Harry Tjan Silalahi: Kalau Saja Hari Ini Nyapres, Jokowi Pasti Menang

< ![endif]-->

BICARA soal rawang-penerawangan politik masa depan menjelang Tahun Politik 2014, moderator Romo Benny Susetyo Pr dengan cerdiknya membidik persoalan menarik ini kepada ‘sang guru’, Harry Tjan Silalahi yang sudah makan garam di bidangnya. Melihat realitas politik di DKI Jakarta selama hampir setahun terakhir ini, jelas Harry Tjan merespon ‘bujukan’ Romo Benny, tentulah fokus perhatian orang Indonesia sekarang ini pada satu sosok figur paling populer saat ini: Jokowi.

Menurut pendapat pribadi Harry Tjan Silalahi, kemunculan seorang Jokowi ini fenomenal. Tidak saja dia berhasil membuktikan di hadapan public masyarakat Indonesia bahwa apa yang selama ini selalu dipersepsikan tidak bisa (dikerjakan), namun toh nyatanya dia membuktikan hal itu bisa dikerjakan dan diselesaikan tepat dan indah pada waktunya.

“Penataan kembali Waduk Pluit, meretas urai kemacetan di Tanah Abang dan relokasi para pedagangnya. Nah, itu dia hasil kerja duet yang serasi antara Jokowi dan Ahok dalam menata kembali Jakarta,” ungkap Harry Tjan Silalahi.

Peristiwa Jokowi ini layak dicatat, karena dengan sendirinya telah ‘mematahkan’ sekaligus memutus rantai ‘ketidakberdayaan’ para Gubenur DKI sebelumnya.

“Yang mau saya katakana satu, siapa pun juga –termasuk Jokowi—kalau memang dari sono-nya ingin berbuat sesuatu tanpa pamrih dengan niat lurus demi pengabdian kepada masyarakat, maka ya bisa berhasil juga. Intinya satu, semangat pengabdian itulah yang ditampilkan oleh seorang Jokowi,” kata Harry Tjan.

“Lalu bagaimana dengan elektabilitas Jokowi untuk maju nyapres,” gugat Romo Benny Susetryo, Sekretaris Komisi HAK di KWI.

Jokowi mbangun kota

Tesis dan anti-tesis

Mengikuti alur pikir dialektika Hegel, dengan tangkas Harry Tjan Silalahi mengatakan, Jokowi menjadi sangat populer karena dia muncul sebagai “anti-tesis” dari yang sekarang ini ada: pemerintahan SBY yang menjadi tesisnya.

Ia mengerjakan sesuatu –melalui awalnya jalur blusukan—yang sungguh-sungguh baru; sesuatu ini menjadi ‘anti-tesis’ dari sebuah ‘tesis’ keadaan sosial yang menjadi stagnan karena memang tidak ada ‘sentuhan’ apa-apa dari penguasa.

“Jokowi berkembang menjadi sangat populer, karena dia adalah ‘anti-tesis’ dari semua tesis yang ada,” kata Harry Tjan.

Mari sebut saja beberapa: Jokowi kurus kerempeng vs yang besar, gendut dan tambun. Dia rajin berbuat vs rajin berkata-kata. Dia blusukan vs yang rajin duduk menyendiri mengarang lagu atau mengeluh. Dia berbuat nyata vs suka membuat pernyataan-pernyataan demi sebuah pencitraan public.

Ketika didesak oleh Romo Benny, kira-kira bagaimana dengan elektabilitas Jokowi sebagai cawapres tahun 2014, Harry Tjan dengan gurau menjawab: “Kalau saja hari ini dia nyapres, dia pasti menang!,” jawabnya tangkas.

Photo credit: Gubernur DKI Jakarta Joko “Jokowi” Widodo (Ilustrasi/Kompasiana) dan Jokowi Orang Desa Membangun Kota (Ist)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: