Ayat bacaaan: Ibrani 3:13
==================
“Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.”

Waktu sehari ada 24 jam, sebulan sekitar 30-31 hari dengan pengecualian bulan Februari yang hanya 28 hari dan 29 hari setiap empat tahun sekali. Tapi secara garis besar, masa atau jalannya waktu dibagi atas tiga bagian yaitu masa lalu (past), masa kini (present) dan masa yang akan datang (future). Setiap detik yang kita lewati menjadi past, yang sedang kita jalani itu present, sedang yang belum kita masuki disebut future. Ada pula yang membaginya dengan kemarin (yesterday), hari ini (today) dan esok hari (tomorrow). Tiga bagian sederhana tapi menarik untuk kita cermati. Kita tidak bisa mengulang masa lalu. Sekali terlewat, maka tidak lagi hal yang bisa kita ubah. Kita tidak bisa memutar balik jam untuk kembali ke masa lalu. What’s done is done. We can never turn back the clock and repeat something that has happened in the past. Sementara untuk masa depan, tidak satupun kita yang bisa tahu apa yang akan terjadi disana. Memprediksi bisa, tetapi tidak akan pernah mengetahuinya secara pasti. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik lagi. Satu-satunya masa yang bisa kita isi dengan melakukan yang terbaik adalah saat ini. Today, at present time, right now, the very hour, minutes or seconds we are at. Kita tidak bisa mundur ke waktu yang sudah berlalu dan memperbaikinya, tetapi kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat di masa lalu dengan perubahan ke arah yang lebih baik yang kita lakukan hari ini. Dan apa yang kita putuskan atau lakukan hari ini akan sangat mempengaruhi seperti apa kita kelak di masa depan.

Dengan kata lain, waktu saat ini yang sedang kita jalani sangatlah penting dan menentukan arah kita, kemana kita akan menuju. Firman Tuhan yang saya pakai sebagai ayat bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya memperhatikan baik-baik segala sesuatu yang sedang kita jalani sekarang. “Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” (Ibrani 3:13). Betapa pentingnya pesan ini yang mengingatkan kita agar tidak menutup mata ketika melihat ada orang-orang yang masih sesat, termasuk pula untuk diri sendiri. Kita tidak boleh menutup mata terhadap diri kita sendiri dengan terus memberi toleransi kepada dosa untuk terus menggerogoti kita. Di satu sisi kita perlu mengingatkan orang yang tersesat, disisi lain kita sendiri pun pasti masih membutuhkan nasihat, teguran atau peringatan dari orang lain yang dekat dengan kita. Jika mereka menutup mata dan membiarkan kita tersesat, bukankah kita sendiri yang rugi? Begitu pula saudara-saudari kita yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan membutuhkan orang yang mau mengingatkan mereka, dan itu menjadi tugas kita. Sebuah panggilan untuk menjadi terang dan garam bukan saja berarti bahwa kita harus berbuat baik dalam hidup kita, tetapi termasuk pula di dalamnya untuk menerapkan prinsip “saling”, saling mengingatkan, saling menasihati dan saling mendukung atau membantu.

Perhatikanlah bahwa Penulis Ibrani menekankan kata “HARI INI”. Mengapa sang Penulis memberi penekanan pada kata itu? Jawabannya jelas, karena kita semua tidak akan pernah tahu kapan waktu dan kesempatan kita berakhir. Bisa puluhan tahun lagi, bisa beberapa tahun lagi, beberapa bulan, beberapa hari, atau bahkan bukan tidak mungkin pula ini hari terakhir kita di muka bumi. Pemazmur mengakui dan berkata “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.” (Mazmur 31:16). Panjang pendeknya usia kita memang ada dalam tangan Tuhan. Menyia-nyiakan waktu yang masih ada untuk membawa yang sesat kembali ke jalan Tuhan akan membuat kita melewatkan sebuah kesempatan untuk memenuhi tugas sesuai panggilan kita di bumi ini. HARI INI mungkin merupakan kesempatan terakhir kita untuk memperoleh pengampunan Tuhan, atau jika kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, hari ini bisa menjadi kesempatan terakhir kita untuk membagikan kasih dan keselamatan yang telah dihadiahkan Tuhan kepada saudara-saudari kita, orang-orang terdekat dan yang kita kasihi. Dan keputusan ada di tangan kita.

Selalu ada seribu satu alasan yang bisa kita kemukakan untuk menghindari seruan Tuhan ini. Mungkin kita merasa segan, merasa tidak cukup bisa, tidak berani, tidak tahu caranya atau merasa itu bukan tugas kita. Rasa individualisme dan ego manusia semakin lama semakin menebal. Untuk menolong orang yang jelas-jelas menangis di depan kita saja sudah semakin sulit, apalagi untuk mengingatkan orang yang masih berada dalam situasi tersesat. Di sekeliling kita ada banyak orang yang masih tenggelam dalam jerat-jerat dosa. Waktu mereka sama seperti kita, tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan pastinya kita dipanggil pulang. Kita cenderung menunggu sampai orang lain yang menghampiri dan mengingatkan mereka, kita cenderung berdiam diri, tetapi tidakkah kita sadari bahwa kita pun sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk itu?

Tuhan Yesus sendiri sebenarnya telah mengingatkan agar kita bisa menghargai waktu yang ada dan memakainya semaksimal mungkin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dibebankan kepada kita. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Ada waktu dimana kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa, oleh karena itulah kita harus bisa mempergunakan waktu dengan semaksimal mungkin. Yakobus juga mengingatkan kita akan singkatnya masa hidup kita. “sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:14). Musa menyadari betul akan hal itu, sehingga ia berkata dalam doanya: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12).

Jika ada kesempatan yang masih diberikan Tuhan hari ini, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk menasihati orang lain, marilah kita mempergunakan waktu dan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan, jangan tunda lagi. Mari kita periksa diri kita lalu memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Bukan besok, bukan nanti, bukan kapan-kapan, tetapi mulailah lakukan hari ini juga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi kemudian.

Hargai waktu yang diberikan Tuhan dengan memanfaatkannya semaksimal mungkin

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.