Harta yang Menghancurkan

Ayat bacaan: Lukas 12:20
======================
“Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

harta

Perpecahan di kalangan keluarga bisa bermacam-macam penyebabnya, tetapi yang biasanya menjadi sumber sengketa terbesar adalah masalah harta. Ada begitu banyak pertikaian antar saudara kandung sendiri hanya karena ribut soal pembagian warisan. Belum lama ini saudara-saudara ayah saya sendiri ribut karena ada yang merasa pembagian untuknya tidak adil. Ada yang tiba-tiba merasa masih dihutangi, sementara pihak lainnya merasa tidak punya hutang apa-apa. Maka keributan pun tidak bisa dihindari. Ini punyaku, bukan punyamu. Itulah sepertinya yang ada di benak orang-orang yang terus menghamba kepada harta. Sedikit saja melihat kesempatan mata mereka pun menjadi silau dan ingin meraup semuanya tanpa peduli soal saudaranya sendiri. Sebuah keluarga ternama di sebuah kota di Sumatra pun pernah sampai saling bunuh-bunuhan hanya karena pembagian harta warisan ini. Harta seringkali menjadi penyebab retak atau pecahnya sebuah keluarga besar. Betapa ironis ketika sebuah warisan yang ditinggalkan seharusnya bermanfaat dan menjadi perekat keluarga untuk mengenang orang tua yang meninggal dunia tetapi malah menjadi sumber pertikaian yang tidak jarang sampai berujung maut.

Pada suatu ketika Yesus pernah diminta seseorang untuk menjadi penengah soal sengketa warisan ini yang tercatat dalam Lukas 12:13-21. Lihatlah bagaimana jawaban Yesus. Dia langsung mengacu kepada masalah ketamakan, dan berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15). Yesus pun kemudian memberi sebuah perumpamaan mengenai seorang kaya yang tanahnya berlimpah hasilnya. Begitu melimpahnya sampai ia kemudian merasa bingung dimana harus menyimpan hasil tanahnya. (ay 17). Dia hanya berpikir bagaimana untuk menimbun hartanya sebanyak-banyaknya, membangun lumbung untuk dinikmati sepuas-puasnya kelak. (ay 18-19). Ia lupa bahwa seharusnya ia memiliki tugas untuk membantu saudara-saudaranya yang kesusahan, mempergunakan hartanya untuk kebaikan atas dasar kasih. Dan yang lebih parah, ia melupakan Pemilik yang sebenarnya, yaitu Tuhan. Pikirannya dikuasai soal harta dan bagaimana ia bisa memperoleh sebanyak-banyaknya demi kenyamanan dirinya sendiri. Lihat apa isi hatinya: “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ay 19). Maka perhatikan ayat selanjutnya: “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ay 20).

Kita seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa itu akan mampu membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang kita punya bukanlah milik kita sendiri, tetapi Tuhanlah sesungguhnya Pemilik segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Ayub sendiri sudah mengatakan: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Inilah yang seringkali kita lupakan. Bagi orang-orang yang terpengaruh oleh silaunya harta Yesus memberikan teguran: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Sekaya apapun kita, apalah gunanya jika kita malah kehilangan kesempatan untuk memasuki kehidupan kekal bersama Bapa di Surga? Bisakah kita menyuap Tuhan dengan harta kekayaan kita di dunia ini, meski sebanyak apapun? Tidak. Justru kita akan kehilangan segala kesempatan untuk selamat jika kita terus menghamba kepada harta kekayaan. Ingatlah bahwa Yesus sudah mengingatkan kita untuk menabung bukan di bumi melainkan di Surga. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19-20). Harta yang ditimbun sendiri untuk kepentingan pribadi hanyalah akan sia-sia. Menolong sesama, memakai harta kita untuk memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kepada orang lain, itulah yang sebenarnya harus kita lakukan. Itulah yang bisa membuat kita menabung di surga, meski di dunia mungkin kita akan kehilangan sebagian dari harta yang kita miliki. Tetapi jika itu membuat kita berinvestasi demi masa depan yang kekal kelak, mengapa tidak? Berkelahi dengan orang lain saja sudah salah, apalagi dengan saudara kandung sendiri. Itu jelas-jelas bertentangan dengan yang digariskan Tuhan lewat FirmanNya. Itu jelas akan menghanguskan kesempatan yang telah dibukakan Yesus lewat karya penebusanNya, dan bayangkanlah jika itu yang kita lakukan hanya karena kita silau dengan harta di dunia yang fana ini. Tuhan merupakan pemilik segala sesuatu. Kita hanya mengelola apa yang menjadi milikNya, apa yang dipercayakanNya kepada kita. Apakah itu harta, waktu, tenaga, talenta dan sebagainya, semua itu seharusnya dipergunakan untuk memuliakanNya dan bukan untuk ditimbun demi kepentingan pribadi. Karena itu kelola dan kembangkanlah dengan penuh tanggung jawab, pergunakan untuk menolong saudara-saudara kita yang kesusahan. Kasih seharusnya berada jauh di atas segalanya, jangan korbankan itu hanya karena silau kepada harta.

Kita datang dan pergi tanpa membawa apa-apa, pergunakanlah apa yang ada demi kemuliaanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

1 Comment

Leave a Reply