Hari Raya Pentekosta

 HR PENTAKOSTA: Kis 2:1-11; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27;16:12-15

“Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”

Bila kita merasa rikuh, makan saja nasi di tempat. Bila kita sombong dan angkuh, Roh Tuhan tiada tempat”, demikian bunyi salah satu bait pantun karya Bp.Paulus Lion BA. Hari ini adalah Hari Raya Pentakosta. Pentakosta adalah “Hari raya Yahudi yang disebut demikian agak belakangan (abad II SM), karena dirayakan pada hari kelima puluh sesudah Paskah. Ia bertepatan waktunya dengan hari raya ‘tuaian, sebuah hari syukuran pada hari itu, sehabis tujuh pekan (inilah kira-kira waktu penuaian) dipersembahkan ‘hasil pertama bumi’; inilah ‘pesta buah-buah pertama, hari raya ketujuh pekan. Hari itu menjadi kesempatan untuk ‘berziarah ke Yeerusalem’, yang menggemakan dan memahkotai ziarah Paskah. Para nabi akan memandangnya kemudian sebagai peringatan tahunan akan ‘Perjanjian, akan hari pemberian Hukum di Sinai” ( Xavier-Dufour: Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius  1990,  hal 251-252). Bagi kita saat ini Hari Raya Pentakosta adalah pemahkotaan masa Paskah dan novena Roh Kudus, yang kemudian kita akan memasuki masa Biasa dalam tahun Liturgi. Marilah kita renungkan sabda-sabda Tuhan di Hari Raya Pentakosta ini.

Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:7-11)

Sebagaimana kami kutipkan di atas bahwa tradisi perayaan Pentakosta telah dikenangkan cukup lama oleh bangsa Yahudi sebagai syukur dan terima kasih kepada Allah atas panenan atau hasil bumi yang melimpah. Mereka merayakannya di kota suci Yerusalem dan segala suku bangsa yang ada waktu itu datang ke Yerusalem,  berkumpul bersama sebagai saudara dan sahabat. Apa yang dicatat dalam Kisah Para Rasul di atas ini kiranya meneguhkan dan memperdalam syukur dan terima kasih: “Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”, demikian tanggapan aneka suku bangsa atas kesaksian para rasul perihal kisah tentang Penyelamat Dunia, Yesus Kristus.

Selama lima puluh hari kita telah mengenangkan Yesus Kristus, yang telah wafat dan bangkit demi keselamatan dan kebahagiaan seluruh dunia. Kita mempersiapkan Pesta Pentekosta dengan novena Roh Kudus selama sembilan hari dengan dambaan dan harapan menerima anugerah Roh Kudus, sehingga kita hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan atau dorongan Roh Kudus. Hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan atau dorongan Roh Kudus berarti menghayati atau melaksanakan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Marilah keutamaan-keutamaan ini pertama-tama dan terutama kita hayati dengan dan melalui ‘bahasa tubuh’ sehingga suku atau bangsa apapun dengan mudah dapat saling memahami dan berkomunikasi dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati di antara semua suku dan bangsa di dunia ini.

Bagi anggota Gereja atau paguyuban orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pentakosta hari ini juga dihayati sebagai awal berdirinya Gereja, yang satu, katolik dan apostolik. Katolik berarti umum, maka sebagai anggota Gereja Katolik kami harapkan menghayati diri fungsional demi kepentingan atau kesejahteraan umum/bersama, bukan diri sendiri atau kelompok atau golongan, suku dan bangsa sendiri. Dengan kata lain jika kita sungguh menghayati keutamaan sebagai anugerah Roh Kudus dengan dan melalui bahasa tubuh, maka cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun akan difahami dan dimengerti orang lain, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa membangun, memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan sejati.

Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.” (Yoh 16:13-15)

Roh Kudus telah mendatangi kita, maka kita yang beriman kepadaNya diharapkan hidup dan bertindak dalam kebenaran, karena Ia adalah Roh Kebenaran. Hidup dan bertindak dalam kebenaran berarti senantiasa melaksanakan perintah dan sabda Tuhan, dan kita yang beriman kepada Yesus Kristus berarti melaksanakan semua sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil. Marilah kita baca, renungkan, refleksikan dan hayati sabda-sabdaNya setiap hari, dan kiranya kita dapat berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Kalendarium Liturgi sebagaimana saya usahakan setiap hari.

Aneka macam rahmat dan anugerah Allah telah kita terima setiap hari melalui aneka macam kebaikan dan perhatian saudara-saudari kita, maka marilah kita senantiasa hidup dengan penuh syukur. “Saat sukses kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada di dalam rasa bersyukur”, demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Kami berharap rasa bersyukur ini senantiasa dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dengan teladan konkret dari para orangtua, dan kemudian dilanjutkan dan diperdalam serta diperkembangkan di sekolah-sekolah oleh para guru/pendidik bagi para peserta didiknya. 

Sebagai orang beriman kita diharapkan tidak berkata-kata atau bertindak mengikuti keinginan atau kehendak sendiri/pribadi, melainkan sesuai dengan iman kita masing-masing, sehingga dalam semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kami berharap para pemimpin masyarakat, bangsa dan Negara dapat menjadi teladan dalam penghayatan iman, dan di Indonesia masa kini antara lain dengan hidup dan bertindak disiplin serta jujur, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Tindakan korupsi adalah tindakan pembusukan atau perusakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berbau busuk sebagaimana adanya pada saat ini. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi tanpa takut dan gentar, karena dengan rahmat atau anugerah Roh Kudus kita pasti mampu mengalahkan para koruptor; kita dukung para pejuang dan pembela kebenaran-kebenaraan di negeri tercinta ini.

Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN.” (Mzm 104:9bc-31.34)

Ign 27 Mei 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: