernah mencoba akan jauh lebih besar daripada penyesalan karena gagal setelah mencoba.


Semoga tindakan Yoakim dan Anna yang antimainstream terhadap bocah kecil Maria menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk berani melangkah dalam tegangan, mengambil keputusan yang nggak akan pernah sepenuhnya jelas, dan berserah pada Tuhan.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply