Ayat bacaan: Mazmur 32:9
======================
“Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”

Saya memelihara 6 ekor anjing di rumah. Karena semuanya diasuh secara personil sejak kecil, semuanya tergolong sangat patuh. Meski pintu depan terbuka, mereka hanya akan keluar kalau perlu buang air saja dan akan segera kembali kalau sudah selesai. Tidak ada yang mencuri-curi kabur, tidak ada yang berbuat onar saat di dalam rumah. Kalau butuh keluar mereka akan mendatangi saya atau istri untuk minta dibukakan pintu. Ada teman lain yang juga memelihara anjing tapi bermasalah soal ketaaatan peliharaannya. Anjingnya ribut dan tidak menurut saat dimarahi, suka buang air sembarangan di dalam rumah, punya catatan bisa menggigit tamu atau orang yang datang dan kalau lengah sedikit, kaburnya bisa jauh dan susah dicari. Sudah beberapa kali anjingnya hilang, ada yang setelah sehari ketemu, ada pula yang tidak pernah lagi ditemukan. Mau tidak mau, satu-satunya jalan baginya untuk mengendalikan peliharaannya adalah dengan mengikat mereka dengan tali. Kalau tidak diikat atau dikerangkeng ya bisa berabe. Dan dari yang saya lihat sendiri, anjing-anjingnya tidak suka diikat saat dibawa jalan. Mereka sering mogok jalan dan susah untuk dikendalikan. Bisa jadi mereka merasa diperlakukan tidak adil. Padahal itu dilakukan demi kebaikan dirinya sendiri juga, karena ia akan menghadapi banyak bahaya apabila ia dibiarkan lepas kemana-mana sendirian.

Dalam perjalanan kita bersama Tuhan pun sebenarnya sama. Betapa sulitnya bagi kita untuk taat dalam menjalani hidup yang dikaruniai kehendak bebas untuk menentukan jalan kita sendiri. Dibebaskan kita berlaku seenaknya, dan saat diikat oleh peraturan kita merasa seperti dibatasi dan seolah tidak boleh senang-senang. Kita tidak menyadari bahwa sebenarnya itu semua adalah demi kebaikan kita sendiri. Apakah Tuhan senang menyiksa dan mengikat kita? Sama sekali tidak. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot, tapi kita diciptakan sebagai mahluk berakal budi, yang punya kehendak bebas, bahkan diciptakan seperti gambar dan rupaNya sendiri secara begitu istimewa. Dikasihi, dijaga, dilindungi dan diberikan rencana-rencana besarNya termasuk agar kita semua selamat masuk ke dalam kekekalan yang bahagia, tinggal bersama denganNya. Dalam hidup kita diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan-pilihan, dimana setiap pilihan itu akan membawa konsekuensi sendiri. Itu kehendak bebas. Sebuah karunia yang seharusnya kita sikapi dengan penuh rasa syukur dan penghargaan besar lewat ketaatan kita, bukannya diisi dengan berbagai sikap ‘mumpung’ yang kalau tidak hati-hati bukan saja mengecewakan dan menyedihkan hati Tuhan tapi justru merugikan kita sendiri.

Pada suatu kali bangsa Israel mengeluh kepada Mikha. Mereka sepertinya berkeluh kesah bahwa untuk menyenangkan Tuhan itu tampaknya sangatlah sulit. Mereka mengalami banyak teguran bahkan hukuman sepanjang perjalanan mereka dari generasi ke generasi. Mereka merasakan itu bagai tali yang mengekang atau membatasi gerak mereka, bahkan terkadang berfungsi sebagai cambuk penghukum. Tali atau rantai yang mengekang atau menyakitkan bagai cambuk? Itu bukanlah keinginan Tuhan. Lihatlah jawaban Tuhan lewat Mikha. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).

Sebenarnya memang sesederhana itu. It’s that simple. Menurut Tuhan, apa yang dituntut dari kita sebenarnya tidaklah banyak. Ia hanya ingin kita bisa berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itu sudah mampu menyenangkan Tuhan. Itu akan membawa kita untuk menjadi orang-orang yang bebas, tanpa perlu diikat tali sama sekali. He wants us to walk in full obedience with Him, tanpa harus diikat dan dikekang segala. Tuhan akan sangat senang jika Dia tidak lagi perlu mengikat kita untuk menjadi anak-anakNya yang patuh. Tentu tidak ada tali yang perlu disematkan kepada kita jika kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang patuh dan taat bukan? Hal seperti itulah yang Tuhan mau dan yang akan menyenangkan hatiNya.

Dalam Mazmur Daud berkata: “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” (Mazmur 32:9). Kita seharusnya lebih baik dari kuda bukan? Kita diciptakan dengan akal budi yang mampu membedakan mana yang baik dan buruk, sehingga seharusnya kita tidak memerlukan tali kekang agar bisa selamat. Apa yang diinginkan Tuhan adalah seperti ini: “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” (ay 8). Dan pengajaran Tuhan seharusnya bisa kita dapatkan dengan lemah lembut. Tapi kekerasan hati dan kepala kita sebagai manusia seringkali membawa kita untuk harus terlebih dahulu mengalami pengajaran secara keras agar bisa mengerti. Kita sering lebih memilih untuk melalui hukuman terlebih dahulu agar bisa hidup seturut kehendak Tuhan. Hal itu tidak diinginkan Tuhan, tapi jika itu bisa mencegah kita dari kebinasaan, maka itu harus dilakukan, demi kebaikan kita sendiri juga.

Paulus berpesan kepada jemaat Galatia seperti ini: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17). Ada Roh Kudus yang tinggal diam di dalam kita, yang akan selalu siap mengingatkan kita apabila kita melakukan hal yang salah. Lihatlah bahwa pada hakekatnya kita sudah diperlengkapi sedemikian rupa sehingga bentuk-bentuk teguran, cambukan atau hukuman tidak perlu menerpa kita lagi. Apa yang perlu kita lakukan adalah senantiasa hidup oleh Roh dan bukan oleh daging. Kedagingan memang banyak menjanjikan kenikmatan, namun ada banyak jebakan bersembunyi di balik itu semua. Sebuah kehidupan yang dipimpin oleh Roh, dimana Roh Allah yang memegang kendali atas kita, akan membawa kita mampu berjalan sesuai kehendak Allah.

Apakah kita masih membutuhkan tali kekang untuk selamat? Apakah kita masih terus memilih untuk hidup dengan kekerasan hati dan terus merepotkan Tuhan demi keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri? Tuhan akan senang jika kita hidup sebagai anak-anakNya yang bisa dipercaya penuh tanpa harus diikat terlebih dahulu. Tuhan akan senang jika kita bisa taat dan patuh sepenuhnya meski dibiarkan bebas. Apakah kita masih perlu diikat atau dikekang, atau bisa dibiarkan bebas dalam perjalanan bersama Tuhan, semua tergantung keputusan kita. Jika kita bisa patuh dan taat kepada perintahNya, mengimani hidup merdeka sepenuhnya sesuai dengan apa yang dirindukan Tuhan, maka tidak ada tali apapun yang perlu disematkan bagi kita. Lewat Kristus kita telah menjadi orang-orang yang merdeka, hendaklah kita senantiasa mengisinya dengan kepatuhan lewat kesadaran sendiri sepenuhnya.

He is pleased when He doesn’t have to hold our leash anymore

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.